Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (IX)
Entah bagaimana, hamba sakit perut dan harus segera ke toilet, namun apa daya barisan antrean jamaah tidak bergerak. Dengan sedikit nekad, hamba menegur askar meminta tolong jalan keluar tercepat karena mau ke toilet. Dalam panik, Alhamdulillah hamba diarahkan ke pintu kecil di samping mihrab imam.
Dan ternyata di dalam ada ruang luas, lalu lanjut ke ruang kecil di dekat pintu keluar berisi kursi dan ada seorang Syeikh yang duduk di kursi besar. Hamba tanpa ragu bertanya exit door, dan ditunjuk ke arah pintu kecil yang ternyata muncul di sisi timur masjid, satu-satunya pintu masuk dari sisi timur belakang Masjid Nabi.
Hamba baru tersadar bahwa yang hamba tegur tadi adalah seorang Syeikh imam masjid yang sedang istirahat setelah selesai mengimani shalat zuhur tadi, dan ruang luas tadi adalah ruang jenazah yang telah dishalatkan. Sungguh kejadian mustahil, sebuah kejutan yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Hamba cepat menuju toilet dan menyusul cinta di sisi selatan masjid, lalu menikmati makan siang serta suasana masjid sampai waktu asar. Setelah asar, hamba dan cinta berkeliling menyusuri Madinah, kemudian kembali ke penginapan untuk beristirahat dan persiapan menjelang magrib.
Menjelang magrib, hamba masuk masjid lewat pintu Bilal, dan selesai magrib langsung meluncur ke arah shaf terdepan lewat Bab Abu Bakar, menunggu duduk di batas Raudhah sambil tilawah menunggu Isya. Saat iqomat, hamba melesat ke shaf terdepan namun tetap tidak bisa mengambil shaf pertama. Walau begitu, Alhamdulillah hamba dalam menjelang hari-hari terakhir di Madinah bisa menikmati shaf di depan.
Selesai Isya, hamba dan cinta kembali ke penginapan untuk istirahat. Alhamdulillah hamba bisa masuk Raudhah tanpa antre di waktu dini hari yang mengganggu istirahat malam, sampai hari kedelapan ini.

