Kisah Kris, Atlet Wushu Babel, Sumbang Perunggu meski Sepekan Terbaring di RS Pekanbaru
Kami mendiskusikan bagaimana agar penanganan atlet yang cidera dapat dilakukan sebaik-baiknya.
Daud yang mendampingi kakaknya terlihat mencoba tenang Walaupun beberapa kali terlihat melamun dan gelisah.
Penanganan di rumah sakit yang bernuansa unggu, RS Asyafirah Pekanbaru berjalan sigap dan lancar malam itu.
Kondisi fisik atlet yang prima, serta doa sang ibu di Pulau Bangka mungkin menjadi salah satu penyumbang cepatnya pemulihan.
Ketua Koni Bangka Belitung, Ricky setiap hari bolak balik mengunjunginya ke RS dan melaporkan kondisi Kris kepada ibunya di Pangkalpinang.
Kini seminggu setelah kejadian naas tersebut sang atlet sudah boleh meninggalkan rumah sakit.
Pertanyaan sang atlet ketika masih dirawat dan dikunjungi teman-temannya dan dokter kontingen adalah “Apakah sudah boleh makan ayam goreng dan bakso?”
Tentu saja belum boleh.
Makanan ransum rumah sakit yang rutin disajikan saja yang perlu dihabiskannya.
Bubur lembut, sayur dan telur.
Tak ada seorangpun yang menginginkan peristiwa cidera seperti ini terjadi.
Namun ketika kejadian tersebut datang siapapun harus siap dan menyiapkan diri.
Walaupun harus bertaruh nyawa dan terbaring beberapa hari di rumah sakit, sang atlet wushu ini masih berhasil menyumbangkan medali perunggu untuk Bangka Belitung.
Malam terakhir ketika menemuinya sebelum diperbolehkan pulang kami menanyakan apakah ia kapok dengan kejadian yang menimpanya di arena wushu.
Ia menjawab singkat sambil tersenyum “Gas terus”.
Anda tafsirkan sendiri kira-kira bagaimana semangat dan hal apa yang akan di lakukan oleh sang atlet setelah pulih dari cideranya nanti.
Semoga segera sembuh dan beraktifitas normal seperti sedia kala bro. Salam takzim.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.