Oleh: Meilanto

BUDAYA, TIMELINES.ID — Kayu-kayu berukuran besar dibiar terlebih dahulu yang akan ditebang menggunakan kapak setelah kayu-kayu kecil habis ditebang.

Nebas dimulai dari bagian-bagian pinggir. Dalam nebas biasanya dilakukan secara besaoh dengan orang yang masih tergolong keluarga dekat atau dengan warga yang juga akan beume.

Setiap penebas diberi amanah memegang salah satu tepi. Lama kelamaan tebasan akan bertemu di tengah lahan yang akan dibuat ume.

Proses selanjutnya yaitu nebang/ merebahkan (rebak) khusus kayu-kayu berukuran besar.

Batang kayu atau akar yang berduri seperti rukam, rotan, manau dan lain-lain biasanya ditebang setelah kayu-kayu lain selesai ditebang.

Hal ini menghindari supaya duri-duri tersebut tidak terinjak saat proses nebang.

Setelah nebang selesai dilakukan kegiatan selanjutnya yaitu ngerakuk, yaitu memotong kayu-kayu berukuran besar menjadi beberapa ladung dan dahan-dahan menjadi lebih pendek.

Baca Juga  Nyungkur di Pesisir Pantai: Keseimbangan Nilai Budaya dan Ekonomi Masyarakat Toboali

Ini bertujuan menghindari mantak saat proses pembakaran.

Dalam proses ngerakuk, potongan-potongan kayu harus rata, tidak ada tebal dan tipis supaya dalam pembakaran api bisa rata.

Setelah ngerakuk, lahan pun menjadi rebak yaitu kayu-kayu yang sudah ditebang (direbahkan/ diembab) dibiarkan kering selama beberapa waktu tertentu.

Di sekeliling lahan mulai dibersihkan untuk menghindari supaya api tidak menjalar (ngerarat) ke sekitar saat proses pembakaran.

Lahan harus dibersihkan dari kerasak atau sampah dedaunan kering maupun ranting-ranting agar jangan sampai api ngerarat (menjalar) ke hutan di sekitarnya.

Setelah itu disiapkan kayu atau bambu untuk dijadikan pelupa yang berguna untuk menyulut atau alat untuk membakar, biasanya kayu atau bambu pelupa berukuran panjang dengan bagian ujungnya dipecah-pecah atau dibelah-belah supaya api mudah menyala.

Baca Juga  Kementrian BKPM Diminta Dorong Investor Tanam Modal di Babel, Begini Alasan Pj Gubernur

Setelah lahan cukup kering (sekitar tiga bulan/ tergantung cuaca), proses selanjutnya yaitu nunu atau membakar rebak. Dalam perhitungan astronomi yaitu dua hari kelam (setelah urang Cin sembahyang rebut, rebak dibakar.

Proses nunu harus memperhatikan arah mata angin untuk menghindari api tidak menjalar ke sekeliling.