Oleh: Pak Mo – Penulis yang Tinggal di Sungailiat, Bangka

Setiap pagi para noni-noni Belanda datang berkunjung ke Kelekak Batu untuk membeli dan memetik  bunga-bunga.

Bunga itu digunakan sebagai hiasan meja dan ruangan kediaman para Imperialisme Belanda yang ketika itu berada di Pulau Bangka tepatnya di Belinyu.

Kelekak Batu yang merupakan aset keluarga besar dari seorang Buyut Syamudin yang terawat, terjaga dan terpelihara dengan baik.

Selain ditanam dengan pohon buah-buahan yang beraneka ragam juga ditata secara apik dengan berbagai jenis tanaman buah-buahan.

Bermacam jenis tanaman bunga juga menghiasi setiap sudut dan lekuk kontur tanah yang memang bukan hamparan yang datar.

Baca Juga  Tanjung Gudang

Justru kondisi tanah yang tidak datar dan rata itulah yang membuat Kelekak Batu menjadi unik dan spesial.

Yang menariknya lagi batu-batu granit besar dan kecil seperti tertata dan tersusun acak oleh kehendak alam, tetapi justru menampilkan pemandangan yang spektakuler.

Tangga – tangga dari lempengan batu granit disusun oleh Buyut Syamudin di sela-sela dan diapit oleh  batu besar, menjadikannya akses jalan menuju ke taman bunga yang letaknya di hamparan tanah yang lebih tinggi.

Keunikan Kelekak Batu dan taman-taman bunga inilah yang pada akhirnya membuat seorang Buyut Syamudin menentang kebijakan penguasa Belanda untuk mengenakan pajak atas Kelekak Batu tersebut.

Wajar saja seorang Buyut Syamudin tidak bersedia untuk membayar pajak atas kepemilikan lahan tersebut dikarenakan tidak ada kewajiban dan tidak ada persoalan dengan hukum.

Baca Juga  Sosok Sederhana Isnaini

Lahan tersebut sudah lama dikelola sebelum kehadiran Belanda di Indonesia. Sehingga tidak ada dasar baginya untuk membayar pajak kepada Belanda.

Dalam arti kata bumi milik kita, mengapa harus membayar pajak kepada Belanda.

Berbagai jenis tanaman bunga memang ditata dengan sangat apik dan memiliki nilai seni yang tinggi.

Selain tanaman hias juga ditanam tanaman obat-obatan yang sekarang sering dilakukan oleh kelompok ibu-ibu PKK.

Noni-Noni belanja setiap hari berdatangan pagi dan sore untuk menikmati keindahan Kelekak Batu dengan taman-tamannya.

Mereka datang untuk memetik bunga. Wajar saja, mereka sangat senang dengan bunga-buangaan, seperti Bunga mawar, melati dan bunga kenanga.

Memang ketika itu tanaman bunga belum semarak dan bermacam – macam jenis sebagai hasil dari rakayasa genetika seperti sekarang ini.

Baca Juga  Pengentasan Kemiskinan Belum Maksimal, Anggota Komisi V DPR RI Mulyadi Soroti Kinerja Kementerian

Selain bunga-bunga tersebut ada juga bunga Kamboja dan bunga Cempaka yang satu kuntumnya saja bisa mengharumkan sebuah ruangan.

Ketika para noni Belanda memetik bunga-bunga tersebut, Buyut Syam hanya meminta imbalan sebagai tukarnya adalah botol-botol minuman bekas yang tidak terpakai lagi dari para noni.