Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Aku berjalan gontai menuju kamar Hafidzah. Mencoba mengenang wajah manisnya saat tersenyum. Agar gambaran mengerikan itu menghilang dari kepalaku. Supaya aku mengingatnya sebagai anak periang yang manis dan cantik. Akan tetapi, yang kutemukan justru di luar dugaanku.

Dua anakku yang masih hidup, tertidur dalam damai sembari saling berpelukan di atas ranjang yang dahulu milik Hafidzah. Napas konstan keduanya terdengar lembut dan menghangatkan hati. Sekilas aku menatap potret kebahagiaan Hafidzah yang dipajang di dinding, sebelum bergabung dengan  anakku.

Kupeluk mereka berdua dengan erat, tak ingin melepaskan mereka seperti aku melepas Hafidzah. Entah sampai kapan kedamaian ini, kedua kuharap putriku juga merasakan kedamaian yang sama seperti yang kurasakan sekarang.

Depresi

Gambaran mayat itu hilang dari pikiranku, digantikan oleh potret kebahagiaan Hafidzah. Betapa aku sangat merindukan senyum dan tawanya yang menggelegar. Tawa itu selalu menemaniku setiap hari, setiap saat. Sumber kebahagiaan bagiku sendiri.

Baca Juga  Asmaraloka

Kini, aku takut melanjutkan hidup tanpanya. Bahkan aku khawatir aku tidak bisa hidup sama lagi seperti sedia kala. Luka ini terlalu besar dan menyakitkan. Semangatku untuk hidup seolah memudar. Entah sampai kapan aku bisa menahan rasa sakitnya.

Setiap sudut ruangan rumah selalu mengingatkanku padamu. Setiap teringat wajahmu, aku sadar begitu besar pengaruhmu dalam hidupku.

Setiap melihat gambaran terakhirmu, saat itulah aku sadar aku telah melakukan kesalahan dan aku adalah Ibu yang buruk. Bahkan kedua anakku yang masih bertahan tidak pantas memiliki Ibu sepertiku.

“Bu….”

Suara itu terdengar samar-samar di telingaku, namun aku tahu itu suara anak sulungku. Dia duduk di samping ranjang tempat tidur di sampingku dengan tatapan sedih.

Aku sangat ingin memeluknya, namun tubuhku serasa mati rasa. Bahkan jiwaku ikut mati rasa.

Baca Juga  Bukan Cinderella

“Ibu belum makan sejak pemakaman Hafidzah. Makan dulu ya, bu. Ibu mau makan apa? Nanti aku masakin buat Ibu.”

Aku menatapnya dengan tatapan kosong tanpa arah sembari berkata, “Ibu gak bisa.”

Seketika itulah kudengar tangisnya pecah. Aku belum melihatnya menangis sejak Hafidzah hilang. Apa dia selama ini menangis dalam diam tanpa sepengetahuanku? Apa dia sama sakitnya denganku?

“Bu, tolonglah. Ibu gak mau makan, tidur pun gak pernah benar. Aku sudah kehilangan Hafidzah, aku gak mau kehilangan Ibu juga.”

Ingin kuberikan kata-kata penenang untuknya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, aku tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Aku tidak mempunyai energi untuk melakukan apapun, bahkan untuk berbicara. Aku berakhir diam membisu dengan tatapan kosong di sana.

Kurasakan tangan hangat anakku di tanganku yang kedinginan, “Bu, aku tahu kehilangan Hafidzah merupakan pukulan berat bagi kita, terutama Ibu. Sampai sekarang pun aku masih takut keluar rumah, karena setiap aku keluar rumah, aku selalu terngiang-ngiang Hafidzah.

Baca Juga  Ikhlas di Atas Luka

Tapi, aku sadar kalau aku harus berusaha ikhlas. Sudah kehendak Allah Hafidzah pergi, Bu. Aku tahu dia dibunuh, tapi aku yakin Allah maha adil. Aku yakin orang itu akan diganjar setimpal atas perlakuannya.”

Tanganku gemetar, lidahku kelu, dadaku terasa sesak. Hatiku teramat sangat sakit. Luka yang selama ini kutahan serasa ingin keluar semua. Aku menarik napas panjang sembari menyadari setetes air mata mulai turun.

Anakku melanjutkan, “Kami semua butuh Ibu. Adek, Bapak, bahkan aku butuh Ibu. Hafidzah juga butuh Ibu yang tegar melepaskannya agar dia tenang di sisi-Nya. Sakit pasti rasanya, aku tahu. Kami akan selalu ada buat Ibu.” Setelah itu, dia langsung memelukku.