Para Lintah Pengisap Timah
Karya: Sudi Setiawan
Aku tidak tahu. Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir. Terhitung sejak pandemi melanda negeri ini, keadaan kami sebagai petani lada semakin memprihatinkan. Bagaimana tidak, lada yang dulunya dipuji-puji sebagai emas putih dari negeri Serumpun Melayu ini kini seperti tidak ada harganya.
Benar, kubilang saja begitu. Bahkan, pada era kolonialisme di pulau Bangka, lada menjadi simbol kesejahteraan masyarakat kala itu.
Membicarakan kesejahteraan, kadang bagiku itu terasa hanyalah kiasan-kiasan orang dahulu. Bukan tak percaya, hanya saja kalau berkata saat ini. Lada seperti sudah kehilangan masanya. Jauh lebih murah dibanding sekarung beras, kadang pula harganya naik sekali turunnya berkali-kali.
Belum lagi perihal hama dan musim yang tak menentu, entah itu penyakit kuning pada batang dan juga daun, bunga-bunga bakal calon lada yang rontok serta serangan hama belalang yang kerap kali menyisakan kesedihan pada kami. Kami petani lada harus siap dengan segala permasalahan di ladang.
Ketika kami berusaha bangkit, enyahlah sudah harapan kami ketika mendengar harga per kilo lada yang murah di pasaran. Apa boleh buat. Kenyataan tak selamanya terasa manis, bahkan lebih masam dari buah kelubi sekalipun.
“Intang, bukankah kau harus ke ladang?” tanya pria setengah abad berambut keriting kepadaku. Aku menyesap kopi sembari melihat Rum yang bermain di seberang jalan.
“Sebentar pak, kuhabiskan dulu kopi buatan Rasti”.
“Jangan menunda pekerjaan Intang, tak baik. Mumpung badan masih muda, kerja yang keras biar hasilnya bagus,” lanjutnya, pria setengah abad itu tertegun menyaksikan anaknya yang kini telah menjadi seorang bapak.
“Kerja keras menghasilkan lelah, tapi tak terbayar dengan harga lada di pasar pak,” aku menatapnya, bukan ingin menentang nasihatnya yang masih terlalu pagi. Tapi ini persoalan yang sejak lama terjadi, harga yang tak sepadan dengan jerih payah kami di ladang yang keras. Kadang membuatku menahan hati jika membahasnya.
“Kudengar, lada di toko Pak Jum’ah harganya tak sampai Rp50 ribu per kilonya. Dengan harga itu, patutkah kita hanya bersyukur? Sedangkan ekonomi saat ini sedang mencekik urat nafas setiap harinya,” meletakan sisa kopi-pelan ke meja.
“Ntang, tak baik berkata demikian. Semua sudah ada jalannya. Itu semua rezeki dari yang Maha Esa,” tuah bapak menjelma seperti perkataan guruku mengaji yang kala itu aku sering merengek ketika dipinta emak untuk pergi ke surau. Benar-benar sama harus mensyukuri nikmat Tuhan tetapi tidak denganku, Ambok Intang namanya.
“Kasihan Rum Pak, mau makan apa nanti anakku,” aku menoleh Rum yang tersenyum polos ke arah kami berdua .
*
Malam berhawa dingin ketika angin lembah merasuk ke dalam sukmaku, petang terang ketika temaram rembulan mencoba masuk dari celah-celah pepohonan durian yang sedang berbuah rindang. Aku berada pada pondok ume di Kelekak Bujang bersama kedua temanku, Masuri dan Imban.
Kami sedang menunggu musim durian yang sebentar lagi akan tiba, malam-malam panjang kami habiskan hanya berdiam diri dalam pondok sembari menunggu para angin-angin merontokkan buah berbau tajam itu.
“Kau masih bertahan dengan ladang itu?” tanya Imban melihatku yang sering muram dengan sebatang tembakau tak pernah lepas mengapit di jemariku.
“Apa lagi. Kalau tidak bertahan dengan ladang, kami tidak bisa makan…” jawabku sekenanya, bukan karena apa. Berkeluh kesah pun bukan jawaban untuk masalah ini.
“Kenapa tak mencoba Nungau?”
“Nungau?” aku menoleh ke arahnya-Imban yang menunggu jawabanku. “…menambang timah maksudmu?” meyakinkan jawabanku.
“Benar. Apalagi kalau bukan menambang,” sahutnya terdengar santai tanpa beban.
Entah kenapa, pikiranku saat ini seperti sedang berlari-lari. Berlari tanpa tujuan yang jelas. Ajakan itu terdengar baik ketika aku kembali melihat ke belakang keadaan keluargaku sendiri. Belum lagi Rum yang sebentar lagi masuk sekolah dasar, dan lagi kebutuhan pokok yang semakin naik.
Memintaku untuk kembali berpikir lagi soal masukan itu.
“Kalau kau mau Intang, besok pergi bersamaku,” lanjutnya, Masuri yang sedang memegang golok yang hendak mengupas durian. “… besok malam temui aku di simpang jalan menuju Bukit Gede. Ku tunggu di sana.”
Aku sebenarnya tahu, menambang timah bukanlah hal baru di kampung kami. Bahkan sejak lama, banyak catatan sejarah mengenai timah sudah lama diperdagangkan oleh orang-orang kampung yang pada masa itu. Pada masa itu, menambang timah masih dilakukan secara tradisional.
Kemajuan teknologi membawa mesin-mesin hisap itu sudah bertengger di setiap sudut kampung sampai ke arah Bukit Gede yang dikeramatkan oleh warga kampung. Mereka bukan buta mata, tapi ada yang lebih penting. Bagaimana bisa hidup dengan ekonomi yang terus merangkak naik dan lupa turun setiap waktunya.
Hingga di esok malam, aku bersama Masuri mulai membuka lahan baru di kawasan yang selama ini dikeramatkan oleh warga kampung. Setelah semalam memompa tanah-tanah dengan air yang telah memasuki per setiap inci kulit bumi.
Kami akhirnya menemukan sumber bijih timah yang bergaris menuju sisi timur mengarah pada Bukit Gede yang berseberangan dengan Sungai Kur. Kali ini masalahnya adalah kawasan keramat dengan situs yang tertimbun tanah itu menjadi sasaran kami berdua. Situs peradaban yang telah hilang ditelan alam sejak lama.
“Masuri, kita dilarang menambang di kawasan itu bukan?”
“Tak ada pilihan. Lebih baik kita segera menambang dan bergerak diam-diam…”
“Tapi Ri, kau tahu apa konsekuensinya?”
“Kita bisa saja ditangkap sebagai penjarah. Lebih baik bergerak seperti ini dulu, sampai kondisi semuanya aman. Kita bekerja pada petang hari agar tak terendus oleh mereka.”
Ide buruk itu tampak masuk akal untukku. Benar, dengan bekerja di malam hari kemungkinan kecil aksi kami akan terendus oleh aparat. Sejak hari itu pula, aku berhenti meladang. Membiarkan pokok pohon lada yang mulai meranggas karena terserang hama.
Ladang yang dulu bersih kini telah dipenuhi oleh semak belukar yang menutup jalan dan kini, aku beralih menjadi penambang timah di malam-malam selanjutnya.
