Oleh: Syamsul Bahri — Kepala MTs Al-Hidayah Toboali

Tentu kita pernah berjumpa seseorang yang sudah lama merantau dari kampung halaman berubah drastis dalam berbicara. Walaupun tidak banyak tapi fenomena seperti itu pasti kita temukan. Semisal dalam hal berbicara. Jika sebelum pergi dari kampung halaman percakapan menggunakan bahasa daerah yang sangat kental, namun setelah sekian lama menghilang dari kampung halaman dan kembali lagi gaya bicaranya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Hal demikian akan membuat kita menjadi gerah dan tidak nyaman.

Banyak faktor yang membuat orang seperti itu melupakan bahasa lahirnya atau bahasa ibunya. Terkadang orang seperti itu merasa bangga dengan bahasa baru yang diterapkannya. Ia merasa bahasa awal waktu pertama didapatnya di kampung halaman sudah kuno dan tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman. Atau mungkin juga ia sudah terkontaminasi dengan bahasa yang didapatnya waktu merantau. Atau juga ia merasa lebih keren jika menggunakan bahasa asing tersebut.

Baca Juga  Menajamkan Regulasi Perlindungan Guru

Padahal bahasa yang pertama kali dipelajari dan dipahami secara alamiah oleh seorang anak adalah bahasa ibu. Dalam konteks Indonesia, bahasa ibu selalu mengarah pada bahasa daerah tertentu (bahasa lokal). Menurut KBBI, bahasa ibu didefinisikan sebagai bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Bahasa ini menjadi identitas, warisan budaya, dan jati diri yang diperoleh selama masa kanak-kanak.

Dan jika kita membaca sejarah, justru banyak orang-orang yang sukses bangga dengan bahasa ibu atau bahasa daerahnya masing-masing. Walaupun mereka sudah melanglang buana dan menguasai berbagai bahasa internasional, tapi ketika kembali ke habitatnya di kampung halaman, mereka tetap bangga menggunakan bahasa asalnya. Bahkan ada sebagian dari mereka yang memperkenalkan bahasa ibunya ke dunia internasional.

Baca Juga  Mewujudkan Pangkalpinang sebagai Destinasi Wisata Kuliner di Indonesia Berbasis Toponimi dan Green City  

Beberapa tokoh sukses di Indonesia yang konsisten melestarikan bahasa ibu antara lain Beiby Sumanti, pendiri Sanggar Bapontar, yang menggunakan bahasa Manado dalam keseharian di perantauan, serta Tabenak Withen Kolago, aktivis yang menulis kamus dan buku pelajaran berbahasa daerah di Papua. Tokoh lainnya termasuk inisiator budaya dan pejabat yang mendukung revitalisasi bahasa daerah.

Selanjutnya Beiby Sumanti (Tokoh Musik/Aktivis) yang merantau ke Jakarta sejak 1979, ia tetap aktif berbahasa Manado dan mendirikan Sanggar Bapontar sebagai wadah budaya. Tabenak Withen Kolago (Aktivis Pendidikan) yang menulis buku pelajaran, termasuk matematika dalam bahasa daerah, untuk mempermudah pemahaman siswa di Papua Pegunungan. Dan Franka Nadiem Makarim (Tokoh Pendidikan),  sebagai “Bunda Bahasa Ibu”, ia gencar mengajak keluarga dan masyarakat merawat bahasa daerah sebagai identitas bangsa. (Kompas.id)

Baca Juga  Karate, Olahraga Primadona di Era Modern