Sumpah Ampak
Ada segenap rasa khawatir tentang dirinya. Aku duduk bersila cemas, memikirkan apa yang sedang bapak lakukan di puncak suci Gunung Maras.
Menjang Merah adalah air terjun yang bersumber dari puncak gunung Maras. Sejak dahulu kami menjaga dan mencegah adanya perusakan oleh orang-orang yang menginginkan bijih timah yang di bawahnya.
Bukan hanya warga kampung, tetapi aku juga merasakan bahwa tindakan para penguasa Belanda itu semena-mena terhadap hutan adat yang kami jaga.
Dengan rasa cemas dan keputusasaan, aku mencari jalan solusi yang baik untuk mencegah semua itu.
“Aku akan pergi ke Demang[3] Anugerah Layana…”, ucapku di tengah keheningan. “… meminta untuk mencegah para Meneer itu…”.
“Aku akan menemanimu…” jawab Bari akan ikut andil dalam perjalanan yang akan aku lakukan.
*
Sayang beribu sayang, kedatanganku dengan petuah keresahan warga Kampong Marasan seakan tidak memiliki jalan lain.
Demang3 tidak bisa berbuat banyak akan keinginan Meneer yang akan melakukan penambangan di bawah kaki gunung Maras.
Ini bukan berada di bawah kuasanya, aku kembali dengan perasaan sedih, harapanku satu-satunya tidak membuahkan hasil.
Ketika sampai di desa, aku beranjak menuju Menjang Merah yang kini sedang lakukan penambangan besar-besaran karena orang-orang Singkek dari Muntok baru saja tiba.
Aku bergegas cepat, dengan sebilah parang yang selalu ada di pinggangku.
Para warga sedang ditawan, mereka ditawan karena melawan karena ingin mempertahankan tanah leluhurnya. Sedangkan aku? Menjadi salah satu dari mereka tawan bersama adikku, warga dan temanku.
Kami sangat mudah ditakhlukan, hanya berbekal parang dan bambu runcing tidak akan bisa melawannya yang bersenjata laras panjang dan meriam.
Di tengah rasa huru-hara, sosok yang kami nantikan telah tiba.
“Hentikan!”.
Bapak kembali. Di tengah kerusuhan antara warga dan penguasa, kehadiran membuat semua mata menatapnya tajam.
Tatapan harapan dari kami dan sengit dari para Meneer. Bapak tersenyum ke arahku yang berhadapan dengan seorang Meneer berbau tembakau itu.
“… ku kira kau sudah mati. Atum,” Pak Vloord yang kukenal dengan topi kulit berbicara dengan nada sentimen.
“Aku tidak akan mati semudah itu”.
“Kami akan menambang mulai hari ini. Kau hanya perlu diam sebelum Kampong Marasan hanya akan tinggal nama…,” ancam dengan nada yang meninggi.
“Kau tidak akan pernah menemukan butiran bijih timah mulai hari ini…”
Bapak, tenang dalam sesaat.
Aku tak tahu apa yang sedang ia rapalkan dari mulutnya. Apakah itu sebuah mantra? Aku tidak tahu.
Hanya gerakan bibir yang bisa aku lihat tetapi tidak tahu artinya.
Bapak mengeluarkan sesuatu di dalam saku celananya yang lusuh, lalu menggenggamnya dan terus membaca mantra yang kali ini tidak pernah aku ketahui.
“Aku menyumpah tanah dan isi di dalamnya, dari Gunung Maras sampai ke teluk Dalem…,” mantra sedang di rapalkan.
Semua orang lalu terdiam, aku menatap dengan jelas sebelum sumpah itu berakhir. “… tidak akan ada satu butir pun, timah yang akan muncul dari tanah yang aku sumpah!”.
“Ku Ampak[4] kan tanah beserta isinya!”.
Bapak lalu menyebar garam kasar dari genggamannya ke tanah tempat kerusuhan yang terjadi.
Aku menelan ludahku sendiri, kali pertamanya bapak mengucapkan sumpah sebagai seorang ketua adat suku Maras, seperti para Tetue dahulu yang sering ia ceritakan padaku.
Mataku berair, suara yang akan kudengar terakhir kalinya sebagai seorang anak. Dor!
*
Sudah hampir enam bulan setelah sumpah Ampak diucapkan.
Sejak saat itulah, bapak juga telah tiada di dunia.
Keberadaannya seakan mengancam para penguasa, hingga pada akhirnya eksekusi diberlakukan olehnya di hadapan para pengikutnya dan aku, anaknya.
Sebelum mati, bapak memberikanku sepucuk surat yang ditulis di atas lontar kering yang ia titipkan pada Datok Huam; sesepuh adat lalu memberikan surat itu kepada Bari dan mengirimkan pesan itu diam-diam dari sebuah bilik jeruji di rumah keresidenan di Muntok.
Aku membuka surat itu pelan-pelan. Hatiku berdebar ketika membaca mantra sumpah yang tertulis di surat lontar itu, sumpah yang bapak ucapkan dulu.
Sumpah yang sama, ketika bapak meng-ampakkan tanah beserta isinya di bawah kaki Gunung Maras.
Ini adalah kemagisan kami, suku Maras- tentang suatu sumpah yang dapat menghilangkan timah yang ada di dalam tanah.
“Tutue meminta Abun, untuk melakukan sumpah ini ke semua daerah yang sedang di tambang…”.
“Dengan senang hati, aku akan melakukannya…” memegang surat itu dalam kepalan tanganku.
“Aku Abun, bersumpah akan menghilang semua timah dari dalam tanah demi menjaga keselarasan alam di negeri ini!.
**
SUDI Setiawan, adalah penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung.
Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Semangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Gong di Bukit Nenek (2023).
[1] Singkek : orang-orang Tionghoa yang mengikat kontrak tambang dengan kolonial Belanda.
[2] Tetue : orang yang dituakan dalam artian di segani atau penyebutan untuk para leluhur.
[3] Demang : utusan dari Kesultanan Palembang untuk mengawasi lokasi penambangan timah di beberapa wilayah di Bangka
[4] Ampak atau Ngampak adalah kerarifan lokal yang mana seorang ketua adat atau dukun bisa menghilangkan kandungan kuarsa atau pasir timah dari dalam tanah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.