Dinda terkejut, dan menjawab. “Aku hanya memikirkan nasibku, Pak, tempat inilah yang selalu menjadi tempat berkeluh kesahku,” jawab Dinda jujur.

“Apakah Bapak bisa menjadi temanmu, Nak, kamu bisa cerita apa pun ke Bapak,” ujar pria itu.

“Iya, Pak, boleh, tapi nama Bapak siapa?” tanya Dinda yang belum mengenali pria itu.

“Nama Bapak, Hendra Setiawan, kamu bisa memanggil Bapak Pak Hendra,” sahut pria itu memperkenalkan namanya.

“Salam kenal Pak, namaku Dinda,” sapa Dinda.

Usai berkenalan, karena Dinda tidak bisa menahan perasaannya lagi, dia menceritakan semuanya, tentang rasa sepi, rasa tidak dihargai, dan keinginannya untuk merasakan kasih sayang yang tulus. Pria yang bernama Bapak Hendra itu tersenyum tipis.

Baca Juga  Obat Luka

“Kasih sayang tidak selalu datang dari mereka yang kita harapkan, Dinda, Kadang, kita harus belajar menciptakan kasih sayang itu sendiri. Mulailah dari dirimu sendiri. Cintai dirimu, maafkan mereka yang mungkin tidak sadar telah melukaimu, dan cari kebahagiaanmu di tempat lain,” kata Bapak itu yang mulai menasihati Dinda penuh kasih sayang.

“Baiklah Bapak, terima kasih ya, Pak atas nasihat mulianya,” ujar Dinda kepada Bapak itu.

“Sekarang tersenyumlah, jangan bersedih, ya, ini ada cokelat untukmu,” Kata pria yang bernama Pak Hendra.

Dinda tersenyum ke arah Bapak Hendra, dia terus memandanginya sambil bersenda. Kata-kata dari pria penjaga hutan, Bapak Hendra baik hati itu terus selalu menggema di hati Dinda. Dia menyadari bahwa mungkin dia takbisa mengubah orang tuanya, tetapi dia bisa mengubah cara memandang hidupnya. Di saat dia menyadari segalanya, Bapak Hendra berkata kembali mengingat hari yang sudah semakin malam.

Baca Juga  Aku dan Bayanganan

“Dinda, hari sudah malam, sekarang pulanglah, Nak, nanti orang tuamu mengkhawatirkan dirimu, ya, meski mereka tidak pernah lagi memberikan kasih sayang itu,” ujar Pak Hendra kepada Dinda.

“Baiklah, Pak, kalau begitu aku pulang dulu ya, asalamualaikum, Bapak baik hati, nanti aku akan kembali lagi,” sahut Dinda kepada Bapak itu.

“Wa’alaikumussalam, Din,” jawab singkat Pak Hendra.

Tak lupa sebelum pulang, kebiasaan Dinda yaitu berpamitan terlebih dahulu, dia mengulurkan satu tangan kanannya untuk bersaliman. Usai salaman di malam itu, Dinda pulang dengan langkah lebih ringan. Meski rumahnya tetap sama, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menciptakan kebahagiaan kecil dari hal-hal sederhana. Dan setiap sore, dia tetap kembali ke tempat sunyinya, bukan untuk meratapi nasib lagi, tetapi untuk mengenang betapa kuatnya dia menghadapi hidup.

Baca Juga  Cerita Beribu Luka

Simpang Rimba, 02 Januari 2025