Banjir pun Tak Mampu Membendung Semangatnya Mendidik

Oleh: Putri Simba

Udara pagi masih dingin menusuk, langit tak menunjukkan tanda apa pun. Tak ada hujan. Hanya mendung tipis dan udara yang agak lembap. Tepat pukul 05.23 Wib, Pak Damar mengemas bukunya seperti biasa, mengenakan saragam tugas rapi serta jaket tebal favorit warna biru muda, serta sepatu hitam mengajar.

Iya mulai berjalan ke ruang tamu, berpamitan ingin pergi mengajar. “Ibu, Ayah berangkat mengajar dulu, ya,” ujarnya.

“Iya Ayah, hati-hati, ya,” sahut sang istri tercinta dengan menciumi tangan suaminya itu.

“Assalamualaikum, Bu,” ujarnya kembali.

“Waalaikumussalam, Yah.”

5 menit kemudian, dia mulai keluar rumah naik motornya sambil tersenyum kecil. “Alhamdulillah, hari ini gak hujan, bisa ngejar tepat waktu,” gumamnya.

Baca Juga  Merindukanmu

Motornya dinyalakan lalu gas berangkat menuju sekolah tempat mengajar. Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan yang hampir satu jam, di sebuah desa, jalanan yang dia lewati menjadi sungai dadakan. Takada peringatan. Takada kabar. Ia tetap melaju, seperti hari-hari biasanya.

“Loh, kenapa orang-orang pada mutar ya?” gumamnya bertanya -tanya.

Angin bertiup kencang, dan dari kejauhan, suara aliran air terdengar seperti gemuruh.

Dan benar saja, beberapa meter di depan, air meluap menutup jalan, tetapi tak mungkin berbalik. Sudah terlalu jauh, dan kalau ia mundur, berarti hari itu anak-anak tak dapat pelajaran. Pak guru Damar, beliau nekat menerobos.

Motornya berguncang. Air melawan roda. Lalu …

Baca Juga  Awan dan Cerita-Cerita Malam

“Bruuuk!”

Mesin motornya mati, celana seragam guru yang ia kenakan dengan rapi kini menjadi basah kuyup. Ia terduduk di pinggir jalan sambil menahan napas. Tapi bukan rasa sakit yang membuat matanya basah, melainkan rasa khawatir  khawatir tidak bisa masuk kelas hari ini.Tiba-tiba, suara klakson samar terdengar di kejauhan.

“Pak Damar!” panggilnya.

Ia menoleh pelan, seorang guru, bapak wakil kurikulum di sekolah, yaitu Pak Suratman turun dari motor.

“Kenapa, Pak, duduk di pinggir jalan?” tanya beliau.

“Motor saya mogok, Pak, saya tidak tau jika di sini hujan dari kemarin sehingga terjadi banjir, makanya motor saya mati.”

“Loh, motor Bapak ternyata masih hidup, ya, Pak, tidak mati,” jawab Pak Damar.

Baca Juga  Melukis Literasi

“Iya, Pak, alhamdulilah masih, meski sempat nerjang banjir juga, ini,” ujarnya.

Tanpa banyak bicara lagi, Pak Suratman mengeluarkan tali tambang dari jok motornya. Ia ikat motor pak Damar ke bagian belakang motornya sendiri.

“Saya bantu tarik pakai ini ya, Pak, kita bareng-bareng. Nggak bisa ninggalin Bapak di sini.”

Kedua bapak guru itu mulai bergerak perlahan, tetap menuntun dari belakang agar seimbang. Namun, baru beberapa meter berjalan, motor pak Suratman ikut mati karena arus yang airnya terlalu agak deras.