Hantu Aek
Aku dan Aming setuju. Tanpa penolakan kami bergegas membuat dua batang pisang itu menjadi sampan ala-ala kami berempat. Sungguh permainan sederhana tapi menyenangkan. Setelah asyik bermain cukup lama, entah kenapa si Hakim seperti mulai melakukan tindakan-tindakan yang sebenarnya adalah pantangan. Kami berempat tahu itu.
“Jangan pukul-pukul air Kim,” tegur Aming melihat tingkah Hakim yang sedari memukul-mukul permukaan air dengan kedua tangannya. Mengalihkan perhatianku sebelumnya.
Aku dan Mat Saleh menoleh ke arah Hakim yang keasyikan sendiri. Aming menegurnya bukan karena tanpa alasan. Ya, sebenarnya kami tahu soal larangan memikul permukaan air di kolong atau sungai sekalipun.
Hakim hanya menanggapi teguran itu dengan candaan. Sebenarnya, aku juga enggan mengatakan itu karena aku tahu kalau Hakim adalah anak yang tidak suka dilarang.
“Kenapa? Takut?” cela-nya, Hakim masih slengekan seperti bocah tengil yang menyebalkan.
“Hush. Jangan begitu, kita masih di air,” timpal Mat Saleh dengan wajah yang mulai tegang.
“Kim. Dengerin, nggak boleh main-main begitu.”
Aku menegurnya juga. Selain sebagai saudara yang memiliki hubungan darah, tapi ini soal pantangan.
Aku juga sebenarnya takut. Selain kami masih di dalam air, tindakannya juga seakan menantang sesuatu yang buruk. Karena hari sudah semakin gelap, kami kemudian memutuskan untuk beranjak dari air-menghindari hal lebih buruk lagi dan sikap si Hakim yang menjadi-jadi. Aku dan Hakim berada di bagian paling belakang mendorong sampan buatan kami, sedangkan Mat Saleh dan Aming berada di depan menyeratnya agar cepat untuk di bawah ke pinggiran kolong.
“Den. Kakiku kram”. Rintih Hakim, wajahnya kini memucat dan merintih kesakitan.
“Hah, kenapa?” Aku menolehnya menyaksikan dirinya yang sudah pucat pasi seperti tak memiliki darah. Belum sempat aku bertanya lebih banyak kepadanya. Blurb! Tiba-tiba ia hilang dari permukaan air seperti ditarik oleh sesuatu dari dalam air, menyisakan buih-buih yang muncul dari dalam air.
*
Sudah dua jam semenjak Hakim menghilang dari permukaan air di kolong. Kami bertiga yang awalnya menduga ini hanya akal-akalan Hakim untuk menakut-nakuti kami saja, nyatanya itu bukan candaan. Hakim benar-benar hilang di kolong Aek Mentas. Aku duduk di tepi sungai kebingungan, kini di kolong itu sudah banyak orang-orang dewasa dengan membawa senter dan alat penerangan menyusuri area di mana Hakim menghilang sebelumnya.
“Tadi dia kenapa?” tanya bapakku dengan wajah penuh tanda tanya.
“Kata Hakim kakinya kram, pak…,” jawabku, menahan udara yang mulai dingin menusuk kulitku.
“Kalian ngapain aja tadi, kok sampai sore di kolong!”. Celetuk pria berambut ikal, siapa lagi kalau bukan ayahnya Hakim dengan wajah cemasnya.
“Tadi Hakim pukul-pukul air, Mang. Kami sudah peringatkan,” ujar Aming.
Mendengar itu, semua orang di tempat itu semakin yakin. Bahwa Hakim tidak menghilang begitu saja dan itu bukanlah hal yang biasa terjadi, melainkan adanya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika dan akal manusia sekaligus. Aku masih kebingungan dengan apa yang telah terjadi, apalagi aku adalah orang yang melihat bagaimana detik-detik terakhir si Hakim sebelum menghilang.
“Panggil Atok Suam. Pasti dia bisa cari Hakim!”
*
Aku membuang puntung rokok yang telah habis-dan merupakan sisa terakhir, kopi hitam juga sudah habis ku hisap. Tetapi joran dan kail ikan sedari tadi tidak bergoyang sama sekali. Sial, gerutuku. Apakah ini hari naas? Kok sampai-sampai tak satu pun ikan naik ke permukaan. Sempat berpikir, apakah ikan-ikan sudah habis? Apakah orang-orang Seberang kini menangkapnya dengan alat setrum atau dengan tuba, jadi efeknya ikan sudah habis di alam. Pikiranku masih saja berkecamuk tentang perihal ke mana ikan-ikan itu bersembunyi. Tanpa mengamati Mat Saleh yang sedari tadi wira-wiri mendekati sungai seperti ketakutan.
“Kenapa? Kau lihat sesuatu?” tanyaku penasaran, melihat wajah Mat Saleh seketika menjadi pucat pasi.
“Ayo pulang!”
“Lah? Kita belum dapat ikan satu pun Leh.”
Sebenarnya aku bingung, kenapa dan tiba-tiba sekali Mat Saleh mengajakku pulang? Padahal kami berdua belum juga mendapatkan satu ekor ikan pun sedari tadi. Merasa bahwa ini bukan pertanda baik, aku segera mengambil bilah-bilah joran yang sebelumnya ku pasang dengan perasaan jengkel. Satu persatu joran pancing dari bambu itu naik ke permukaan tanpa hasil apa pun.
“Sial,” gumamku.
Sembari bergerutu tak jelas, aku harus mengelus dada sendiri karena hasil hari ini benar-benar jelek. Maaf Dini, Abang tidak bawa hasil memancing hari ini. Drekk! Suara joran pancing yang hendak ku angkat dari air yang tenang tiba-tiba bergerak. Sebentar, ada buih-buih air? Apakah joran ini dapat ikan? Akhirnya, dengan wajah yang awalnya mengerut kini wajahku mulai mengembang bahagia. Drett!
Mataku melotot! Ya kali ini aku benar-benar tidak bisa bergerak sedikit pun. Melotot menatap apa yang ada di atas permukaan air itu! Badanku terasa kaku. Seperti mati tak bisa bergerak. Semilir angin yang tenang perlahan mulai menyentuh kulitku yang sudah merinding ketakutan. Keringat dingin turun dari leherku. Sial. Hari ini benar-benar sial. Dengan sejuta rasa takut yang memenuhi dadaku, aku melempar joran yang sebelumnya ku angkat.
“Bajingan. Kenapa Mat Saleh nggak ngomong ada Kebuyut!”
Sosok makhluk mengerikan itu menampakkan diri di hari yang sudah mulai gelap. Sekali lagi! Dia menyeramkan seperti apa yang orang-orang desa ceritakan. Dengan mata merah menyala seperti api, berwajah menyeramkan dipenuhi oleh lendir-lendir yang menjijikan, dengan rambut yang mengembang di permukaan air, mengubah permukaan air menjadi gelap, sosok penunggu sungai itu membuka mulut lebar-lebar menjulurkan lidahnya yang panjang bercabang dan membuatku terbirit-birit lari ketakutan.
*
Sudi Setiawan, adalah penulis kelahiran Bangka Selatan, Fresh Graduate S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Pohon Permintaan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023)
[1] Kebuyut: Dalam kepercayaan Masyarakat Melayu Bangka, Kebuyut atau Hantu Aek adalah penunggu sungai, rawa-rawa dan tepian laut yang kerap kali mencari tumbal manusia, khususnya anak-anak.
[2] Aek: Air
