Timelines.id

Media Literasi, Sejarah & Budaya

Sabtu, 12 September 2026

#Pekan Sastra

Cahaya Sebalik Awan

Cahaya Sebalik Awan

Karya: Dimas Aditya Di langit yang kelabu dan sunyi, Awan tebal menutupi sinar pagi. Angin membawa
Badai Abadi dalam Aksara

Badai Abadi dalam Aksara

Karya: Nazira Badai itu tak kunjung reda Anginnya masih berdesis di sela dinding dada Tak ada
Pelita di Lorong Geming

Pelita di Lorong Geming

Oleh: Diki — Pelajar SMAN 3 Toboali  Kita bagaikan nadi yang berdenyut tanpa henti. Bukan
Aku, Bukan Sekadar Mimpi

Aku, Bukan Sekadar Mimpi

Karya: Desi Kurnia — Pelajar SMAN 3 Toboali Aku bukan bayang yang luruh saat fajar
Pada Suatu Hari, Ada Kaban Pekedindil dan Urang Besak

Pada Suatu Hari, Ada Kaban Pekedindil dan Urang Besak

Karya: Iyek Aghnia “Langok ku ningok kaban tuh. Tiap ari gawe e bekedindil ken
Sepiring Nasi yang Dibayar dengan Nyawa

Sepiring Nasi yang Dibayar Nyawa

Oleh: Putri Simba Malam itu begitu sunyi. Di sebuah rumah kecil yang hampir roboh, hanya ada suara
Acara La Hude

Acara La Hude

Pantun Penutup Acara (Bagian I): Karya: Sang Usang Nyerupe Anak Bawang Sang Usang: ”Mesra tande
Langkah

Langkah

Karya: Anak Bawang Rebahkan tubuh di larut malam Nyaman peraduan sampaikan salam Ketika mimpi-mimpi
Puisi yang Tak Puitis

Puisi yang Tak Puitis

Oleh: Sang Peramu Aksara (Agus Bachtiar K) Aku pahami diriku: ’Tlah jauh terjerat, terlalu pekat!
Cermin

Cermin

Karya: Anak Bawang Benarkah tidak sedang marah? Benarkah tidak sedang menghujat? Benarkah tidak
Dua Semester Sejuta Jejak

Dua Semester Sejuta Jejak

Oleh: Putri Simba Dua semester telah berlalu.. Namun, kisahnya menetap hangat di relung kalbu. Di
Merdeka Mas Bro: Pekik Nyaring di Atas Perut Kosong

Merdeka Mas Bro: Pekik Nyaring di Atas Perut Kosong

Oleh: Heru Sudrajat Kemerdekaan seperti Meneriakan kekalahan Di tengah gemuruh badai korupsi Yang
Patah Hati Tak Mematahkan Mimpi

Patah Hati Tak Mematahkan Mimpi

Oleh: Erik Juliawan, S.Sos Hujan senantiasa tiba tanpa permohonan. Ia menimpa bumi, memecah
Mesin Tik

Bukan Londo Ireng

Oleh: Kaum Pecinta Damai Kami bukan Londo Ireng pembawa petaka, Yang menjual pena demi segenggam
Satu Langkah Menembus Badai

Satu Langkah Menembus Badai

Oleh: Oziandi Aku pernah bertanya pada langit, mengapa langkahku terasa lebih berat dibanding
Sudah ditampilkan semua