Senja di Pagi Hari
Karya: Khoiriah Apriza
CERPEN, Suasana pagi itu cukup mencekam.
Terlihat seorang perempuan berpakaian elegan nampak duduk tenang sambil bersedekap dada.
Di depan ada mantan suaminya yang nampak datar menatap wajah mantan istrinya.
“Aku minta hakku atas semua harta yang selama ini aku cari,” ujar perempuan anggun tersebut.
“Semua harta yang kau cari sudah kau habiskan bersama selingkuhan mu itu,” jawab mantan suaminya menyindir.
“Jangan lupa kau Lukman, Aku masih berhak atas rumah ini,” peringat Rachel tersenyum miring.
“Baik, Kita jual rumah ini. Hasilnya bagi dua,” tawar Lukman.
“Baiklah kalau begitu, aku setuju,”
“Hak asuh Danendra akan jatuh di tanganmu, aku tidak mau mengurusi anak bisu itu,” ujar Lukman, Ia menyilangkan kaki sebelah kirinya.
“Aku tidak mau, aku akan pergi keluar negeri bersama pacarku,” tolak Rachel mentah-mentah.
“Kau ibunya Rachel”
“Dan kau juga ayahnya kalau kau lupa,” ujar Rachel angkuh.
“Aku sibuk dengan urusan bisnis ku,”
“Aku juga sibuk dengan kekasih baruku,” bantah Rachel tak mau kalah.
“Aku harus pergi sekarang, Kekasihku sudah menunggu di luar. Aku ingin segera kau transfer hasil penjualan rumah ini,” lanjut Rachel.
Selepas mengatakan itu, Rachel pergi meninggalkan Lukman yang sedang menahan amarahnya.
“Ini semua gara-gara anak bisu itu! Aku kehilangan Rachel istri yang kucintai, aku kehilangan kebahagiaanku! Dasar anak tidak tau diri! Danendra!” teriak Lukman dengan kencang.
Terlihat dari sudut meja seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun sedang menangis. Kedua matanya memerah, pipinya basah karena air mata, tubuh dan tangannya gemetar hebat.
Lukman mencari Danendra. Tetapi tidak menemukannya. Hingga Lukman mendengar suara tangisan dari balik meja makan.
Lukman segera menunduk dan melihat ke bawah kolong meja. Terlihat Danendra kecil menangis di sana.
Dengan amarah, Lukman menarik tangan kanan Danendra. Karena terlalu kencang, Kepala Danendra terbentur meja. Ia hanya bisa menangis tanpa bisa memberontak.
Lukman menampar wajah Danendra dengan kencang. Lalu menunjuk wajah Danendra dengan amarah.
“Dasar anak tidak tau diri! Gara-gara kamu Ayah dan Ibu bercerai! Anak pembawa sial!” teriak Lukman.
Danendra hanya bisa menangis.
“Ayo bicara! Dasar anak bisu!” bentak Lukman lalu pergi meninggalkan Danendra yang menangis.
“Maafkan Danendra Ayah, Maafkan Danendra,” ujar Danendra dalam hatinya.
*
Tanpa sadar, Waktu berjalan begitu cepat. Danendra kini telah berumur tujuh belas tahun.
Wajahnya semakin tampan dengan rambut poni yang sedikit panjang hampir menutupi alisnya.
Danendra nampak asik menggowes sepeda memasuki gerbang sekolahnya. Sekolah elit yang hanya dipenghuni oleh anak-anak konglomerat.
Salah kalau kalian berpikir Danendra bersekolah di sini karena dibiayai oleh Lukman, ayahnya.
Danendra dapat bersekolah di sini karena hasil beasiswa. Dibalik keterbatasannya dalam berbicara, Danendra ternyata sangat pintar di bidang matematika.
Berkali-kali ia mendapatkan juara olimpiade matematika.
Pernah suatu ketika, ia pulang sekolah membawa piala olimpiade matematika tingkat SMP.
Danendra memasuki ruang pribadi Lukman sambil membawa piala kebanggaannya.
Danendra tersenyum sambil menunjukkan kepada Lukman seolah berkata, “Ayah, aku mendapatkan juara satu olimpiade matematika tingkat nasional,”
Lukman saat itu tidak menghiraukan Danendra. Ia malah asik mengerjakan tugas kantornya.
Danendra tak putus asa, ia meletakkan piala di atas meja ayahnya. Lalu melakukan bahasa isyarat yang berati “Ayah, Lihat dulu pialanya. Danendra juara lagi olimpiade matematika,”
Lukman menggebrak meja. Ia memandang marah Danendra.
“Keluar, jangan ganggu saya. Lain kali jangan masuk ruangan pribadi saya tanpa izin,” ujar Lukman dingin.
Danendra hanya bisa menundukkan kepalanya. Dengan hati sedih, ia membawa pialanya Keluar.
Sampai di depan pintu, Lukman memanggil namanya. Danendra segera berbalik dengan raut wajah senang.
“Satu lagi, Saya tidak pernah peduli dengan semua prestasi yang kau miliki. Di mata saya, kamu tetap anak yang tidak berguna,”
Bagaikan disambar petir di siang bolong, hatinya begitu sakit saat mendengar perkataan ayahnya.
Walaupun tidak terlalu jelas terdengar, tetapi Danendra bisa melihat dari gerak bibir ayahnya.
Danendra memang diciptakan sebagai anak yang istimewa. Berkali-kali dipukul ayahnya, tidak dihargai jerih payahnya, selalu dikatai anak pembawa sial, belum lagi ibunya yang pergi meninggalkannya, Danendra selalu sayang kepada kedua orangtuanya.
Seperti senja di pagi hari, yang mustahil keberadaannya. Seperti itulah Danendra di mata kedua orang tuanya.
Danendra memarkirkan sepedanya.
Ia berjalan menuju kelas dengan wajah menunduk.
Banyak orang di sekolah yang tidak menyukainya.
Mungkin karena Danendra selalu menang olimpiade, atau mungkin karena Danendra bisu? Entahlah Danendra tidak pernah tau alasan jelasnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.