Kontes Kecantikan Indonesia: Antara Kontroversi dan Jargon Pemberdayaan

Oleh: Novita Sari Yahya — Peneliti, Penulis, dan National Direktur Indonesia 2023-2024

Tulisan berjudul Kontes Kecantikan Indonesia di Antara Kontroversi dan Jargon Pemberdayaan ini menjadi tema karena ketertarikan saya terhadap kehebohan kriteria penilaian kontes kecantikan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Pernyataan Valery Brahmana tentang isu Miss Universe Indonesia 2025, yang dikutip media dan bahkan diwawancarai di televisi nasional, cukup mengundang perdebatan dan perhatian publik. Beberapa akademisi dari berbagai bidang ilmu berpartisipasi menuliskan parodi tentang kontes kecantikan Indonesia, baik dengan pendekatan serius maupun satir.

Sebagai Direktur Nasional Indonesia tahun 2023-2024 dengan 40 lisensi internasional, meskipun hanya berhasil mengirimkan beberapa perwakilan Indonesia, saya memiliki pengalaman dalam dunia kontes kecantikan Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa hal yang akan saya jelaskan dapat memberikan masukan bagi masyarakat Indonesia untuk memahami lebih dalam tentang kontes kecantikan.

Baca Juga  Mutu Pendidikan Bukan Sekadar Angka: Refleksi Seorang Kepala Sekolah

Kontes kecantikan adalah bagian dari dunia hiburan. Dalam dunia hiburan, kemasan harus menarik bagi penonton. Kemasan yang menarik tentu akan mendapatkan banyak dukungan dan publikasi. Dunia hiburan membutuhkan dana untuk menyelenggarakan sebuah acara atau pertunjukan. Seperti halnya hiburan lainnya, dukungan sponsor diperlukan untuk membiayai penyelenggaraan acara agar menarik perhatian publik.

Pernyataan Ivan Gunawan dalam sebuah wawancara bahwa jika ia tidak berkegiatan di dunia kontes kecantikan, ia mungkin sudah membuka beberapa toko baru, membuktikan bahwa Ivan dan timnya mengeluarkan dana besar untuk penyelenggaraan Miss Mega Bintang demi mendapatkan perhatian dan dukungan, terutama dari para pecinta kontes kecantikan Indonesia.

Pertanyaan yang sama sering diajukan netizen Indonesia kepada saya, “Apakah saya cukup mampu secara finansial untuk memperoleh 40 lisensi dan mengirimkan perwakilan Indonesia ke tingkat internasional, bahkan beberapa di antaranya meraih posisi runner-up pertama?”

Baca Juga  Lingkungan Terancam! Pangkalpinang dan Krisis Sampah Plastik yang Makin Parah

Pertanyaan itu saya kembalikan kepada masyarakat Indonesia untuk berpikir, apakah Indonesia cukup mampu mengelola negara ketika baru diproklamasikan? Meskipun perbandingannya tidak apple-to-apple dan terkesan jauh, penyelenggaraan acara membutuhkan kecerdasan dan diplomasi, bukan hanya bergantung pada dana.

Kemampuan Direktur Nasional dan tim menjadi kunci utama untuk menyelenggarakan pemilihan nasional dan mengirimkan perwakilan ke tingkat internasional, dengan harapan dapat bersinar dan membawa pulang gelar untuk Indonesia.

Selain kemampuan tim, akses atau jaringan ke sponsor juga sangat diperlukan. Persoalan sponsor menjadi salah satu kritik yang disampaikan Valery, terutama jika lisensi dibeli oleh perusahaan asing dan menunjuk warga negara Indonesia sebagai Direktur Nasional.

Saya menghadapi tantangan berlapis sebagai Direktur Nasional Indonesia karena saya tidak berasal dari dunia hiburan dan baru membangun jaringan. Pengalaman saya di dunia kontes kecantikan berawal dari menjadi finalis Putri Ayu Indonesia mewakili Sumatra Barat tahun 1995 dan runner-up kedua Putri Kartini.

Baca Juga  Danantara: Kontribusi untuk Indonesia Emas 2045

Namun, saya selalu optimis dan merasa tertantang untuk mempelajari lebih dalam tentang kontes kecantikan, baik nasional maupun internasional.

Visi dan Misi Penyelenggaraan Kontes Kecantikan sebagai Pilar Utama

Visi dan misi penyelenggara kontes kecantikan memegang peran penting. Pemberdayaan perempuan selalu menjadi jargon setiap penyelenggaraan kontes kecantikan, baik di tingkat daerah maupun nasional.