CERPEN, TIMELINES.ID — Kesultanan Palembang, Sultan Agung Kamarudin II mengikat perjanjian dengan VOC, timah menjadi barang penting pada masa kolonial dan semua itu sepenuhnya berada pada pengawasan Belanda sejak 1722 Masehi; sebuah awal dari kerusakan alam.

Pulau Bangka sepenuhnya di bawah kendali orang-orang berkulit putih, perlahan, negeri yang awalnya menjaga keselarasan dengan alam mulai mengalami kerusakan.

Hutan-hutan mulai dirambah para penambang Singkek[1] dan Johor, sungai-sungai mulai menghitam dari hilir-hulu sungai dan para penduduk mulai terkena wabah mematikan.

Seorang Meneer, berkumis tebal datang  bersama rekannya menggunakan kereta dorong yang tenagai pribumi; kereta manusia yang menyedihkan, menepi di lereng perbukitan.

Dengan rokok yang masih menyala ia berjalan mendekati kami.

“Siapa ketua disini?” ungkapnya dengan bahasa Melayu yang bernada kaku, tatapan kotor dan hina melihat kami.

Aku berdiri dengan tongkat bambu-mengangkat ke atas, berwaspada.

Kami hanya berlima, dengan seorang bapak yang gagah berani-kedua tangannya disilangkan.

Bapak, dengan kumis tebalnya bak jawara Betawi itu tak merasa terintimidasi sedikit pun dengan tatapan sinis si Meneer.

“Saya…” sahutnya tanpa ragu.

Suasana menjadi tegang, ada rasa takut yang menjalar di tubuhku ketika pertemuan dengan seorang petinggi-petinggi ini.

Mataku terus saja menatap sana-sini, para budak dan pengikut Meneer ini sebanyak 9 orang; 3 orang Belanda yang tepat di belakangnya, 1 pribumi penerjemah tepat di sebelahnya dan 5 orang sisanya adalah kereta manusia.

Setelah beberapa menit perbincangan yang terjadi, aku hanya memahami beberapa kata yang terucap di antara 4 orang berkulit putih itu.

Baca Juga  Sase (Pemasin)

Mereka hanya pribumi rendahan, kotor, tak tunduk,” hanya beberapa saja yang aku ketahui.

Hatiku terasa panas, geram dan terluka. Ketika umpatan-umpatan itu keluar dari mulut yang menjajah negeri kami ini.

Aku berdiri di depan rumahku; rumah panggung khas Melayu Bangka yang berusia lebih dari satu abad yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pertemuan singkat ini berakhir seperti biasanya-tanpa kesepakatan, Meneer itu berjalan dengan wajah marah; memerah dan ekspresi keangkuhan itu keluar dari rumah, mengumpat-umpat dengan bahasa Belanda yang tak kupahami.

Entah sudah beberapa kali utusan Belanda itu datang dengan hasil yang sama.

Sial. Ingin rasanya diriku membungkam mulut tua itu dengan  tanganku sendiri.

Sayangnya, aku harus menahan semua itu. Seperti perintah bapak, jangan ada darah yang tumpah di tanah suci ini.

*

Bapak-seorang Tutue[2] bagi kami, Suku Maras.

Orang yang disegani, peduli dan memegang teguh pada sebuah janji.

Di sisi lain, dia adalah bapak bagi anak-anaknya, suami bagi istrinya.

Di balik wajahnya yang tenang, aku tahu bahwa hatinya sedang gusar, memikirkan segala cara untuk menolak kehadiran para pengusik ke tanah suci ini, Gunung Maras.

Pria tua ini berdiri di depan teras rumah beratap daun rumbiak, matanya sendu menatap tempat yang dikeramatkan.

Aku mendekatinya, seperti anak kecil yang bisa menangkap kekhawatirannya.

“Kenapa bapak?” tanyaku-berdiri di sebelahnya.

Baca Juga  Abu-abu

Bapak hanya tersenyum, garis keriput nya mulai tampak menggurat pipinya.

“Gunung Maras adalah tempat suci, tempat dikeramatkan oleh Tetue²,…” menatapku, menatap calon penerusnya. “… mereka ingin melubangi, merusak keselarasan alam yang kita jaga. Dan bapak tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi,” pria setengah abad itu mengelus, aku bisa menangkap rasa kekhawatirannya teramat dalam.

“Kenapa mereka ingin melubangi?” aku masih tak paham.

Sejauh ini, gunung Maras adalah ketenangan dan ke spiritualan bagi kami, suku Maras yang hidup bergantung dengan alam dan hasil hutan dari Gunung Maras, lalu kenapa mereka para Meneer-meneer itu ingin mengusiknya?

“Bijih timah. Para meneer-meneer itu ingin mengambil bijih timah yang ada di dalam tanah. Ingin menguasai dan melubangi tanah suci leluhur kita. Bapak tidak akan tinggal diam, melihat tanah kelahiran bapak ternodai dengan ketamakan dan keserakahan para penguasa!” ucap bapak yang terasa begitu menyentuh hatiku, tersayat begitu nyeri ketika bersinggungan dengan para leluhur.

*

Hari mulai petang dan malam segera datang, terlihat samar-samar cahaya ke oren-orenan di langit membumbung tinggi, angin dari puncak gunung Maras turun ke dataran dengan sentuhan yang menggairah ketika bersentuhan dengan kulit.

Malam ini, bapak bersama para sesepuh dusun dan warga sudah berkumpul di balai kampung yang dibangun dengan kayu Nibung, bambu, beratap daun nipah dan kayu rotan pada lantainya, berdiskusi perihal apa yang harus mereka lakukan terhadap para penguasa Belanda yang menginginkan gunung Maras yang suci.

Baca Juga  Putih Gelap Hitam Terang

Aku duduk bersila bersama adikku, Anim ikut berkumpul di balai adat yang hanya diterangi oleh lampu dimar; remang-remang.

“Apakah kita mengikuti perintah mereka. Menyerahkan dengan damai Gunung Maras ke para penguasa. Apakah ini tepat?” ungkap sesepuh yang sudah renta, dengan wajah yang risau akan kehilangan tanah kelahirannya.

“… kita tidak bisa tinggal diam, ketika mereka berbuat seenaknya,” sahut pria dengan janggut yang lebat,

“… tapi mereka adalah penguasa? Bahkan Sultan Agung tidak bisa menghentikannya…” Bari-pemuda desa ikut menimpali diskusi malam ini.

Mereka semua larut dalam kecemasan, mereka tidak bisa menyembunyikan rasa itu di hadapan bapak.

Sebagai pemimpin, pendapat dan keputusannya adalah sesuatu yang dinanti-nanti oleh semua orang.

Dengan ketenangannya, aku tahu bahwa bapak sedang memikirkan cara terbaik dari masalah ini.

“Aku akan ke Gunung Maras. Meminta petunjuk dengan Tetue-“, seketika semua orang yang ada di balai adat terdiam.

Semua tampak menyetujui; walaupun sebagian terlihat resah.

Hingga diujung malam, semua orang akan mengantarkan bapak ke ujung jalan menuju puncak.

*

“Kenapa?”

“Para penguasa sudah melakukan penggalian di Menjang Merah, Abun…”, Bari tertatih-tatih menyampaikan informasi penting ini kepadaku.

Semenjak bapak pergi ke puncak, semua informasi dan keluhan warga Kampong Marasan disampaikan kepada diriku, calon penerus ketua suku Maras.

Sudah hampir dua belas hari sejak bapak pergi ke puncak, bapak masih belum turun gunung.