Mahkota Darah di Atas Tanah Retak
“Kau ingin minum? Minumlah ludahku!” teriak Badut.
Saat itulah, alam semesta seolah mencapai titik jenuhnya.
***
Tepat tengah malam, gemuruh yang bukan berasal dari guntur terdengar dari perut bumi. Tanah Laut berguncang dengan frekuensi yang aneh hanya istana dan rumah-rumah mewah para pejabat yang bergetar hebat, sementara gubuk-gubuk bambu rakyat tetap tenang.
Tiba-tiba, dari celah-celah lantai marmer istana, muncul ribuan serangga hitam yang memiliki sengat berapi. Serangga-serangga itu tidak menyentuh rakyat jelata, namun mereka memburu Badut dan Pelawak seolah memiliki kompas dendam.
“Tolong! Pengawal!” teriak Badut. Namun, para pengawalnya sendiri sedang sibuk bertarung dengan bayangan mereka sendiri yang tiba-tiba menjadi nyata dan mencekik leher mereka.
Pelawak mencoba lari menuju dermaga, berniat kabur dengan kapal penuh emasnya. Namun, saat ia menyentuh emas-emas itu, logam mulia tersebut berubah menjadi bara api yang melelehkan tangannya. Ia menjerit, tapi suaranya hilang ditelan deburan ombak yang tiba-tiba naik setinggi gunung.
Di atas menara istana, Badut terpojok. Ia melihat ke bawah, berharap rakyatnya akan datang menyelamatkan sang “ayah bangsa”. Namun, rakyat hanya berdiri di kejauhan dengan tatapan dingin. Tak ada benci, tak ada cinta, hanya kekosongan. Mereka membiarkan alam mengambil kembali apa yang selama ini dicuri darinya.
Petir menyambar mahkota di kepala Badut, mengubahnya menjadi cairan panas yang mengalir menutupi wajahnya. Di saat yang sama, bumi di bawah kaki Pelawak terbelah, menelannya bersama seluruh harta haramnya ke dalam kegelapan yang tak berujung.
***
Pagi harinya, istana megah itu telah hilang, tertutup oleh lapisan tanah yang rata seolah-olah bangunan itu tak pernah ada. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai. Rakyat Kerajaan Laut terbangun dengan perasaan ringan di dada mereka. Mata air yang tadinya lumpur kembali jernih, bahkan lebih manis dari sebelumnya.
Di bekas lokasi istana, tumbuh sebuah pohon besar dengan buah yang bisa dimakan siapa saja secara gratis. Tak ada lagi raja yang zolim, tak ada lagi pejabat yang menjilat. Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Laut pernah dipimpin oleh kegelapan, namun kegelapan itu akhirnya ditelan oleh tanah yang mereka khianati sendiri. Azab bagi pemimpin zolim bukan hanya tentang kematian, tapi tentang dihapusnya nama mereka dari kemuliaan sejarah manusia.
