Oleh: Liza – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta sektor pertanian yang berperan sebagai penunjang kehidupan masyarakat. Sejak masa lampau, pertanian telah menjadi bagian yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi nasional karena mampu menyediakan kebutuhan pangan, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga stabilitas sosial di wilayah pedesaan.

Akan tetapi, di balik besarnya potensi pertanian yang dimiliki tersebut, Indonesia masih kerap melakukan impor pangan, terutama beras. Kebijakan impor ini selalu memunculkan perdebatan karena dipandang sebagai solusi cepat untuk menjaga ketersediaan pangan nasional, namun pada sisi lain justru menyebabkan petani lokal semakin terpinggirkan.

Pemerintah umumnya berpendapat bahwa impor beras diperlukan guna menjaga cadangan pangan serta menstabilkan harga di pasar. Saat produksi dalam negeri menurun akibat faktor cuaca, gagal panen, maupun gangguan distribusi, impor dianggap sebagai langkah cepat agar masyarakat tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau.

Baca Juga  KPU Bakal Sosialisasikan Dapil dan Alokasi Kursi DPRD se Bangka Belitung di Pemilu 2024

Dari sudut pandang ekonomi makro, kebijakan tersebut memang tampak rasional karena pemerintah berupaya menghindari inflasi pangan yang berpotensi memicu keresahan sosial. Namun demikian, persoalan pangan sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan harga maupun ketersediaan stok semata, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kehidupan petani lokal.

Permasalahan mulai timbul ketika impor dilakukan pada saat petani tengah memasuki musim panen raya. Masuknya beras impor dengan harga yang lebih rendah mengakibatkan harga gabah petani mengalami penurunan yang drastis. Akibat kondisi tersebut, petani menghadapi kesulitan untuk memperoleh keuntungan yang layak dari hasil kerja keras mereka selama berbulan-bulan.

Padahal, untuk menghasilkan panen, petani harus menghadapi berbagai tantangan seperti tingginya harga pupuk, meningkatnya biaya pestisida, biaya tenaga kerja, hingga risiko gagal panen akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Ketika hasil panen mereka dihargai rendah, maka petani menjadi kelompok yang paling merasakan kerugian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pangan di Indonesia sering kali lebih mengutamakan kepentingan pasar dibandingkan perlindungan terhadap petani kecil. Dalam perspektif politik agribisnis, kebijakan impor tidak hanya merupakan persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kekuasaan, kepentingan politik, serta arah pembangunan pertanian nasional. Negara memiliki kewenangan yang besar dalam menentukan kebijakan pangan, namun kebijakan yang diterapkan sering kali lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek dibandingkan pembangunan pertanian dalam jangka panjang.

Baca Juga  Raksasa Samudra yang Mengenaskan: Paus Biru di Ambang Kepunahan

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab menjaga harga pangan tetap stabil bagi masyarakat. Akan tetapi, jika stabilitas harga dicapai dengan mengorbankan kesejahteraan petani, maka kebijakan tersebut justru dapat menciptakan masalah baru. Petani merupakan produsen utama pangan nasional. Jika petani terus mengalami kerugian, maka semangat mereka untuk bertani akan semakin menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengancam produksi pangan nasional dan membuat Indonesia semakin bergantung pada impor dari negara lain.

Selain itu, kebijakan impor juga memperlihatkan lemahnya posisi petani kecil dalam sistem agribisnis Indonesia. Petani kecil sering kali tidak memiliki akses yang kuat terhadap pasar, modal, teknologi, dan informasi. Ketika harga pupuk naik, petani harus menanggung biaya produksi yang besar. Ketika harga hasil panen jatuh, mereka kembali menjadi pihak yang paling dirugikan. Sementara itu, kelompok usaha besar dan importir justru memiliki akses ekonomi dan kekuatan pasar yang jauh lebih besar. Ketimpangan inilah yang membuat petani kecil sulit berkembang dan semakin tertinggal.

Baca Juga  BKPSDM Babel Buat Portal SiLapor Untuk Mengawasi ASN Terlibat Politik Praktis

Dampak lain yang mulai terlihat adalah semakin rendahnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian. Banyak anak muda menganggap profesi petani tidak memberikan masa depan yang menjanjikan. Pendapatan yang tidak stabil, risiko usaha yang tinggi, serta kebijakan pemerintah yang sering berubah membuat sektor pertanian terlihat kurang menarik dibanding pekerjaan di bidang lain. Akibatnya, banyak generasi muda memilih bekerja di kota atau sektor industri daripada melanjutkan usaha tani keluarga mereka.