Oleh: Hoide lutpia SalsabilaMahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Dugong (Dugong dugong Müller 1776) merupakan hewan mamalia laut herbivor yang masuk dalam daftar merah IUCN sebagai hewan dilindungi (Marsh dan Sobtzick 2015). Sebagai hewan mamalia, dugong sangat tergantung pada lamun dan padang lamun, termasuk pula penyu hijau (Chelonia mydas).

Oleh karena itu, lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang sangat produktif dan berperan penting, karena dapat memberikan makanan bagi fauna-fauna tersebut (Carter dan Rasheed 2016). Meskipun demikian, populasi dugong dapat terancam karena hilang/berkurang/terdegradasinya padang lamun akibat berbagai kegiatan aktivitas manusia, yakni pegembangan dan/atau pembangunan di wilayah pesisir.

Dugong (Dugong dugon) termasuk dalam kelas mamalia laut yang bercirikan hewan yang menyusui anaknya tergolong sebagai Ordo Sirenia, yang mana dicirikan bersifat herbivora (Muller 1976). Dugong dewasa jarang melebihi panjang 3 meter dan beratnya mencapai sekitar 420 kg.

Baca Juga  Gas Melon dan Cuaca

Habitat dugong adalah daerah pesisir di perairan dangkal sampai sedang sekitar 20 meter di bawah permukaan laut. Hewan ini sering bermigrasi ketika terjadi perubahan curah hujan. Sebagian besar aktivitas sehari-hari dugong adalah mencari makan diperairan dangkal. Selain memiliki kehidupan sosial, dugong juga memiliki kebiasaan muncul ke permukaan air (surfacing), menggelinding (rolling), dan istirahat (resting). Kondisi ekosistem yang paling cocok untuk dugong ini adalah ekosistem lamun di iklim tropis dan subtropis. Dugong sendiri termasuk salah satu hewan langka di Indonesia.

Kemunculan dugong yang berkaitan dengan jenis lamun pada kajian ini, tampaknya sesuai dengan hasil analisis material tumbuhan pada mulut dugong yang digunakan untuk mengetahui pola diet dugong. Dari 276 dugong yang dianalisa, 102 ekor belum mengunyah atau sudah mengunyah sebagian material tumbuhan tersebut.

Baca Juga  Logo Kementerian Kebudayaan RI Mirip Jambul Nanas?

Hasil menunjukkan bahwa pada mulut dugong didapat makro algae dengan frekunsi kejadian 2,4%; mangrove Avicennia 0,3%; lamun 9,7%; Cr 10%; Cs 1%; Ea 6%; Hp 5%; Hu 16%; Hu 3%, H. decipiens (Hd) 1%, Ho 24%, Hs 3%, Si 3% dan Th 25% (Johnstone dan Hudson 1982). Hal ini menunjukkan bahwa tipe dan kelimpahan jenis lamun di mulut dugong berkaitan dengan kelimpahan distribusi ekologi dan nilai energi dari jenis lamun di tempat dugong tertangkap.

Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa tutupan lahan padang lamun merupakan persentase terbesar di antara variabel lingkungan lainnya, karena semua koordinat temuan dugong yang diolah dalam software Maxent berada di sekitar padang lamun yang merupakan ekosistem penghasil dugong itu sendiri.

Dugong memanfaatkan ekosistem lamun sebagai salah satu habitatnya, yaitu sebagai tempat makan dan habitat bermain. Hal ini relevan dengan pernyataan peneliti sebelumnya, karakteristik dugong akan menghabiskan 41% atau 10 jam aktivitasnya untuk makan di ekosistem lamun (Hodgson, 2004).

Baca Juga  Pulau Kelapan: Mutiara Terancam di Balik Narasi Indah dan Potensi Taktergali

Wilayah administrasi yang memiliki potensi habitat dugong di perairannya ternyata juga dialiri oleh beberapa sungai besar, yaitu Desa Gunung Kijang yang dialiri oleh Sungai Galang Batang, Desa Kawal yang dialiri oleh Sungai Kawal, dan Desa Berakit dan Desa Pertemuan Malang. dialiri oleh Sungai Beru yang jaraknya cukup jauh. Sungai ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari dugong, karena dugong lebih menyukai pH air yang lebih stabil dan tidak menyukai air tawar dan menyukai sedikit payau, Sehingga air yang dialiri sungai lebih disukai oleh dugong. Kedalaman laut memiliki pengaruh penting karena berhubungan langsung dengan keberadaan produsen utama dugong yaitu padang lamun.