Bersama Menguatkan Identitas Serumpun Sebalai di Meja Pembangunan

Oleh: Heri Suheri, C.IJ., C.PW., CA-HNR., C.FLS.

Setiap daerah memiliki cara untuk mengenalkan dirinya. Bangka Belitung memilih dua kata filosofi indah dan penuh makna yaitu “Serumpun Sebalai”.  Frasa itu kini hadir di banyak tempat. Di gapura perbatasan, di dokumen resmi, di panggung acara, dan di hati kita sebagai warga.

Kehadiran “Serumpun Sebalai”, di ruang publik adalah langkah awal yang patut disyukuri. Ia menunjukkan niat baik kita untuk merawat kebersamaan. Namun, sebagai masyarakat yang terus belajar, kita juga diajak untuk bertanya dengan kesadaran  bagaimana agar semangat Serumpun Sebalai semakin terasa, tidak hanya di spanduk dan sambutan, tetapi juga dalam perencanaan dan kegiatan pembangunan sehari-hari?

Tulisan ini bukan untuk menilai, atau menggurui, melainkan untuk mengajak. Mengajak kita bersama-sama memikirkan cara agar identitas yang kita cintai dapat menjadi kompas yang lebih nyata. Sebab identitas yang hidup akan membuat pembangunan kita lebih berakar, lebih diterima, dan lebih lestari untuk anak cucu.

Baca Juga  Lintasan Masa Seorang Guru Besar: Bangka, Bondowoso dan Bengkulu

Memahami Serumpun Sebalai sebagai Pelita, secara filosofis Serumpun Sebalai adalah warisan kearifan yang sangat kaya. Serumpun mengingatkan kita pada ikatan persaudaraan, pada semangat berbagi, dan pada prinsip bahwa tidak ada yang boleh tertinggal. Sebalai mengajak kita membangun ruang bersama, tempat semua pihak duduk sama rendah untuk bermusyawarah dan mencari solusi.

Dalam ilmu pembangunan, para ahli menyebut ini sebagai project identity. Artinya, identitas bukan barang jadi yang disimpan di lemari. Ia adalah cita-cita bersama yang dirawat lewat kebijakan, lewat anggaran, dan lewat kebiasaan kita sehari-hari.

Karena itu, penting bagi kita untuk terus menjembatani dua hal yaitu keindahan simbol dan kekuatan sistem. Spanduk dan ornamen adalah langkah awal yang baik untuk menumbuhkan rasa bangga. Langkah berikutnya adalah memastikan nilai di balik simbol itu ikut mengalir ke dalam cara kita menata ruang, menyusun program, dan melayani masyarakat.

Baca Juga  Pembuatan Polisi Tidur 'Jaga Lambat' untuk Cegah Rawan Kecelakaan bagi Siswa SDN 08 Parittiga

Ketika tata kelola bertemu kearifan yaitu salah satu ruang belajar yang paling jujur adalah tata ruang. Dari cara kita menata pesisir, kota, dan desa, kita bisa melihat sejauh mana nilai Serumpun dan Sebalai telah menjadi pertimbangan.

Serumpun mengajak kita menjaga ruang hidup bersama. Di beberapa wilayah pesisir, kita menghadapi tantangan abrasi yang memerlukan perhatian bersama. Ini menjadi pengingat bahwa menjaga pantai adalah bentuk nyata dari solidaritas. Sebab pantai yang terjaga berarti perahu nelayan aman, rumah warga tenang, dan jalan penghubung antar desa tidak terputus.

Sebalai mengajak kita merawat rumah besar bersama. Di beberapa kota tua seperti Koba dan Mentok, masih berdiri bangunan yang menyimpan memori. Merawatnya bukan berarti menolak yang baru. Ia justru memberi kita pijakan. Arsitektur baru yang menyapa unsur kisi dulang, atau bentuk panggung akan membuat warga merasa “ini rumah kita”. Rasa memiliki itu modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan.

Baca Juga  Kerusakan Ekologi: Antara Keserakahan dan Ekonomi

Tentu, pilihan dalam pembangunan tidak selalu mudah. Seringkali kita dihadapkan pada kebutuhan untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, antara yang modern dan yang tradisional. Di titik inilah Serumpun Sebalai dapat hadir sebagai penimbang. Ia membantu kita bertanya: apakah keputusan ini membuat kita semakin rukun dan ruang kita semakin lestari untuk jangka panjang?