Mimpi Warisan
Oleh: Syabaharza
Pagi itu Warisan duduk bersama istri tercintanya. Dengan hanya memakai kaos oblong dan sarung senada dengan koasnya Warisan ditemani istri tercintanya duduk santai di ruang tamu rumah sederhananya. Sepiring singkong dari kebun sendiri selalu setia menemani pasangan yang tidak dikaruniai keturunan itu. Namun suami istri itu tetap bersyukur dengan keadaan, mereka yakin semua itu adalah takdir dari sang pencipta. Semilir angin pagi itu menerbangkan asap dari singkong yang baru saja diangkat dari periuk. Dua gelas air putih yang tinggal setengah juga menemapi mereka.
Sudah dua hari ini Warisan dan istri dilanda perasaan sedikit cemas. Pemberitaan di televisi tentang adanya regulasi keberangkatan haji penyebabnya. Usulan yang menurut mereka sedikit aneh itu seolah akan menutup peluang mereka untuk bisa menunaikan salah satu rukun Islam yang didambakan oleh setiap orang. Walau baru gagasan, namun ide yang disampaikan itu sungguh melahirkan rasa pesimistis bagi Warisan dan istri. Betapa tidak, jika ide itu benar-benar direalisasikan maka orang-orang seperti mereka sudah dipastikan akan tersingkir, karena menurut mereka regulasi terbaru itu jelas akan menguntungkan bagi mereka yang mempunyai kekayaan melimpah.
Awalnya Warisan dan istri sebenarnya belum mafhum betul dengan istilah yang dilontarkan oleh kementerian yang mewakili pemerintah itu. Ya…bagi Warisan dan istri mendengar kata war tiket saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi sampai harus memahami mekanismenya. Setahu mereka urutan jika hendak melaksanakan ibadah haji mendaftar, membayar uang pertama kemudian menunggu antrian dan membayar pelunasan ketika sudah saatnya akan berangkat. Namun setelah mereka mendapatkan penjelasan dari tetangga yang bekerja di kantor pemerintahan terkait war tiket untuk jemaah haji, barulah timbul kecemasan melanda mereka. Karena dari penjelasan tersebut mereka menyimpulkan bahwa mekanismenya nanti hampir sama seperti orang membeli tiket konser, artinya tiket keberangkatan haji akan diperjualbelikan dengan bebas.
Di sinilah kepasrahan Warisan dan istri menjelma. Mereka tidak yakin bisa bersaing dengan orang-orang yang berduit jika harus membeli tiket berangkat haji. Sedangkan untuk hidup sehari-hari saja mereka mengandalkan hasil kebun singkong. Uang untuk mendaftar haji itu saja mereka kumpulkan selama bertahun-tahun. Harapan untuk berangkat ke baitullah sebenarnya sudah di depan mata, karena masa tunggu mereka untuk berangkat tinggal satu tahun lagi. Dan mereka pun sebenarnya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk dibawa saat berangkat nanti.
*****
“Sepertinya kita harus bersabar lagi, Bu.”
Malam itu Warisan berbicara kepada istrinya dengan nada pesimis.
“Iya pak, mau bagaimana lagi, kita hanya rakyat biasa.”
“Seandainya kita memiliki kekayaan seperti para pejabat itu, Bu.”
“Kenapa pak?”
“Ya..pasti kita bisa berangkat.”
Sang istri manggut-manggut, seolah membenarkan apa yang dikatakan suaminya.
Sang istri mendekatkan diri dengan suaminya sambil menyodorkan panganan andalan mereka, singkong rebus yang masih berasap.
“Mungkin ini semua ada hikmahnya, Pak.”
Sambil memegang pundak suaminya, sang istri berusaha menenangkan.
“Mungkin jika kita diberi kekayaan yang berlimpah, kita bisa jauh dari sang pencipta, kita jadi sombong.”
Sang istri terus berusaha memberikan kedamaian kepada sang suami sambil mengambilkan sebongkah singkong untuk diberikan kepada sang suami.
Warisan menerima dengan senang singkong yang diberikan oleh sang istri. Tampak betul ketulusan sang istri melayani suaminya. Digigitnya ujung singkong itu kemudian dikunyah dengan penuh kenikmatan.
“Siapa tahu Allah menakdirkan kita seperti ini justru untuk menyelamatkan kita, Pak”
“Menyelamatkan kita, Bu?”
Warisan sedikit agak heran dengan pernyataan istrinya.
“Iya Pak, takutnya kalau kita dijadikan pejabat justru menjerumuskan kita”
“Karena banyak lho pak, pejabat yang terseret kasus hukum karena jabatannya”
“Jadi, kita syukuri saja keadaan kita sekarang”
Mendengar perkataan istrinya yang masuk logika itu, Warisan sangat kagum dan bangga memiliki seorang istri yang seperti itu.
Ia kembali menggigit singkong yang ada di tangannya, kali ini gigitannya agak besar sehingga singkong yang ada di tangnnya tinggal sepertiga saja. Jika dimasukkan ke mulut kembali cukup sekali suap saja.
“Tapi, ibu tidak kecewa kan jika kita belum bisa berangkat tahun ini?”
Warisan kembali bertanya dengan penuh hati-hati, sambil menghabiskan singkong yang ada di mulutnya.
“Ya tidak apa-apa pak, nanti kalau saatnya tiba dan Allah mengizinkan pasti kita berangkat.”
Senyum tipis tersungging dari bibir istri Warisan. Senyum yang membuat Warisan sedikit lega. Setidaknya jawaban dari istrinya itu cukup mengurangi bebannya.
“Mudah-mudahan ide itu tidak terjadi ya, Bu”
“Aamiin ya Robbal Aalamiin.”
*****
Dua hari setelah perbincangannya dengan sang istri tempo hari, pagi itu Warisan bergegas menuju kantor yang mengurusi keberangkatan haji. Warisan hendak mencari informasi terbaru terkait dengan regulasi keberangkatan jemaah haji. Hal itu dilakukan agar ia segera mendapatkan kepastian. Apakah ia dan istri masih bisa berharap dengan regulasi yang lama atau harus rela menerima regulasi yang baru. Jika tetap memakai regulasi yang lama, maka ia dan istrinya dijadwalkan berangkat tahun depan, namun jika regulasi yang terbaru dipakai maka ia dan istri harus mengubur dahulu mimpi untuk hadir di kota suci.
Warisan sudah tiba di sebuah kantor yang bisa dibilang juga sederhana. Setidaknya jika dibandingkan dengan kantor-kantor lain di sebelahnya. Kantor itu hanya satu tingkat dengan ukuran seala kadarnya, sangat kontras jika melihat kantor di sebelahnya yang megah dan penuh dengan hiasan. Keadaan itu sudah lama diketahui Warisan. Gedung yang dikunjunginya tidak berubah, sama seperti pertama ia mendaftar untuk menunaikan ibadah haji. Jika pun ada perubahan hanya sebagian kecil sudut-sudutnya saja. Artinya sudah hampir dua puluh tahun gedung itu tidak ada renovasi berat. Sedangkan gedung-gedung di sekitarnya sudah cantik mempesona.
“Kami juga belum dapat penjelasan terkait aturan terbaru itu, Pak”
Seorang pegawai laki-laki berseragam putih, berkopiah hitam memberikan penjelasan kepada Warisan.
“Aturan itu sedang digodok di pusat.”
Pegawai itu terus menjelaskan, sementara Warisan hanya manggut-manggut.
“Kalau pun diterapkan, mudah-mudahan tidak menghalangi jemaah yang sudah lama menunggu, seperti Bapak.”
