Pengilen
Karya: Iyek Aghnia
Markudut kaget. Saat membuka media sosialnya, jantungnya seakan-akan mau lepas dari katupnya. Napasnya naik turun.
Kritik yang disampaikannya lewat koran kepada kepala kampung tentang rencana pembangunan tugu kampung yang dianggapnya mubazir dan terkesan tanpa perencanaan yang baik, membuatnya harus menerima banyak hujatan. Hinaan hingga cacian yang sangat sadis.
Media sosialnya dilempari komentar cacian, hinaan hingga hujatan yang teramat kejam. Mengusik nuraninya sebagai manusia.
“Sekarang kamu baru pahamkan apa yang pernah dulu aku sampaikan dan pernah aku terima dulu saat mengkritisi pak pemimpin kampung kita ini,” ungkap Matgeriul, sahabat Markudut saat mereka sedang menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di ujung Kampung.
Matahari di atas kepala. Markudut terdiam. Matanya menatap ke arah jalanan yang rusak parah yang tidak pernah diperhatikan pemerintah.
Jalanan itu membuat pengendara motor harus berhati-hati. Kendaraan yang melewati jalanan itu harus terbatuk-batuk.
“Itulah risiko yang kita terima ketika kita mengkritisi kinerja kepala kampung kita yang tidak becus memimpin kampung ini,” lanjut Matgeriul sembari menghirup kopi.
” Ya. Tapi saya tidak akan pernah berhenti mengkritisi kinerja kepala kampung kita ini sebagai bentuk pertanggungjawaban moral saya kepada publik karena telah mengajak warga kampung ini untuk memilih dia sebagai pemimpin kita,” ucap Markudut.
Mendengar jawaban Markudut, Matgeriul memberikan acungan dua jempol tangannya kepada Markudut.
“Semangat kawan. Teruslah mencintai kampung kita ini,” ucap Matgeriul. Markudut tersenyum mendengar narasi heroik sahabatnya itu.
Sejujurnya, bukan hanya lewat komentar sadis di media sosial saja yang diterima Markudut.
Ada pula ancaman yang masuk ke nomor handphonenya dari nomor yang tidak dikenalnya.
Bahkan dirinya pernah diserempet sebuah mobil pada malam hari saat pulang dari acara kondangan.
Semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mengkritisi kebijakan pak kepala kampung.
“Saya mengkritisi kebijakan pak kepala kampung sebagai pemimpin kampung kita ini. Bukan pribadi beliau. Kalau beliau bukan kepala kampung kita, saya tidak akan pernah mengkritisi beliau. Dulu saat beliau tidak mengemban amanah sebagai pemimpin kampung atau orang biasa seperti kita ini, saya tidak pernah sama sekali mengkritisi bahkan menyinggung beliau. Hubungan pribadi kami sangat baik,” jelas Markudut kepada beberapa warga kampung yang menanyakan kenapa dirinya hobi mengkritisi kepala kampung.
Di mata Matgeriul dan warga kampung, apa yang disampaikan Markudut, tokoh muda kampung sungguh memberikan pencerdasan bagi warga kampung.
Apalagi kritik yang disampaikan Markudut di ruang publik itu , sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Bermuatan data.
Markudut tidak mengada-ada. Tidak pula memfitnah kepala kampung sebagai pemimpin. Hanya menyampaikan pendapat untuk kemajuan kampung mereka.
“Hanya itu niat saya sebagai warga kampung. Tak lebih dan tak kurang,” jelasnya.
Apalagi, Markudut pernah menjadi bagian dari tim pemenangan pak kepala kampung saat kontestasi politik beberapa tahun lalu yang mengantarkan pak kepala kampung mengemban amanah sebagai pemimpin kampung mereka.
” Apa yang disampaikan Markudut adalah bentuk pertanggungjawaban moral beliau sebagai orang yang pernah membantu kepala kampung saat pemilihan kepala kampung yang lalu,” cerita Matgeriul kepada beberapa warga kampung saat mereka berkumpul di pos ronda kampung.
Cahaya rembulan di atas kepala.
“Betul, yang menjadi masalah terlalu banyak orang kampung kita ini yang menjadi pengilen kepala kampung kita ini,” sahut seorang warga kampung yang memakai baju kaos bergambar calon kepala daerah.
“Mereka yang menjadi pengilen kepala kampung takut kredibilitas mereka rusak di mata pak kepala kampung. Mereka menjaga citra mereka di hadapan pak kepala kampung dengan cara membabi buta melawan warga kampung yang mengkritisi kebijakan pak kepala kampung,” sambung warga kampung yang lainnya.
“Soal kritik yang disampaikan warga kampung itu sesuai fakta, bagi kaum pengilen kepala kampung tidak penting. Dalam pikiran mereka, yang utama adalah jangan ada yang mengkritisi kebijakan pak kepala kampung,” kata warga kampung yang lainnya.
“Pertanyaannya, apakah mereka dibayar? Mendapat gaji? Dan apakah mereka sejahtera dengan menjadi pengilen kepala kampung kita itu?” tanya seorang warga kampung yang memakai topi berlogo sebuah merek dagang terkenal.
