Di Balik Kilatan Timah, Ada Krisis Pengangguran dan Ketimpangan Sosial
Pada saat ini timah hanya dipandang sebagai komoditas mentah semata yang dikelola oleh smelter-smelter dengan dicetak menjadi balok-balok logam. Selama pemerintah masih berpikir bahwa Bangka Belitung hanya bisa bergantung dengan komoditas logam timah mentah semata, maka praktik pertambangan secara inkovensional di Bangka Belitung akan terus masif terjadi. Apalagi masyarakat dan pemerintah belum mampu untuk mengelola manufaktur yang baik dalam pengelolaan tambang timah ini. Selama belum ada alternatif pekerjaan yang lain, maka praktik seperti ini akan terus menerus terjadi.
Hal tersebut menjadi permasalahan sulit, selama alternatif ekonomi yang lain belum tersedia, maka masyarakat Bangka Belitung akan tetap bergantung pada tambang. Jika kita menyalahkan masyarakat Bangka Belitung sepenuhnya atas kerusakan lingkungan ataupun Bangka Belitung kehilangan masa depannya, kita rasa kurang adil. Karena bagi masyarakat, ini menjadi pilihan soal bertahan hidup dalam situasi yang sulit karena menjadi persoalan yang sangat sistemik dan tidak lepas dengan persoalan yang lebih besar dari hal ini.
Peran pemerintah dalam situasi ini sangatlah krusial, karena keberlanjutan kehidupan anak muda Bangka Belitung dan masa depan wilayah tersebut sangat bergantung pada kebijakan yang diambil. Sayangnya, meskipun sektor penambangan timah telah menjadi sumber daya utama yang menopang perekonomian daerah, pemerintah sering kali tampak tidak cukup cepat atau efektif dalam merespons tantangan yang ada, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Salah satu peran utama yang seharusnya dimainkan pemerintah adalah memberikan alternatif pekerjaan yang lebih berkelanjutan bagi anak muda yang terjebak dalam lingkaran penambangan. Namun, upaya ini sering kali terhambat oleh ketidakmampuan pemerintah daerah untuk menciptakan industri baru yang dapat menyerap tenaga kerja. Padahal, sektor-sektor seperti pariwisata, perikanan, dan pertanian berpotensi besar untuk memberikan peluang kerja yang lebih aman dan berkelanjutan jika ada investasi yang tepat serta pelatihan keterampilan yang memadai.
Pemerintah juga harus mengambil tindakan tegas dalam penanggulangan penambangan ilegal yang marak terjadi di daerah tersebut. Aktivitas penambangan yang tidak terkontrol sering kali merusak lingkungan dan berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, termasuk kesehatan anak muda yang bekerja di sektor ini. Tidak hanya itu, penambangan ilegal juga memperburuk kualitas hidup karena tak ada jaminan keselamatan atau perlindungan bagi para penambang. Jika pemerintah serius dalam menertibkan praktik penambangan ilegal ini, maka pemerintah harus menindaklanjuti dengan kebijakan yang mendukung penambangan yang ramah lingkungan dan lebih transparan.
Penyediaan akses pendidikan yang lebih baik juga merupakan langkah penting yang harus diambil oleh pemerintah. Meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan akses yang lebih luas bagi anak muda untuk mengembangkan keterampilan di bidang lain dapat membuka banyak peluang baru. Dengan pendidikan yang lebih baik, anak muda Bangka Belitung dapat memiliki pilihan karier yang lebih beragam dan tidak terjebak dalam satu sektor yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan kerusakan lingkungan. Pemerintah juga perlu mendukung program pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, agar anak muda dapat bersaing di industri yang lebih modern.
Namun, meskipun tantangan ini jelas, tidak sedikit langkah positif yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti kebijakan diversifikasi ekonomi dan upaya peningkatan infrastruktur. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah implementasi kebijakan yang masih lambat atau kurang efektif. Banyak anak muda merasa bahwa pemerintah lebih fokus pada sektor yang sudah mapan, seperti penambangan timah, daripada berinvestasi dalam perubahan yang berkelanjutan untuk masa depan mereka.
Pemerintah sebagai pemangku kebijakan, memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan iklim yang memungkinkan anak muda di Bangka Belitung untuk tumbuh dan berkembang dengan peluang yang lebih baik. Tanpa komitmen yang lebih nyata untuk mengatasi masalah ketidakadilan sosial dan ekonomi ini, harapan anak muda untuk memiliki kehidupan yang lebih baik akan terus terkubur di bawah reruntuhan timah yang mereka gali.
Penulis merupakan pengurus ISBA Malang
