Saatnya Pelabuhan Pangkalbalam Menjemput Laut Dalam
Oleh: Heri Suheri, C.IJ., C.PW., CA-HNR., C.FLS.
Terletak di koordinat 02°05’59,04” LS dan 106°07’48,66” BT, Pelabuhan Pangkalbalam adalah nadi logistik Kepulauan Bangka Belitung. Dari sinilah lada, karet, timah, kelapa sawit, ikan, dan komoditas lainnya berangkat ke pasar nasional maupun global, begitupun barang yang masuk ke Babel. Denyut nadi itu harus terus berkembang, tidak tersendat, dan kapasitasnya harus memadai.
Tata kelolanya harus sejalan dengan laju ekonomi regional, dan global, serta selaras dengan ekosistem kepulauan. Transformasi menjadi pelabuhan representatif bukan lagi wacana. Ini kebutuhan struktural mendesak yang berbasis bukti ilmiah dan prinsip keberlanjutan.
Mari lihat datanya, Laporan Tahunan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Pangkalbalam, (2022). Wilayah dan Prasarana Pelabuhan yaitu untuk mencapai dermaga umum, kapal harus menyusuri alur sepanjang 3,5 mil laut dari outer buoy. Masalahnya, kedalaman alur hanya 3 meter pada surut terendah atau LWS [Low Water Spring], dengan lebar 60 meter dan dasar lumpur berpasir yang cepat mendangkal.
Data Pasang Surut & Gelombang dari Badan Informasi Geospasial. (2023). Peta pasut BIG menunjukkan perairan Bangka bagian timur termasuk tipe campuran condong harian ganda. Prediksi Pasang Surut Kepulauan Bangka Belitung, menyebutkan Karakter perairan Bangka Belitung berbeda dengan daerah lainnya.
Tipe pasang surutnya diurnal, dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, tetapi tinggi dan waktunya berbeda. Saat musim timur, selisihnya ekstrem. Air bisa naik 0,8 meter ketika pasang, lalu anjlok ke -0,9 meter saat surut. Tinggi gelombang di perairan sekitar berkisar 0,6 hingga 1,25 meter.
Kondisi itu membuat kapal di atas 5.000 DWT sangat sulit dan risiko untuk masuk. Ditambah lagi, ruang olah gerak kapal terhambat Jembatan Emas di kiri, kanan, dan atas. “Ini beberapa hal di antaranya yang menyebabkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan ketika membawa barang ke Pangkalpinang dibanding wilayah lain,” contohnya, komoditas Babel harus transit Tanjung Priok sebelum ekspor. Double handling ini menaikkan biaya logistik estimasi 18-25%. Harga lada dan karet, dan komoditas lainnya kalah bersaing, padahal kualitasnya unggul.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan. (2019), Karakteristik Sedimentasi dan Hidro-Oseanografi Teluk Kelabat, Bangka, Bandung: Badan Litbang KKP, menyebutkan laju sedimentasi Sungai Baturusa mencapai 80-120 cm per tahun. Artinya, dapat dilihat juga biaya pengerukan akan abadi dan memaksakan ekspansi di lokasi eksisting sama dengan melawan alam.
Estimasi maintenance dredging secara umum menembus Rp120 miliar tiap tahun. Itu belum menghitung dampaknya seperti kekeruhan tinggi mematikan lamun di sekitarnya, banjir rob di semakin parah, dan truk kontainer terus makin banyak dengan kapasitas jalan terbatas tentunya akan meningkatkan kemacetan di Jl. Yos Sudarso. Memperbesar pelabuhan di muara dangkal jelas tidak sejalan dengan prinsip daya dukung yang diamanatkan PP 26/2025.
Karena itu, opsi yang lebih rasional adalah new port, yaitu [pelabuhan maju ke tengah laut] dengan causeway 5-7 km yang terhubung ke darat. Konsep offshore port ini bukan hal baru. Patimban, Kuala Tanjung, hingga Tuas Mega port Singapore sudah membuktikan.
