Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

Awal cerita dimulai ketika ombak datang menerjang pantai Kute yang berpasir putih.

Seekor Elang laut terbang keluar di antara pohon-pohon nipah berbatas dengan sungai muara.

Perahu berlabuh di tepian pantai, diikat di bebatuan, nafas terengah-engah berlari ketakutan mendatangi keramaian.

Seorang nelayan dengan jiwa yang gusar dan hati yang gelisah.

Berteriak di pertengahan kampung nan rimbun, tempat awal mengeja kata.

“Belanda sudah datang, Belanda sudah datang, Belanda sudah datang…!!!

Suasana kampung yang damai seketika berubah, berdiri kaku tak bersuara, takut akan masa depan yang penuh celaka, menyirnakan impian dan kedamaian, menjadi beban dan pikiran yang berantakan.

Tiada lagi senyum segar di hari itu, pintu rumah-rumah yang awalnya terbuka lebar menjadi tertutup rapat.

Anak-anak, perempuan muda hingga yang tua segera memasuki rumah mereka bersembunyi di balik dinding-dinding yang rapuh.

Tak lama datanglah seorang pemimpin dengan para pengawalnya di tempat itu, ia adalah kesatria tanpa istana dikenal dengan julukan Pangeran Kute.

Dengan penuh keheranan pengeran itu bertanya “Apa yang sedang terjadi wahai rakyat ku?”.

“Belanda sudah datang wahai pangeran, mereka sedang berlayar menuju ke sini!” ucap seorang nelayan sambil ketakutan.

Baca Juga  Di Bawah Langit yang Mulai Kabur

“Kumpulkan semua rakyat kita, ajak mereka ke tepian pantai, tutup semua jalur sungai-sungai, jangan biarkan mereka masuk!” ucap Pangeran.

Semua rakyat berkumpul di tepian Pantai Kute, tempat itu dekat dengan markas pangeran sebagai Benteng Pertahanan Kute.

Perasaan waspada melahirkan persatuan dan semangat juang rakyat Kute.

Tidak ada perbedaan yang memisahkan, tua muda, kaya miskin, bersatu padu mengikat janji yang mereka kukuhkan untuk bangsa.

Dengan membawa bambu runcing, pedang panjang, panah bambu hingga beberapa meriam, sepertinya kurang cukup untuk menghadang Belanda yang membawa kapal perang bersenjata beserta bala tentaranya.

Memikirkan hal itu, Pangeran Kute merencanakan sebuah ide.

Berdiri di gundukan tanah yang cukup tinggi, ia memerintahkan kepada rakyatnya “Wahai rakyatku, sungguh aku tak akan gentar melawan Belanda, karena aku bersama kalian yang kuat, yang berdiri kokoh, yang berani tanpa ada perasaan ragu yang beranak di hati, untuk itu mari kita berjuang bersama membela tanah air kita, hidup Kute!”. ucap Pangeran.

Semua rakyat ikut berteriak, “Hidup..!”

“Aku tahu senjata kita sangatlah kurang, maka dari itu bantulah aku, kita buat mereka takut bukan kepalang, pulang sebelum air laut mulai pasang!” ucap Pangeran.

Baca Juga  Kapan Bapak Jualan?

Semua rakyat di tempat itu terdiam, memahami akan maksud pangeran, mereka menoleh kekiri dan kekanan. Dalam hati mereka bertanya, “dengan cara apa dan bagaimana membuat Belanda takut?”.

Sontak Pangeran Kute kembali berucap, “Tebang seribu pohon kelapa yang ada di Kute ini, ambil batang-batangnya yang lurus, hamparkan dan dirikan laksana meriam yang berjejer mengarah ke laut, jadikan batang-batang itu seperti Meriam untuk mengelabui Belanda yang akan mengintip dari tengah lautan, cepat berjuanglah wahai rakyat Kute, kita tidak akan kalah!” ucap Pangeran.

Mendengar akan hal itu, rakyat Kute bergegas menebang pohon-pohon kelapa dari tepian pantai hingga yang berada didalam perkampungan.

Tidak membutuhkan waktu lama, semua batang-batang kelapa sudah berjejer laksana meriam. Meriam itu diberi nama sebagai Seribu Meriam Kelapo.

Nampak dari kejauhan, kapal-kapal perang Belanda sudah mulai terlihat, layar kapal yang mekar berkembang meremas hati rakyat Kute.

Mendesak kebiruan langit dengan bayang-bayang hitam di tengah lautan.

Kehadirannya menggetarkan gelombang yang terus menerus menghempaskan ke bibir pantai.

Derai angin membuat sunyi senyap, hanya serunai ilalang yang terdengar, butiran keringat terus mengalir dan menetes dari tengah dagu dan janggut-janggut orang tua.

Baca Juga  Pantun: Menyambut Maulid Nabi

Mereka sudah bersiap laksana pemburu yang siap memburu mangsanya.

Kapal Belanda semakin dekat, laju kapalnya berhenti di pulau kecil layaknya bebatuan ditengah lautan, tak jauh dari daratan Kute.

Belanda meneropong kondisi daratan Kute dari kapalnya.

Mereka terkejut dengan hamparan meriam besar yang sangat banyak berjejer ditepian pantai itu.

Ditambah lagi asap-asap yang sengaja dibuat oleh Pangeran Kute, seolah bersiap menembak ke arah laut.

Langkah Belanda terhenti untuk menepi ke daratan Kute. Mereka terpaksa membatalkan niat mereka untuk masuk dan menguasai Kute, kembali pulang ke tempat mereka dengan penuh rasa kecewa.

Sedangkan didaratan, Rakyat Kute sedang tersenyum lega melihat kapal-kapal belanda mulai menjauh dari mereka. Senda tawa bergemuruh, di parit, di sungai, di hutan hingga belukar di sisi kiri kanan replika  meriam batang kelapa.

Rakyat Kute sangatlah bahagia, akan tetapi Pangeran Kute tetap mewaspadai kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Tidaklah mudah untuk menundukan Belanda, ia percaya bahwa Belanda tidak akan langsung menyerah begitu saja.

Maka dari itu, ia tetap menyuruh rakyat Kute untuk tetap terus bersiap dan berjaga disepanjang tepian pantai Kute.