Narasi narasi mereka hanya sebatas komentar dalam menanggapi suatu peristiwa dan untuk memuaskan pertanyaan dari para wartawan semata.

Hasilnya, dangkal, nirkomitmen, dan sangat meragukan.

Narasi-narasi yang muncul dalam isu lingkungan pun antara lain hanya sekadar narasi-narasi klasik yang di mana sering kita dengarkan setiap saat dan setiap waktu.

Tidak adanya praktik yang memuat gagasan mengenai kebijakan pro lingkungan.

Mereka hanya memproduksi narasi usang yang jauh dari konteks persoalan, misalnya larangan menebang pohon, membuang sampah ke tempatnya, dan tentu yang sering digaungkan adalah menanam pohon.

Komitmen yang serius mengenai bagaimana tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan masih belum tampak dalam visi misi para pasangan calon presiden.

Jika demikian, pemenuhan hak hidup atas lingkungan yang baik dan sehat tentu akan semakin jauh dari angan.

Baca Juga  Menapaktilasi Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Meskipun sudah bagus ada paslon yang mendorong kebijakan lingkungan yang lebih relevan, hal tersebut belum konkret dalam menjawab persoalan.

Sementara itu, salah satu paslon lainnya hanya beretorika dengan jargon-jargon seperti “adil dan lestari”, tetapi hal tersebut tidak tercermin dalam isi dokumen visi dan misinya.

Ide ekonomi calon satunya lagi masih sangat ekstraktif, mereka malah masih gembar-gembor mau menghabiskan mineral dan logam.

Sangat meragukan jika akan ada perubahan, apalagi punya visi menjadikan Indonesia tangguh dalam hal ekosistem berkelanjutan.

Tidak ada makan yang gratis, begitu pula partai yang menyokong para kontestan.

Mereka akan tetap meminta jatah eksploitasi secara legal.

Jangan harap akan ada kebijakan yang benar-benar pro lingkungan apalagi pro iklim dan transisi energi.

Baca Juga  Begini pesan Bupati Algafry di Peringatan Hari Ibu Tahun 2023

Dalam hal ini teringat sebuah lagu yang selalu diputar beberapa warung kopi yang dimana diciptakan oleh nosstress yang berjudul “Kanan Kiri”

Hai Pemimpin
Sebenarnya negeri mau dibagaimanakan?
Penduduk negeri ini mau dijadikan apa?
Maju yang bagaimana?
Mundur itu gimana?
Kok petani digusuri?
Nelayan diusiri
Melawan ditangkapi
Korupsi dilindungi
Bingung, bingung
Bingung, bingung
Aku bingung.

Bersama merawat dan menjaga alam kita!
Sudah seharusnya rakyat seperti Anda dan saya bersuara lantang, mendorong dan mendesak partai maupun kontestan pemilu untuk mengikuti kehendak kita, bukan para bohirnya.

Atau kita bisa membuat politik alternatif seperti bersatu dalam wadah politik baru yang lepas dari bayang-bayang pemodal.

Baca Juga  Batianus: Warga Kurang Mampu di Bateng Pengecualian Pelunasan PBB-P2

Selagi kita hanya diam, tidak punya posisi yang jelas dalam bersikap atau mengabaikan persoalan tersebut, selama itu pula kita akan semakin rentan.

Kita sama saja menggadaikan masa depan anak cucu untuk menambah kekayaan segelintir orang.

Lantas, apakah harus menunggu kiamat kecil baru kita sadar? Atau mulai bergerak merebut kembali suara-suara yang sudah dibajak dan dirampas untuk kepentingan segelintir orang.

Semua kembali ke kita semua, karena tidak ada orang tua yang menginginkan anak cucunya hidup sengsara di masa yang akan datang.

Raza Ar Rifki
Seorang pelajar SMA yang saat ini melanjutkan sekolah di Malang, aktif di gerakan literasi serta beberapa komunitas perpustakaan jalananan gratis dan komunitas lingkungan di Malang, Jawa timur