Oleh: Syabaharza

Udara malam yang dingin tidak menyurutkan semangat pak Anto untuk terus mencari peruntungan. Di sebuah sawah yang penuh dengan air ia menggantungkan nasibnya dengan harapan mendapatkan sedikit rezeki. Harapannya paling tidak ketika pulang pagi nanti ia membawa tangkapan yang banyak sehingga bisa dijual kepada pengepul ikan di dekat rumahnya.

Semua peralatan sudah dipasang di beberapa Lokasi. Tajur dan pukat yang selalu menjadi senjatanya itu sudah berpuluh tahun diandalkannya untuk menghidupi keluarganya. Biasanya pak Anto pergi setelah salat Isya dan pulang menjelang Subuh. Sebenarnya bisa saja ia pulang setelah memasang tajur dan pukatnya, namun tentu tidak akan efisien dari segi waktu jika ia pulang. Karena jarak rumah dan tempatnya mencari ikan sangat jauh, tentu akan memakan waktu jika harus mondar-mandir.

Di atas sebuah perahu pak Anto beristirahat malam itu. Sebuah perahu yang berbeda dengan perahu pencari ikan lainnya. Perahu tanpa ada kepala di depannya. Perahu itu hasil karya pak Anto sendiri. Sebenarnya ada keinginan pak Anto untuk memiliki perahu seperti pencari ikan lainnya. Perahu yang cantik dan menarik serta nyaman untuk dikendarai, namun untuk mendapatkan perahu jenis tersebut pak Anto harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dari info yang didapatnya, harga perahu seperti itu berkisar antara tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah.

Baca Juga  Raga Itu Bukan untukmu

Perahu yang dimiliki pak Anto terbuat dari papan sederhana. Pak Anto menyebutnya papan rempesan. Sebenarnya itu tidak layak disebut perahu, karena bentuknya tidak menarik. Jika diibaratkan manusia perahu itu ibarat perempuan yang berbadan gendut dan pendek. Intinya tidak menarik untuk dipandang.

Bentuk perahu itu seperti kotak tempat menampung ikan kepunyaan pengepul di dekat rumahnya. Tidak ada galar yang penuh sebagai aksesoris perahu itu. Hanya ada sebagian saja yang ditutupi dengan papan bekas dan itulah lokasi tempat pak Anto beristirahat setelah selesai memasang tajur dan pukatnya.

Malam itu pak Anto ditemani anak laki-lakinya yang masih berumur 10 tahun. Anak yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar itu penasaran dengan kegiatan sang ayah dalam mencari ikan, sehingga malam itu ia ngotot ingin ikut. Akhirnya, walau tidak tega membiarkan sang anak merasakan dinginnya angin malam, pak Anto tidak mampu melawan kuatnya keinginan sang anak. Perahu buntung yang berukuran kecil itu semakin sempit jika digunakan untuk istirahat dua orang.

Baca Juga  Rupa Padam Ranuman

*****

“Kenapa Bapak tidak membeli alat setrum ikan?”

Sambil memakan bekal yang dibawa dari rumah, sang anak memberanikan diri bertanya.

Pak Anto tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Ia masih fokus dengan bekal yang ada di hadapannya.

Bekal makanan yang terbuat dari gandum dicampur nasi dan diberi bawang sedikit kemudian digoreng itu memenuhi rantang yang sudah usang. Bekal itu menjadi bekal wajib ketika pak Anto mencari ikan. Bekal itu sangat spesial karena disiapkan oleh istri tercinta.

“Kalau ada alat setrum itu pasti kita banyak dapat ikan.”

Sang anak kembali membuat pernyataan tanpa menuntut jawaban dari pertanyaannya tadi.

Pak Anto menaikkan sarungnya karena angin malam semakin dingin. Penutup kepalanya pun disempurnakan. Sang anak juga mengikuti apa yang dilakukan pak Anto.

Baca Juga  Uang Logam

“Mahal ya Pak, harga alat setrum itu?”

Sang anak tampaknya masih penasaran dengan alasan pak Anto tidak membeli alat setrum ikan seperti yang dimaksudnya.

Pertanyaan anaknya yang barusan membuat pak Anto agak tersentak. Ia heran anak sekecil itu sudah mempunyai analisa sampai kesitu.

“Ada dua alasan kenapa bapak tidak membeli atau membuat alat setrum ikan itu, Nak.”

Pak Anto memasukkan makanan yang tinggal setengah ke mulutnya, kemudian ia meneguk air dalam ceret.

“Pertama, benar apa yang kamu utarakan tadi. Kita memerlukan biaya untuk membeli atau membuat alat setrum ikan itu.”

Sang anak mulai mafhum. Ia menganggukkan kepalanya. Ia berpikir alasan pertama ini masuk logika. Jangankan untuk membeli alat setrum ikan, untuk kehidupan sehari-hari saja mereka harus berhemat. Ditambah lagi mencari ikan sekarang tidak semudah seperti dahulu. Sekarang mendapatkan satu kilo ikan saja sulitnya bukan main.

“Alasan yang kedua, jika kita memakai alat setrum, maka kita sama saja memutus keturunan ikan.”