Karya: Sudi Setiawan

Kembang desa memang benar adanya. Demikianlah pujiannya kepada Rayu, perempuan yang belum genap enam belas tahun itu. Di kampungnya, banyak para laki-laki menaruh hati, kesempatan dan upaya-upaya untuk mendekati dirinya.

Bagaimana tidak, Rayu terkenal sebagai dayang yang molek, ceria pada rupa dan baik dalam tuturnya itu mampu membuat banyak laki-laki kesemsem kepadanya.

Rayu sendiri anak Pak Toan. Pemilik kebun nanas yang ditanam di kaki Bukit Cundong yang masih rumpun beranak dari Bukit Maras.

Pak Toan dikenal sebagai juragan nanas, bukan hanya julukan tetapi kekayaan yang dimiliki laki-laki yang kerap bersongkok itu sudah kondang di kampung Aras. Bukan hanya Rayu kerap ingin dipinang, bapaknya tak luput dari kabar yang sama.

Rayu adalah anak bungsu dari dua bersaudara, kakak laki-laki bernama Jalil memilih ikut dengan istrinya ke kota. Setelah menikah, kakak laki-lakinya jarang pulang ke rumah. Sekadar menjenguk bapak dan adiknya sendiri.

Rayu jadi ingat, sebelum Emak meninggal berapa tahun lalu. Abang berkelahi dengan bapaknya sendiri perkara abang tak ingin menikahi calon istri pilihan bapak. Pilihan itu sudah bagus menurut Pak Toan yang hendak menjodohkannya dengan anak Pak Kaswadi, pesaing beratnya berladang.

Pak Kaswadi memberinya tawaran, apabila anak laki-laki sulungnya menikahi anak perempuannya yang kurang waras. Ia akan berhenti bersaingan dengannya, dengan imbalan sepetak ladang nanas di seberang bukit miliknya. Karena itulah, Pak Toan bak seperti tertimpa durian di musim paceklik.

Baca Juga  Balai Damai

Bapak samalah dengan bapak yang dikenal Rayu sedari dulu, sebab itulah Abang Jalil memilih merantau tak ingin pulang karena tak tahan dengan keinginan bapak. Masih ingat pula di benak Rayu, menangkap kepingan ingatan ketika Abang pamit kepada emak diam-diam yang sedang jatuh sakit di tengah malam.

Bagi bapak, anaknya adalah sebuah rupa benda yang memiliki harga. Ada raga, ada harga yang harus dibayar.

Karena itu pula, Rayu hendak dijodohkan dengan laki-laki yang dianggap mampu membelinya dengan harga yang setimpal. Pak Toan tertawa ketika mengkhayalkan pundi-pundi kertas merah itu datang sebagai mahar.

*

Rencana pernikahan Rayu segera dilaksanakan. Semalam calon besan datang dengan bingkisan olahan kebun yang segar, tetapi layu di dalam hati perempuan yang berhias menawan. Seperti kata bapak sebelumnya, Rayu akan dijodohkan dengan laki-laki yang dianggap bapak dapat memberinya sesuatu yang pas dengan isi hati.

Apalagi, Rayu adalah dayang molek yang baginya adalah berlian yang berharga tinggi.

Berbeda dengan Abang Jalil, calon suami bagi Rayu merupakan laki-laki yang sudah cukup mentereng dengan jabatan yang telah diampu. Di usia yang masih muda sekalipun, namanya sudah digaung-gaungkan akan maju di pemilihan kepala daerah.

Baca Juga  Lorong bukan Gorong-Gorong?

Bagi bapak, usia laki-laki matang adalah terpandang di masyarakat. Itulah sekiranya bapak menorehkan kata-kata pemanis bagi Rayu yang gamang walaupun tanggal perhelatan telah ditentukan.

Rayu sendiri tak bisa berbuat banyak. Lain hal dengan Abang Jalil yang bisa lari sendirian. Meninggalkan rumah dengan semua kesuntukan di balik dinding keserakahan. Benak Rayu masih kusut. Sesuatu yang masih terlalu dini untuk memakan kenyataan yang akan ia lalui. Rayu terus saja melamun, entah apa yang bisa ia lakukan saat ini.

“Rayu. Besok kau datang menemui Nek Nyih. Minta azimat agar kau terjaga dari nafsu-nafsu laki-laki lain”. Perintah bapak, menyesap linting tembakau kering yang dibawa dari calon besan.

“Rayu tak yakin, Pak,” jawab Rayu. Amat tersirat di wajahnya yang redup keraguan.

“Sudah. Ikuti saja apa yang bapak katakan. Sebelum petang, datangi Nek Nyih sembari membawa beras dan juga minyak. Jangan lupa, bawa juga foto calon suami,” tegasnya, Rayu tak kuasa menolaknya.

Rayu mengangguk pelan. Tak ada kata “tidak”, selain kata “iya” dari titah bapak yang begitu kuat terpatri di kepalanya sendiri. Dia harus menuruti keinginan laki-laki itu dengan lapang dada, walaupun sesak, Rayu hanya mendesak-desak tangannya sendiri ke dadanya agar terasa lega.

Baca Juga  Lidah di Panggung, Hati di Ruang Gelap

Sebelum matahari terlelap di peraduannya yang gelap, Rayu mendatangi rumah gubuk yang semalam bapak jelaskan padanya. Dengan berbekal keraguan yang dalam, ia datang dengan bawaan yang begitu memberatkan jemarinya.

“Permisi,” ucap Rayu samar-samar.

*

Di meja kayu milik toko kelontongan Yuk Arindit. Bapak dengan gelas kopi yang telah nahas habis di sesap dan tangannya yang menyesap tembakau linting duduk santai tak banyak pikiran. Samar-samar rupa Pak Toan amat senang tak karuan.

Pondok kayu yang menyambung dengan rumah di belakangnya ini adalah tempat singgah yang pas, sekaligus menjadi rumah kedua baginya. Dimana ia, melepas kepenatan sebagai seorang bapak sekaligus lelahnya memandori buruh yang bekerja di ladang.

Arindit menyuguhkan tempe goreng olahannya kepada laki-laki duda itu. Sembari melempar rayuan perempuan yang sudah lama tak dibelai laki-laki.

“Kudengar. Rayu akan dipinang oleh laki-laki dari desa seberang, Bang?” tanya Arindit. Sapaan manis yang kerap dia panggil.

Dengan helaan nafas pendek, laki-laki berkumis tebal hitam itu mengangguk pelan.

“Jadi setelah Rayu menikah, setelahnya adalah aku kan?” sambungnya lagi, bergairah semangat.