Karya: Sheila Fiorencia Caroline

Sekilas dilihat, kau akan mengira itu hanya sebuah buku diary biasa. Sebuah memo yang ditulis oleh seorang gadis kecil berusia sembilan tahun bernama Jingga. Sebuah memo yang penuh imajinasi atas kehidupan sederhananya sebagai anak bungsu perempuan satu-satunya dari empat bersaudara.

Namun, yang tidak banyak orang ketahui ialah apapun yang ditulis Jingga pada buku itu akan menjadi kenyataan. Sulit untuk dipercaya memang, namun begitulah kenyataannya.

Ketika itu Jingga sedang duduk sendirian di bawah sebuah pohon besar. Ibunya menyuruhnya bermain dengan ketiga kakaknya, namun Jingga tahu dirinya tidak akan bisa mengimbangi permainan mereka. Tubuh Jingga yang kecil juga tidak sepadan dengan tubuh kakak-kakaknya yang tinggi dan gempal.

Setiap kali Jingga mencoba ikut bermain, dirinya pasti terluka entah karena terjatuh atau terkena hempasan tubuh besar salah satu kakaknya. Karena itulah, Jingga memutuskan hanya menyaksikan ketiga kakaknya bermain. Namun, lama-kelamaan Jingga merasa bosan dan kesepian.

Kemudian, dia menengadahkan kepalanya ke langit sembari memejamkan matanya. Jinga berdoa agar Tuhan menjatuhkan seorang teman yang bisa ia ajak bermain.

Baca Juga  Cahaya Terang dalam Gelap

Tak berselang lama, seolah doanya barusan dikabulkan, jatuhlah seekor kucing berbulu putih dari balik dedaunan pohon di atasnya. Kucing itu kebetulan jatuh tepat di atas pangkuan Jingga.

Terkejut bukan main, Jingga hampir saja terperanjat sebelum menyadari itu hanya seekor kucing yang mungkin terjatuh dari atas ranting pohon. Jingga seketika merasa sangat senang ketika menyadari kucing itu sangatlah lucu dan cantik. Bulunya berwarna putih susu dan matanya sebiru lautan.

“Hai, kucing kecil! Bagaimana kau bisa ada di sana?”

“Meoww….” Kucing itu hanya mengeong pelan.

“Hmm… mungkin aku harus menamaimu terlebih dahulu. Karena bulu putihmu sangat indah, kurasa aku akan memanggilmu Vanilla. Yah, Vanilla! Apa kau kesepian juga, Vanilla? Ayo, bermain denganku!”

Setelah itu, Jingga langsung bermain dengan gembira bersama Vanilla. Vanilla akan berlari ke sana kemari dan Jingga akan mengejarnya. Selain itu, Jingga juga sesekali melempari sesuatu pada Vanilla sehingga kucing itu dapat mengejarnya dan membawakannya lagi kepada Jingga.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Waktu mereka semua kembali ke rumah setelah hampir seharian bermain. Jingga sudah menyiapkan jurus memelasnya agar dia diizinkan memelihara Vanilla. Kakak tertuanya, Juan, menyadari kucing yang Jingga bawa.

Baca Juga  Terhalang oleh Takdir, Lantas Kenapa Dipertemukan?

“Jingga, itu kucingnya ketemu di mana?”

“Namanya Vanilla, kak. Aku ketemu jatuh dari pohon tadi. Aku boleh pelihara tidak?” tanya Jingga seraya memelas.

“Kau yakin kucingnya tidak ada yang punya.”

“Tidak, aku yakin tidak ada yang punya. Jadi boleh tidak, Kak Juan?”

“Ehm… coba tanya Mama saja ya.”

Jingga pun segera mencari Ibunya yang berada di ruang keluarga sedang menonton televisi.

“Mama!” seru Jingga.

“Ah, Jingga. Kau bikin kaget saja. Eh, kucing siapa ini?”

“Tidak tahu, Ma. Tadi jatuh dari pohon, jadi Jingga ajak main. Kita pelihara saja ya, Ma?”

“Kau yakin kucing itu tidak ada pemiliknya, Jingga?”

Mendengar itu, ekspresi Jingga seketika berubah sedih, “Tapi aku masih ingin bersama Vanilla….”

“Vanilla? Haha, kau sudah menamainya ternyata.”

Sang ibu berpikir sejenak sebelum berkata, “Yaudah, malam ini kau boleh memilikinya. Tapi besok kita harus coba cari pemilik aslinya. Kasihan nanti pemilik aslinya mencari Vanilla. Tidak apa-apa ya, sayang. Nanti Mama sama Papa belikan kucing baru untukmu jika kau mau.”

Baca Juga  Bukan Aku

Jingga pun mengangguk dengan lesu. Sebetulnya dia masih menginginkan Vanilla dan Jingga merasa Vanilla dikirimkan Tuhan untuknya. Jingga pun berencana membersihkan Vanilla sehingga dia bisa membawanya ke kamarnya dan tidur bersamanya.

Pada malam harinya, seperti biasa Jingga akan menulis diary sebelum pergi tidur. Dia menceritakan pengalaman dan peristiwa yang ia alami hari ini. Mulai dari dia yang bosan melihat kakak-kakaknya bermain sementara dirinya tidak, sampai saat dia bertemu dan bermain dengan Vanilla. Pada penghujung memo, Jingga mengutarakan keinginannya.

Jingga berharap Vanilla bisa berbicara dan bertingkah seperti manusia supaya Vanilla dapat bersaksi bahwa dia ingin bermain bersama Jingga kepada orang tuanya. Setelah menuliskan semua itu, Jingga segera menutup bukunya, lalu menyimpannya ke dalam laci meja belajarnya.

Tak lupa dia mengucapkan salam tidur kepada Vanilla yang sudah terlelap di lantai samping kasurnya. Tepat pada pukul sembilan malam, Jingga pun tertidur.