Mahkota Darah di Atas Tanah Retak
Mahkota Darah di Atas Tanah Retak
Oleh: Kaum Pecinta Damai
Di Benua Laut, dua penguasa berdiri sebagai pilar kesengsaraan: Raja Badut dari Kerajaan Barat yang haus darah, dan Gubernur Pelawak dari wilayah pesisir yang licin bagai belut. Hubungan mereka bukan didasari persahabatan, melainkan persekutuan gelap untuk menghisap sumsum rakyat demi kemewahan yang tak masuk akal.
Raja Badut adalah sosok yang kasar. Ia gemar membangun monumen raksasa dengan mewajibkan kerja paksa tanpa upah. Baginya, rakyat hanyalah angka dalam statistik peperangan. Sementara itu, Gubernur Pelawak adalah sang pengkhianat intelektual. Ia menciptakan aturan-aturan pajak yang mencekik, memanipulasi hukum agar aset rakyat berpindah ke sakunya, lalu menyetorkannya kepada Malaka sebagai “uang upeti” demi perlindungan politik.
Suatu malam di perjamuan rahasia, mereka tertawa di atas meja kayu jati yang penuh dengan hidangan hutan yang langka. Di luar sana, di desa-desa yang tak jauh dari tembok istana, rakyat memakan akar pohon karena lumbung mereka telah dikosongkan oleh prajurit Pelawak atas perintah Badut.
“Rakyatmu mulai mengeluh tentang kelaparan, Pelawak,” ujar Badut sambil mengunyah daging rusa.
Pelawak tersenyum tipis, menyesap anggur mahalnya. “Biarkan mereka lapar, Baginda. Orang lapar lebih mudah dikendalikan dengan janji palsu dan segenggam beras saat pemilihan nanti. Jika mereka terlalu kenyang, mereka mulai berpikir untuk memberontak.”
Mereka merayakan kezaliman itu dengan denting gelas emas, tak menyadari bahwa langit di atas Benua Laut telah berubah warna menjadi ungu pekat yang mengerikan.
***
Keanehan dimulai ketika mata air di pusat kota mendadak berhenti mengalir. Bukan karena kering, tapi karena airnya berubah menjadi lumpur hitam yang panas. Namun, bukannya bertaubat, Badut justru memerintahkan prajuritnya untuk mencambuk setiap rakyat yang mengeluh tidak bisa minum. Ia menganggap keluhan rakyat adalah bentuk pembangkangan terhadap titah raja.
Pelawak pun setali tiga uang. Saat wabah gatal-gatal menyerang warga akibat air lumpur tersebut, ia justru menimbun obat-obatan dan menjualnya dengan harga sepuluh kali lipat. “Inilah bisnis, Baginda,” bisiknya pada Badut. “Kesengsaraan mereka adalah emas bagi kita.”
Kezaliman yang saling mengunci ini mencapai puncaknya ketika seorang janda tua, yang anaknya mati karena kehausan, merangkak ke depan gerbang istana. Ia hanya meminta seteguk air bersih dari kolam pribadi raja. Badut, yang sedang berdiri di balkon bersama Pelawak, justru menuangkan sisa anggurnya ke kepala wanita itu sambil tertawa.
