Oleh: Kaum Pecinta Damai

Lentera negeri kian meredup pasrah,
Di atas altar pusaka yang mulai pecah.
Kita duduk di pojok ruang yang sunyi,
Hanya tinggal menunggu waktu, menghitung mati.

Negara kacau, haluan hilang arah,
Pemimpin pongah, sibuk membagi amarah.
Di podium tinggi, mereka bersilat lidah,
Merancang program makan gratis yang megah.
Namun di balik layar, tangan-tangan keji menari,
Bahkan jatah piring bocah pun tega dikorupsi.

Sementara di sudut kelas yang berdebu,
Berdiri tegap seorang guru.
Gajinya rendah, tak cukup membeli sekantong beras,
Namun baktinya diperas, dipaksa selalu ikhlas.
Mereka dibayar dengan tumpukan janji,
Yang menguap bersama angin pagi.

Baca Juga  Petualangan Mendaki Puncak Dempo (Bumi Sriwijaya)