Petaka di Balik Mangkok Kencana

Oleh: Kaum Pecinta Damai

Di Kerajaan Durja, bertahtalah Raja Batok yang memiliki kegemaran unik: ia sangat mencintai tepuk tangan.

Baginya, sorak-sorai rakyat adalah musik paling merdu, lebih indah daripada denting kecapi para selir istana. Suatu pagi, setelah melihat laporan tentang menurunnya tingkat kepopulerannya akibat kenaikan harga gandum, sang raja memanggil seluruh penasihatnya.

“Aku ingin sebuah program yang membuat seluruh rakyat bersujud syukur dan menyebut namaku di setiap tarikan napas mereka,” titah Raja Batok sambil mengelus janggutnya yang berminyak.

Seorang menteri yang licik, maju mendekat. “Baginda, buatlah mereka bergantung sepenuhnya pada tanganmu. Hapuskan pasar, tutup dapur-dapur di rumah mereka, dan umumkanlah bahwa mulai besok, kerajaan akan memberi makan gratis tiga kali sehari bagi setiap nyawa di Kerajaan Durja.”

Baca Juga  Retak yang Menanti Pulang

Raja Batok terkesima. “Luar biasa! Kita namakan program ini: Nampan Kemurahan Raja.”

***

Esok harinya, genderang perang ditabuh bukan untuk memanggil prajurit, melainkan untuk memanggil rakyat ke alun-alun. Maklumat dibacakan. Rakyat bersorak histeris. Siapa yang tidak senang diberi makan tanpa harus memeras keringat di sawah? Namun, kebahagiaan itu adalah awal dari rantai yang mencekik.

Satu bulan pertama, program berjalan lancar. Namun, ekonomi kerajaan mulai goyah. Untuk membiayai jutaan porsi makanan setiap hari, Raja Batok menaikkan pajak tanah dan air hingga ke titik yang tidak masuk akal. Petani yang awalnya senang karena tak perlu memasak, kini menangis karena sawah mereka disita sebagai kompensasi biaya makan gratis tersebut.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

Kemandirian rakyat dihancurkan secara sistematis. Karena semua orang makan dari dapur pusat, para pedagang sayur bangkrut, pembuat bumbu kehilangan mata pencaharian, dan pasar-pasar tradisional berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Rakyat Durja kini tak ubahnya seperti burung dalam sangkar emas; mereka diberi makan, tapi sayap mereka dipatahkan.

***

Bencana sesungguhnya muncul saat pundi-pundi emas istana mulai menipis. Menteri dan para pejabat dapur umum mulai memutar otak untuk tetap mempertahankan program tanpa mengurangi jatah kantong pribadi mereka.