Pesan Hati-Hati (44 Macam Gila)

Oleh: Yan Megawandi — Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Orang Melayu boleh dimasukan ke dalam salah satu puak yang kreatif. Lihatlah kebudayaan Melayu. Kaya akan perumpamaan, indah pantunnya, banyak permainan yang menarik, bermacam ramuan obat dan jampi.

Demikian pula dengan berbagai jenis makanan, ragam hiasan dan bangunan, atau bahkan sejumlah kumpulan tunjuk ajar yang dijadikan pedoman. Banyak lagi rangkaian kebudayaan yang memperlihatkan bahwa orang Melayu adalah kreator ulung.

Kreativitas itu pula barangkali yang kemudian melahirkan ada sekitar 44 kategori kegilaan dalam perspektif melayu. Setidaknya sebagaimana yang dituliskan oleh Andrea Hirata dalam novel-novelnya.

Andrea sebagai seorang yang mengaku berasal dari rumpun melayu itu telah menuliskan bermacam-macam jenis kegilaan itu di novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas (Agus Sutanto. Kompasiana).

Dulu di kampung kami ada seorang lelaki tua yang selalu menempeli bajunya dengan bermacam-macam pangkat. Itu artinya bentuknya bisa segala macam benda. Mulai dari bungkus rokok, kaleng bekas, tali temali, tutup botol bahkan juga botolnya sekalian. Dengan berbagai atribut itu ia akan keliling kampung.

Baca Juga  Masih Adakah Kebanggaan Kita?

Sesekali bila bertemu orang ia bisa saja memberi hormat. Tabik mirip prajurit zaman Jepang dahulu kala. Entah apa yang ada dalam benaknya. Maka orang kampung kami kemudian menggelarinya dengan Gila Pangkat.

Sehingga bila kemudian ada orang yang menempelkan cukup banyak pangkat-pangkat tersebut di luar kewajaran di bajunya. Maka dipastikan orang kampung kami akan memberikannya gelar yang sama dengan lelaki tadi. Gila Pangkat.

Lain waktu di kampung kami ada pula lelaki yang sangat senang menyanyi. Siang malam, pagi sore (yang ini bukan iklan rumah makan Minang) ia habiskan waktunya dengan menyanyi.

Lagunya bisa apa saja ragamnya. Dari yang rada serius seperti seriosa sampai kepada lagu-lagu yang bisa membuat perut kelaparan. Keroncong. Dangdut dan rock apalagi pop, merupakan jenis nyanyian yang sangat sering pula didendangkannya.

Jangan tanya bagaimana kesesuaian lirik dan nadanya. Ia hanya akan berhenti bernyanyi bila sedang makan atau ketika tidur saja. Tetapi sesekali dalam mimpinya ia juga akan bernyanyi. Maka gelarnya di kampung kami adalah Gila Nyanyi.

Baca Juga  Anggaran Disunat, Apa Yang Harus Diperbuat?

Hampir gila

Teman saya hampir pula mendapatkan gelar. Sejak di PHK oleh perusahaan pabrik sawit tempatnya bekerja yang kemudian ditutup oleh petugas berwenang yang menyatakan perusahaan pabrik sawit tempat ia menggantungkan nasibnya itu memiliki kaitan dengan masalah korupsi soal pertimahan di pulau kami tinggal.

Agar punya kesibukan dan terlihat tidak menganggur ia menemukan ide. Memancing. Dua bulan belakangan semua sungai, kolong dan pantai sudah dijajakinya siang dan malam. Berbekal Joran, pancing dan umpan ia menemukan dunianya yang baru. Menanti umpan pancingnya disambar ikan.

Ia pun selalu membawa peralatan memancingnya mirip prajurit Israel yang menenteng senapan otomatis mengepung dan menembaki para pengungsi Palestina sampai tewas di jalur Gaza. Pokoknya tak ada hari tanpa pancing. Orang di kampung pun kemudian mulai mempersiapkan gelar baru untuk teman saya ini.

Untunglah keajaiban datang. Entah bagaimana prosesnya tiba-tiba ia memperoleh motor matic. Bekas tapi masih lumayan kinclong. Dengan motor ini teman saya sekarang sudah hilir mudik di jalan dengan motornya, menggunakan jaket dan helm berwarna hijau. Menjadi pengemudi ojek online. Selamatlah ia dari gelar yang telah disiapkan orang kampung. Gila Mancing.

Baca Juga  Batman si Penjaga Syair Terakhir

Teman saya yang lain adalah pejabat. Ia pernah menjadi semacam kepala sekolah di instansinya bertugas. Sejak bertugas disana ia sering membuat gaduh bawahan, atasan, bahkan para koleganya yang lain. Awalnya semua biasa-biasa saja.

Sampai kemudian orang-orang mulai melihat ada keanehan pada dirinya. Mula-mula ia menerapkan disiplin seperti di kesatuan pengamanan di negeri Kanoha. Harus bersikap siap sempurna ketika berjumpa dengannya di tempat kerja.

Selain itu semua anak buahnya mesti mendengarkan dan mematuhi pengarahannya. Pengarahan tersebut biasanya disampaikan dalam bentuk orasi yang terkadang diselipkan semacam ceramah agama.

Hal itu konon dilakukannya karena dulu ketika ibunya hamil ayahnya bermimpi akan mendapatkan anak yaitu seorang komandan yang pintar orasi serta jago pula ceramah agama. Sekali pengarahan di apel pagi biasanya durasinya cukup panjang.