Para Lintah Pengisap Timah
*
Pagi meredup gelap, nyanyian gemuruh hujan semalam masih tersisa pada tetesan di ujung genteng rumah. Entah mimpi apa aku semalam, rasanya hari ini aku harus bangun pagi-pagi. Belum usai perihal mimpi yang ku ingat-ingat kembali, Rasti memanggilku untuk segera menemui bapak di teras rumah.
Pria setengah abad itu datang dengan raut wajah sayu seperti daun sahang yang menguning dengan sebilah keresahan di dadanya. Sepertinya aku paham maksud lain kedatangannya pagi ini.
“Ada perlu apa pak? Tumben sekali datang pagi-pagi,” tanyaku, mencairkan suasana pagi yang dingin ini.
“Intang, kudengar kau kini menambang di kawasan situs?” mata yang sayu itu menatapku dalam. “… benarkah?”
Aku tercengang bagaimana bapak bisa tahu kalau sekarang aku menambang di kawasan itu. Aku melipat bibirku, sedikit ragu akan apa yang sebelumnya telah kukerjakan di sana.
“Hanya sedikit Pak, kami tak benar-benar menambang di kawasan itu”.
“Intang…,” panggilnya penuh kerisauan.
“Kau tahu? Kawasan itu dijaga oleh pemerintah sejak lama. Jikalau kau ingin menambang timah. Kenapa harus menambang di sana?”
“Tapi pa-”
“Kau bisa ditangkap karena dianggap menjarah kawasan bersejarah. Apa kau lupa, dulu Datuk Hamid berpesan kepada kita sebagai cucunya untuk menghormati tempat leluhur?”
Kata-katanya kali ini menjelma seperti jarum yang tajam; mencoba menyadarkan kesalahanku. Aku mengernyit dahi, aku sudah berpikir ingin berhenti tapi aku tidak bisa berhenti dalam waktu dekat.
“Pak, Intang tahu. Tapi Intang tidak bisa hanya bertahan dengan ladang saja. Timah lebih menjanjikan uang lebih banyak. Intang ingin hidup selayaknya orang-orang lain…”
“Berhenti sebelum terlambat Intang!” pria setengah abad bernada tinggi, lalu beranjak meninggalkan kopi yang bahkan belum diminum seteguk pun.
*
Matahari sudah berada di peraduannya, hari telah petang dan bunyi-bunyian alam telah sunyi; terdengar kebisingan serangga malam yang merana. Malam telah datang dengan harapan didadaku bahwa malam ini aku akan pulang dengan puluhan ember dan karung-karung yang penuh berisikan kasiterit.
Pondok yang dibuat dari batang kayu hutan seadanya, bilah terpal plastik menutup bagian atas agar teduh kala hujan malam menerjang serta petromaks menemani malam-malam gelap di tempat yang kami sebut “Kolong Baru” yang berada di sisi barat Kampung Rupak.
Ini sudah pukul sembilan malam, tapi tidak ada tanda-tanda Masuri akan segera datang. Tak biasanya dia datang terlambat, biasanya dialah yang selalu menantiku di bawah pondok ume ini. Setelah jenuh menunggu, aku hendak menjemput dirinya, barangkali dia tertidur pulas di rumah bersama istrinya.
Baru berapa langkah kaki menginjak bumi, Aku langsung menyerosok ke semak-semak ketika suara-suara mesin dan gerangan manusia berjalan ke arah ponton-ku bekerja.
Aku sudah tidak menghiraukan apa pun yang kuinjak, entah semak atau lintah bahkan ular sekalipun aku tidak tahu. Aku harus bersembunyi ketika aparat itu merapat ke arah lubang buatan kami berdua.
“Tidak ada orang. Sepertinya mereka sudah pergi sebelum kita datang,” seloroh pria muda dengan baju berwarna coklat.
“Angkut saja semuanya. Kita harus mencari siapa yang menambang lokasi ini,” suara pria berjanggut dengan senter yang terus mencari seseorang di balik kegelapan malam.
“Sial!” ucapku menahan ketakutanku ketika sesuatu mulai menggerayangi kakiku.
*
Pulang dengan tangan kosong menghancurkan harapanku sebelumnya. Aku hanya mampu mendecih tak jelas selama perjalanan pulang.
Sudahlah, tidak ditangkap aparat setidaknya membuatku tenang sejenak. Aku bergegas masuk ke rumah dengan segala kepanikan yang mulai reda. Kudapati Rasti_istriku bergetar ketakutan ketika melihatku yang baru saja kembali.
“Bang, tadi ada aparat datang ke rumah. Bertanya ke mana Abang pergi”.
“Ti?”
“Masuri sudah ditangkap Bang.”
Mendengar itu, kali ini aku seperti tersambar petir tengah malam. Badanku langsung lemas, keringat juga luluh deras membasahi badanku. Seketika aku baru sadar bahwa pesan-pesan bapak yang selama ini kuabaikan, pada akhirnya datang kepadaku juga.
Nasihat-nasihat pria tua itu akhirnya membuatku sadar. Aku teringat akan semua pekerjaan kami lakukan di tengah malam sampai berganti hari. Apa boleh buat, ini seperti aku yang telat menyadari bahwa diriku telah dihisap lintah-lintah rawa. Seperti menyinggungku, para lintah yang mengisap timah.
**
SUDI SETIAWAN, penulis kelahiran Bangka yang gemar menulis Cerita Pendek, Puisi dan Esai. Beberapa karyanya tersiar baik cetak maupun daring dan anggota komunitas literasi Kebun Kata di Kota Pangkalpinang. Cerita pendek berjudul Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas dan Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023).
