Oleh: Mersilena — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Indonesia sering kali merasa bangga sebagai negara agraris dengan tanah yang subur dan area lahan yang luas. Di balik cerita tentang kesuburan, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang bertolak belakang: para petani kita, yang merupakan pilar utama dalam penyediaan pangan nasional, sering kali berada di posisi ekonomi yang paling rendah.

Akhir-akhir ini, istilah “hilirisasi” banyak dibicarakan di berbagai bidang, termasuk pertanian, sebagai solusi yang efektif untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal. Namun, di balik janji manis dari pertumbuhan ekonomi ini, ada pertanyaan penting yang sering diabaikan, yaitu siapa yang sebenarnya akan merasakan manfaat dari pertumbuhan ini?

Baca Juga  Pawai Kemerdekaan: Antara Hujan, Kreativitas, dan Semangat yang Tak Padam

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan dengan jelas bahwa sebagian besar petani di Indonesia adalah petani kecil yang memiliki lahan kurang dari setengah hektar. Sementara itu, kebijakan hilirisasi yang sedang dibuat sekarang biasanya memerlukan investasi besar, teknologi canggih, dan infrastruktur yang sangat besar.

Saat akses ke industri pengolahan berkembang lebih cepat daripada kemampuan petani lokal untuk beradaptasi, yang terjadi bukan hanya kemajuan di industri, tetapi juga potensi untuk semakin terpinggirkannya para petani kecil. Hilirisasi pertanian bisa membuat petani kita hanya jadi penonton di tanah yang mereka miliki.

“Saat nilai tambah industri meningkat pesat, hasil kerja keras petani di ladang justru dihargai semakin rendah.”

Baca Juga  Sawah Tanpa Pewaris: Krisis Regenerasi Petani dan Masa Depan Pangan Indonesia

Tanpa kita sadari, rantai pasok digital dan penguasaan korporasi di bidang pertanian sekarang mulai mengalihkan kontrol harga dari produsen ke tangan para pemilik modal. Kita sering menemukan produk pertanian yang sudah diolah dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi di supermarket modern, sementara harga gabah atau bahan mentah yang diterima petani tetap ditekan serendah mungkin.

Kita merasa bangga dengan perkembangan industri makanan, tetapi penumpukan ketidakadilan struktural ini bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan regenerasi petani lokal. Ekosistem hilirisasi sekarang ini tidak hanya membuat pemrosesan produk jadi lebih mudah, tetapi juga secara tidak langsung mendorong penggabungan lahan dan dominasi pasar oleh perusahaan besar.

Baca Juga  Dinamika Politik Pangan dalam Program MBG: Keseimbangan Nutrisi dan Agenda Agribisnis

Insentif investasi, kemudahan dalam pengurusan izin, dan fasilitas yang terus diberikan pemerintah kepada para investor besar bukan hanya sebagai dorongan ekonomi, tetapi juga sebagai strategi yang membentuk wajah agribisnis. Petani kecil tidak hanya terpinggirkan dari proses pengolahan, tetapi juga diarahkan untuk terus bergantung pada pasokan bahan dan jalur distribusi yang dikuasai oleh perusahaan besar.