Karya: Putri Simba

Aku kembali pada memori ingatan 4 tahun silam. Ibu membelai rambutku, menatapku iba, seraya berkata, “Jika dunia ini tidak memberimu kesempatan untuk bernyanyi, atau ia tidak ingin mendengarmu bernyanyi, maka Ibu adalah satu-satunya orang yang siap mendengarmu, mendengar suara indahmu,” ujarnya lembut padaku.

“Iya, Bu, aku pasti akan selalu bernyanyi dengan merdu dan akan membanggakanmu,” jawabku singkat sambil memeluk ibuku hari itu.

Perlahan air mataku berlinang menatap wanita renta yang memangkuku penuh kehangatan. Matanya yang sendu, dan senyumnya yang layu, kian menggetarkan jiwaku yang sedang pilu, karena tertusuk belati yang datang dari lidah mereka, orang-orang kota.

Kembali Ibu membelai rambutku dengan penuh kemanjaan, seraya berkata, “Bernyanyilah untuk dirimu dan biarkan orang lain memberikan penilaian. Nikmatilah setiap nada yang keluar dari mulutmu, karena ia adalah bagian dari hatimu,” ucapnya lagi dengan lembut kepadaku.

Baca Juga  Denting Kristal di Atas Perut Lapar

“Sayangku, jangan takut orang lain tidak mendengarkanmu bernyanyi. Percayalah, karena Ibu yang akan selalu mendengarkan suara indahmu.” Lagi dan lagi ibuku terus berkata seperti itu kepadaku dengan lembut yang membuatku terus beryanyi merdu.

Saat beliau berkata seperti itu, duka menghampiriku juga Ayah, ibuku yang menasihatiku dengan tulus penuh cinta, pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Semoga mereka sudah tenang berada dalam kasih sayangnya Allah SWT.

Sebulan sudah ibu meningalkan kami dan membuatku merenung sedih, belum siap untuk menerima kehilangan nya. Aku memutuskan untuk kembali bernyanyi dengan merdu sesuai apa yang beliau katakan kepadaku dan membuatnya bangga akan pencapaianku.

Lambat laun waktu terus berjalan, empat tahun sudah aku bersama ayahku, selalu direndahkan orang -orang. Kini aku sedang meniti kata sukses, meningkuti kompetensi lomba vokal solo tingkat Nasional. Aku membawakan sebuah lagu spesial untuk menyentuh hati semua orang, di panggung.

Baca Juga  Aku Pamit

“Kaulah ibuku cinta kasihku, terima kasihku takkan pernah terhenti, kau bagai matahari yang selalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatanmu,” ucapku bernyanyi di hadapan para juri dengan penuh haru.

Ketika aku tak sanggup lagi bersuara, lagu yang berjudul “Ibu” benar-benar bagai menghentikan nafasku. Jantungku berdebar setelah selesai menyanyikan lagu itu. Juri hanya tertunduk bisu tanpa kata. Ratusan penonton mengusap mata. Aku hanya tersenyum dengan linangan air mata menatap mereka sehingga ada 1 orang yang menghampiri memelukku, dan ya, ternyata itu adalah ayahku.

“Sudah anakku, janganlah engkau menangis, ayo kemarilah, peluklah ibumu ini,” ucap ayahku ketika naik ke panggung saat menghampiriku.

“Ayahhhhhhhhh,” jawabku sambil memeluknya dengan erat, lalu menciuminya dengan penuh kasih sayang.

Baca Juga  Melankolia dalam Bait Aksara