Semenjak itu pula, Dupang kembali merasa sesuatu kegelisahan yang terus mengusik hatinya. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang terus saja terpantik menyedihkan.

Malam itu, di tengah penjagaan kampung diperketat, gadis Melayu itu keluar dari bilik kamar.

Untuk menenangkan pikirannya, Dupang melampiaskan perasaannya dengan menenun cual tengah malam. Hanya ditemani dimar dan serangga malam yang berisik.

“Esok, atau entah masanya… sepertinya itu akan menjadi hari yang suram. Mungkin kah peperangan itu tak perlu terjadi… atau ada sesuatu yang setimpal untuk menggagalkan penyerangan itu?” Dupang termenung membiarkan satu persatu helai benang emas itu memilin tangannya.

Entah sudah berapa lama ia tak bisa merasakan kenyamanan dalam hidupnya. Sejak kabar burung tentang kematian Raja Tidung dan pengikut setianya tersebar petang tadi, kini hati  Dupang semakin resah.

*

Kampung di hulu sungai di selatan pulau Wàngka; untuk saat ini sebagai tempat persinggahan tuan Hulubalang Alam Harimau Garang.

Di sinilah dia menerima segala berita dari penjuru pulau. Ia pun menaruh curiga pada penguasa Kapoer, musabab karena ia tahu hanya penguasa itu yang sampai detik ini menolak undangannya serta huru-hara menyebar bahwa Kapoer telah bekerja sama dengan Raja Tidung.

Kecurigaan itu lantas diteguhkan oleh pemimpin Menduk, bahwa Kapoer tidak pernah membantu mereka dari serangan para perompak.

“Sebaiknya, kita harus masuk ke Kapoer agar mengetahui situasi di dalam sana. Kebenaran Kapoer ada di sana. Huru-hara akan menjadi fitnah apabila tak ada kebenaran…”, tuan Hulubalang bersuara.

Baca Juga  Petualangan Mendaki Puncak Dempo (Tamat)

Semua lantas setuju, hanya mendengar berita-berita burung itu bisa menjadi fitnah.

“Aku sendiri yang aku masuk ke Kapoer.”

“Tuan? Apakah itu sudah matang untuk dijalankan?” sahut tuan Syarah padanya. Sebilah risau mengakar di dada mendengar titahnya.

“Aku akan membagi kita menjadi dua. Aku masuk dari Sungai Menduk, dan yang lain menyergap dari darat.”

“Aku akan memimpin pasukan darat tuan…,” jawab Patih Reksa Kuning.

Rencana penyerangan Kapoer telah disepakati dengan disumpahi sang Hulubalang, penyerangan ini membawa mandat bahwa mereka menumpas kecurigaan pada penguasa Kapoer. Agar mereka mengetahui kebenaran yang ada.

*

Kabar penyerangan itu telah sampai di Kapoer. Kota menjadi tegang kala para warga berduyun-duyun mencari persembunyian ketika penyerangan akan segera tiba.

Gemuruh derap langkah para prajurit setia Patih terdengar setiap malamnya, malam-malam menjadi terang kala dimar-dimar menyala terang di setiap sudut benteng yang melindungi kota.

Dupang tahu, perang sudah tidak bisa dielakkan. Ia hanya bisa bertahan dari gempuran perang yang akan datang atau malah sebaliknya.

Malam itu, ia gelisah karena kabar yang ia dengar dari para dayang-dayang; pasukan utusan kesultanan akan datang besok pagi. Hatinya kembali gelisah, entah apa yang sedang merayapi hatinya saat itu. Ketakutan? Entah lah.

Untuk menyudahi hatinya yang gelisah, ia turun dari rumah panggung bermaksud menuju dapur. Dia hendak memasak untuk keperluan perang.

Mau tidak mau, Dupang harus memastikan para pengikut setia sang pemimpin memiliki tenaga yang cukup. Agar kelak, mampu bisa mengimbangi kekuatan utusan sang sultan itu.

Baca Juga  Kita Jadi Budak Waktu

Ketika langkah kaki menginjak tanah yang lembab, naas ketika pula niat baiknya tak pernah sampai ke lantai dapur.

*

Kapoer kembali panik. Tatkala berita kematian Dupang di tengah malam membuat semua orang-orang di Kapoer tercengang dan bertanya-tanya; siapakah yang telah membunuhnya.

Yang pasti, mereka semakin panik padahal sang pemimpin mereka memperkuat penjagaan kota setiap malam. Para pengawal malam itu juga kocar-kacir mencari pembunuh sang putri kesayangan Sang Patih.

Tuan Patih terpukul mendengar bahwa anaknya mati. Ia kalut sampai-sampai semua orang di hadapannya dianggap adalah musuh di dalam selimut.

Yang akan membunuh dari anak-anak yang lahir dari rahim istrinya. Lantas hatinya terbakar amarah, ia memerintahkan semua pengawal untuk mencari pembunuh itu. Kerahkanlah semua pasukan Kapoer untuk menggeledah seluruh kota! Bagi yang menolak akan segera dipenggal.

“Ku pastikan! Yang telah menyentuh Dupang tidak akan pernah hidup dengan tenang!” Sumpah sang pemimpin.

Patih kehilangan kendali, lantas ikut mencari siapa yang telah membunuh anak kesayangannya itu. Dengan mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, ia sampai keluar dari benteng kota sampai menyusuri semua hutan, lelap[4] dan Kelakak.

Hingga-kedatangan utusan sultan itu tiba-Patih meninggalkan kekuasaannya. Kapoer kosong! Semua orang-orang di Kapoer kebingungan ketika pemimpinnya keluar dari kota ketika para utusan kesultanan datang.

Kendati mendapat perlawanan dari penguasa Kapoer, tanpa penumpahan darah dan pedang-pedang yang keluar dari sarungnya.

Tuan Hulubalang masuk ke kota dengan begitu lenggang. Ini mungkin tak salah, kedatangan mereka lantas seperti telah dibukakan gerbang kemenangan.

Baca Juga  Luka Tak Bertuan

“Ke mana para penjaga? Dan ke mana pula orang-orang kota ini?” Hulubalang bermata elang itu tak bisa mendapati keberadaan orang-orang kuat hasil tempaan penguasa Kapoer.

“Ada yang aneh? nukan,” Hulubalang lalu memerintahkan Patih Reksa Kuning untuk mencari tahu musabab apa yang membuat pusat kota penuh kekacauan.

“Tuan!,” teriak salah satu prajurit yang menyelinap dari arah timur.

Mereka menuju suara dan mendapati seorang gadis tergeletak tak bernyawa di dekat lumbung. Mengetahui situasi semakin ganjil, Tuan Hulubalang mendobrak rumah yang tepat berada di depan.

Ia sudah tahu, rumah itu adalah rumah penguasa Kapoer.

“Tuan!” ucap Tuan Syarah menoleh padanya.

“Mati Ekor…,” seloroh Tuan Harimau Garang menyadari seekor ular berbisa itu tengah bersembunyi dibalik tumpukan padi.

**

SUDI Setiawan, adalah penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Semangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Gong di Bukit Nenek (2023)

[1] Wàngka: disebut pada catatan tua, Pulau Bangka pada masa itu di kenal sebagai pulau timah atau dalam bahasa Sanskerta yaitu Wàngka berarti timah

[2] Melukut: orang-orang kanibal yang diyakin berasal dari Sumatera bagian Utara.

[3] Kelakak: Hutan Rimba

[4] Lelap: Rawa-rawa