Meminta Keadilan Peperduur
Karya: Sudi Setiawan
CERPEN, TIMELINES.ID – Kudengar beberapa kapal-kapal barat itu telah bersandar di dermaga Minto[1], berita burung dari temanku-Ajab- mereka sudah dua minggu melabuh di pesisir barat pulau Bangka.
Yang kutahu, kapal-kapal itu akan membawa lada beserta bijih timah meninggalkan pulau ini.
Aku meremas pahaku, pikiranku terus saja terusik dengan pemberitaan pembayaran upeti tahun ini yang naik per kati[2].
Sebagai seorang bapak dan petani lada, hati bergejolak setiap detiknya.
“Pak. Apakah aku harus melakukan perlawanan?” tanyaku kepada bapak sembari menyesap kopi hitam buatan istriku.
“Jangan gila. Kau ingin berakhir dengan makam tanpa nisan dan meninggalkan anakmu?” jawabnya menatapku penuh kekhawatiran, bapakku bukanlah seorang petinggi yang penuh kekuasaan.
Dia hanya seorang kaum rendahan yang kerap-kali menjadi suruhan para petinggi kulit putih itu.
“Tapi-”
“San, bapak tahu kau terganggu dengan keadaan kita. Sekali lagi, pikirkan tentang rencanamu,”
Benar, mungkin aku terlalu terburu-buru menyikapi semua ini. Tapi apakah dengan berdiam dan berlindung di balik dinding bambu ini akan menyelesaikan semuanya? Perasaan itu terus mengganjal hatiku.
*
Aku mencium bau yang begitu menyengat. Bau dari aroma-aroma kemiskinan dan kesengsaraan kami; orang-orang tanpa takhta dan kekuasaan di negeri sendiri.
Berjalan dengan memikul sekarung lada yang sudah dikeringkan, berharap dengan harapan bahwa lada ini menyelamatkan nyawa kami.
Kudengar, orang-orang dari Singkek[3] dan Johor itu mengeluh tentang harga timah yang murah dibandingkan lada.
Muncul secercah harapan bahwa lada ini menyelamatkan dari bencana kelaparan.
“Beri dia setengah pikul beras,” ucapnya, laki-laki berjanggut lebat dengan berambut pirang-panjang.
“Tuan, bisakah aku mendapatkan lebih banyak? Istriku akan segera melahirkan. Dan kami perlu beras lebih banyak,” melasku mencoba negosiasinya.
Laki-laki itu mendecih, lalu menatapku hina.
“Kudengar kini lada mahal, bahkan lebih mahal dari bijih timah”.
Setelah memberinya penjelasan, bukannya memberiku lebih banyak beras yang seperti yang harapanku.
Dia bersama antek-anteknya malah menendangku keras sampai aku tersungkur ke tanah. Bruk! Benturan keras ke tanah penuh kerikil itu membuatku mengeluh kesakitan.
“Kau pikir siapa dirimu?” Nadanya meninggi diikuti dengan mengangkat baju lusuhku; tatapan penindasan.
“Usir dia dari sini!”
Kabar bahwa diriku dipukul oleh petinggi Belanda telah sampai ke desa; kabar serupa angin yang cepat berembus.
Bapak mendatangiku di rumah dengan segenap risau di dada.
Aku duduk di atas kursi kayu, di sebelahku ada istriku yang membasuh lukaku dengan air hangat. Pelan-pelan meniup agar tidak terasa nyeri.
“Sudah bapak bilang San mere,” lontar si laki-laki tua itu ketika masuk ke rumah.
“Aku tidak apa-apa pak. Aku hanya mengkhawatirkan keluargaku. Itu saja,” jawabku.
“Bang,” istriku mencoba menahanku.
“Aku tidak bisa tinggal diam. Melihat mereka merendahkan kita semua. Siapa mereka? Sehina itukah kita”
Aku sudah terbakar emosi di dalam dadaku, sudah cukup bagiku menelan pahitnya kehidupan di bawah kekuasaan yang zalim.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, bapak hanya diam tak bisa membantah lagi perkataan ku yang selama ini selalu aku suarakan.
Mayang; istriku menggenggam tanganku penuh luka dan cemas lalu Bapakku berdiam diri tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.