Doa-Doa di Antrean BBM
Oleh: Yan Megawandi
Pagi itu saya berjalan menuju pasar ikan, setelah mengitari Pantai Tanjungpendam. Matahari belum sepenuhnya meninggi, tetapi panasnya sudah terasa. Laut masih menyisakan aroma asin yang akrab. Orang-orang mulai bergerak dengan kesibukannya masing-masing.
Namun langkah saya tiba-tiba terhenti. Di depan SPBU, ratusan sepeda motor mengular dalam antrean panjang. Saya memandang ke arah ujung barisan. Dari SPBU di sekitar terminal lama, antrean itu memanjang hingga mendekati Museum Tanjungpandan. Barisan manusia dan sepeda motor itu seperti ular panjang yang seperti sedang kehilangan jalan pulang.
Di bawah matahari pagi, ibu-ibu dan bapak-bapak berdiri menunggu. Ada yang duduk di atas motornya. Ada yang berteduh seadanya. Ada yang sesekali mematikan mesin untuk menghemat bensin yang justru sedang mereka tunggu.
Fenomena antrean semacam itu sekarang terjadi di hampir semua SPBU bukan hanya di Bangka Belitung. Tapi hampir merata di daerah yang banyak kegiatan tambang dan perkebunannya. Saya kemudian bertanya dalam hati: Doa apa yang dipanjatkan orang-orang ini selama menunggu di antrean Panjang itu?
Mungkin ada yang berdoa agar hujan segera turun. Bangka Belitung hari hari ini memang sedang berada dalam musim kemarau. Tanah membutuhkan air. Kebun memerlukan hujan. Sumur berasal dari mata air. Dan mungkin, pada pagi yang panas itu, sebagian orang berharap bukan hanya hujan yang turun dari langit, tetapi juga kesejukan dalam kehidupan.
Mungkin pula ada yang berdoa: “Ya Allah, sehatkanlah para pejabat yang mengurus negeri ini. Berikan mereka kesehatan lahir dan batin. Berikan mereka pikiran yang jernih, hati yang lapang, dan keberanian untuk menyelesaikan persoalan rakyat.”
Doa semacam itu terdengar sederhana. Tetapi kalau direnungkan lebih jauh, ia sesungguhnya merupakan bentuk kritik yang sangat halus. Sebab ketika masyarakat sudah sampai pada doa agar para pengambil keputusan diberi kejernihan dalam melihat persoalan, berarti ada sesuatu yang sedang mereka rasakan tidak beres.
Mungkin ada pula yang berdoa agar rezekinya dilapangkan. Agar dagangannya laku. Agar ikan yang dibawa ke pasar cepat terjual. Bisa saja terselip doa agar harga ayam potong yang katanya diborong pengusaha SPPG sekarang melambung tinggi bisa turun lagi.
Barangkali terselip juga doa agar biaya sekolah anak-anaknya tercukupi. Atau agar cicilan motor bulan ini dapat dibayar. Atau yang lain lagi berdoa agar uang yang diperoleh hari ini tidak habis hanya untuk membeli kebutuhan yang seharusnya sederhana: bensin.
Dan mungkin, di antara ratusan orang itu, ada yang berdoa dengan kalimat yang jauh lebih pendek: “Ya Tuhan, semoga besok tidak perlu antre sepanjang ini lagi.” Saya kira itulah doa yang paling sederhana sekaligus paling dalam. Sebab masyarakat sesungguhnya tidak sedang meminta kemewahan.
Mereka hanya ingin hidupnya kembali seperti dahulu. Kembali normal. Pergi bekerja tanpa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Mengantar anak ke sekolah. Pergi ke pasar. Mengangkut hasil kebun. Pergi melaut. Mengurus keluarga. Lalu pulang. Ah betapa sederhananya keinginan itu. Namun yang sederhana itu terasa seperti kemewahan justru di zaman dimana katanya semua ada dalam hand phone. Semua ada dallam genggaman.
Mental Calo
Antrean BBM sebenarnya bukan sekadar barisan kendaraan. Ia serupa barisan waktu. Bayangkan ratusan orang sedang menyerahkan sebagian waktu hidupnya kepada sebuah persoalan yang seharusnya dapat dikelola dengan lebih baik. Lihatlah siapa yang berada di barisan para pengantri BBM itu.
Di dalamnya ada nelayan. Ada pedagang dan buruh. Ada guru dan murid yang mestinya tenang menyiapkan diri memasuki kelas menjemput pelajaran. Ada pula pegawai puskesmas dan rumah sakit yang mesti hadir melayani orang sakit di tempat kerjanya.
Tetapi di barisan antrean itu mungkin ada pula terselip oknum yang mestinya membantu rakyat, namun menghianatinya dengan pura pura ikut antri tapi lalu menjual BBM nya kepada para cukong demi selisih harga. Sialnya jumlah oknum semacam ini semakin bertambah dikala orang banyak yang semakin susah.
Yakinkah anda bila yang antri hanyalah masyarakat yang benar benar butuh BBM saja maka panjangnya antrian akan sepanjang yang kita saksikan belakangan ini? Begini parahnyakah mental masyarakat kita sekarang? Yang tega menyiksa orang lain yang lebih memerlukan dengan menambah panjang antrean demi tambahan uang. Jika itu benar maka mental masyarakat kita benar benar sudah menjadi: dasar mental calo.

