Pertempuran Banka Kotta
Pagi, siang, malam hingga dari darat sampai lautan, rakyat Kute tak pernah berhenti untuk berjaga-jaga.
Benar adanya di kemudian hari Belanda kembali berlabuh di tempat kemarin, namun mereka selalu gagal mencoba peruntungan dan mendapatkan celah untuk masuk ke Kute.
Bertahun-tahun berlalu membuat Belanda frustasi akan kegagalan yang terus berulang-ulang.
Sehingga mereka harus menyiapkan suatu rencana yang terkesan baik atau buruknya untuk kepentingan mereka. Salah satu rencananya adalah menjebak para nelayan hingga menyanderanya.
Pada waktu itu tepat disiang hari, di kala matahari sedang bersinar baik, awan-awan yang berjalan melayang jelas terlihat di langit.
Seorang nelayan dengan menggunakan kapal kecil membawa satu orang anaknya, berniat ingin menangkap ikan di laut Kute.
Namun yang terjadi malah mereka yang tertangkap dan tersandera oleh Belanda.
Naas nasibnya, mereka disiksa di atas kapal Belanda, sambil ditodongkan senapan tepat di atas kepala.
Nelayan itu menangis, memohon kepada Belanda untuk jangan menyiksa anaknya.
Nelayan itu mengakui bahwa ia tidak tahu menahu akan wilayah Kute.
Mereka hanyalah pendatang yang berdiam di wilayah Parmisan.
Terlebih lagi ia hanyalah seorang ayah yang tidak tega melihat anaknya tersandera oleh Belanda.
Penuh dengan rasa terpaksa ia harus memberitahukan celah untuk memasuki wilayah Kute.
Kute dan Parmisan adalah wilayah yang berdekatan. Namun untuk memasuki Kute melalui Parmisan akan membutuhkan waktu yang lama harus melalui hutan belukar, lembah di kaki Bukit Parmisan, serta beberapa anak sungai yang mungkin saja terdapat hewan-hewan melata hingga buaya-buaya yang ganas.
Mendengar akan hal itu Belanda membelokan arahnya ke tepian pantai Parmisan.
Pantai yang dipenuhi dengan bebatuan membuat bala tentara Belanda harus berjalan menyusuri air laut untuk mencapai ke daratan.
Melawan deburan ombak bak gulungan halimun diwaktu yang sudah memasuki senja.
Matahari sudah mulai tenggelam, dan gelap malam menyempurnakan rencana yang disusun oleh Belanda.
Berjam-jam Belanda menyusuri jalan memasuki wilayah Kute. Hingga tiba waktu tengah malam, mereka berhasil memasuki wilayah Kute.
Dalam gelap dan senyap Belanda mengepung seluruh wilayah Kute.
Diam-diam mereka masuk ke rumah-rumah warga.
Tanpa disadari warga Kute sudah tidak bisa lagi berkata-kata apa pun, hanya rintihan tangisan, ketakutan yang bisa mereka keluarkan.
Tak berdaya, sembari melindungi keluarga, memeluk anak, istri mereka sendiri.
Tidak ada lagi pertolongan, musnah harapan ketika senapan sudah mengarah kehadapan mereka.
Serentak terdengar suara tembakan “ Daaaaaaaarrrrrrrrrhhh…”.
Malam yang kelam, celaka terbesar yang dialami warga Kute, menjadikan selaksa peristiwa berdarah yang tak bisa lagi dihindari.
Serupa daun-daun yang gugur ditumbangkan dan dirajut oleh kebiadaban Belanda.
Hanya sedikit warga yang bisa lolos dan melarikan diri ke wilayah Sungai Selan.
Warga lainnya harus lenyap dalam petempuran gelap pada malam itu.
Tersisa satu orang pengawal dan Pangeran Kute yang terluka parah akibat tembakan Belanda.
Mereka melarikan diri ke arah Bukit Kura-kura. Namun luka parah yang dialami Pangeran Kute sangatlah parah, nafas yang sesak membuat ia tidak mampu lagi untuk berjalan lebih jauh lagi.
Ia sangat tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, pangeran dan pengawalnya sangat keheranan, siapa yang telah berkhianat dan siapa yang memberikan arah dan jalan masuk ke wilayah Kute. “Apa yang sebenarnya terjadi”.
Tak lama kemudian mereka berhenti dalam perjalanannya menuju Bukit Kura-kura, sembari memegang luka yang amat perih, Pangeran hanya bisa berpesan kepada pengawalnya,
“Wahai saudara ku, cukup di sini saja, tubuhku sudah tidak kuat lagi untuk beranjak jauh, sampaikanlah pesan ku kepada seorang pejuang dari Tanah Rimba, dikenal sebagai Pendekar Silat Sambut yaitu Batin Tikal, ceritakan kepadanya apa yang telah terjadi dan katakanlah padanya kembalikan kejayaan Kute seperti dulu kala”.
Pangeran Kute menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan itu, hilang bersama bintang yang berubah menjadi mendung dan akan berganti dengan hujan.
Di sisi lain, Belanda sangat berpuas hati berhasil menaklukan Kute, menggenggam wilayah itu dengan tidak manusiawi.
Tertulis dalam Aksara Pena mereka “Overgave”.
Semua rumah warga kute pun hangus terbakar, gelap menjadi terang oleh api yang membumi hanguskan perkampungan, setelah kejadian itu jasad-jasad warga yang gugur dimakamkan di tempat, sehingga disekeliling perkampungan itu menjadi hamparan makam-makam yang bertebaran. SELESAI
Penulis adalah Pamong Budaya Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.