Dengan adanya sastra cyber ini mereka dapat mengirimkan karyanya melalui internet yang menjadi solusi tercepat dan mudah untuk mempublikasikannya.

Selama ini para sastrawan pemula memiliki pertanyaan besar dalam hidupnya, ketika karya-karya yang sudah mereka buat dan kirimkan tidak terekspos dalam dunia sastra cetak.

Mengapa hanya sastrawan-sastrawan ternama saja yang karyanya di ekspos, mengapa mereka tidak? Yang mana mereka juga seorang sastrawan.

Sehingga jika mereka ingin karya nya dimuat dalam dalam media cetak seperti Kompas, harus memikirkan bagaimana karyanya bisa masuk dalam dunia sastra cetak tersebut.

Dan dengan munculnya sastra cyber ini menjadi jalan bagi para penulis pemula untuk mempublikasikan karyanya.

Sastra cyber dalam perkembangan sastra di Indonesia sebenarnya menimbulkan polemik yang besar.

Ada yang menganggap bahwasanya sastra cyber ini adalah ajang main-main dan ada juga yang menganggap sebaliknya.

Hal itu tentunya tergantung dari orang-orang melihat sastra cyber menurut sudut pandangnya.

Dari sudut pandang positif terlebih dahulu, dengan adanya sastra cyber ini memiliki peran yang sangat penting dalam kesusastraan Indonesia.

Melalui sastra cyber ini semakin banyak penulis-penulis muda yang menuangkan ide dan pemikirannya melalui media sosial atau internet.

Baca Juga  Belajar dari Fenomena Kemenangan Kotak Kosong Pilkada Serentak 2024

Hal ini memberi dampak positif karena tidak terbatas, bisa semua genre karya sastra dan jenisnya.

Dan melalui sastra cyber ini semua orang jadi lebih mudah untuk mengeluarkan kreativitasnya dan berlomba-lomba untuk menciptakan sebuah karya sastra yang akan menarik perhatian pembacanya.

Dengan begitulah kesusastraan di Indonesia bisa berkembang dengan tidak terbatasnya ruang.

Sastra cyber ini tidak bisa dipandang sebelah mata dalam kesusastraan Indonesia, dikarenakan melalui wadah ini sebagai media publikasi dan sarana untuk mengkreasikan karyanya dan menciptakan karya sastra sesuai dengan perkembangan masyarakat dan bahkan bisa menjadi sebuah ciri khas tersendiri yang tentunya berbeda dengan media cetak.

Karena  sastra cyber ini tidak ada prosedur ketat, sehingga siapapun bisa mempublikasikan karyanya dengan bebas dan leluasa untuk dinikmati oleh pembaca dari seluruh penjuru dunia.

Melalui sastra cyber ini, penulis dan pembacanya menjadi semakin lebih dekat, karena tidak ada sekat diantara keduanya.

Pembaca dapat memberikan komentar dan saran secara langsung pada karya tersebut, dan penulis pun bisa mendapatkan masukan pada saat itu juga.

Baca Juga  Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan: Jangan Biarkan Sekolah Jadi Tempat yang Tak Lagi Aman

Dunia sastra cyber pun bisa menjadi peluang baru bagi para penulis muda agar tidak terbebani oleh sistem yang ketat.

Sedangkan jika kita melihat dari sudut pandang negatifnya, sastra cyber dianggap telah keluar dari sisi normatif sastra itu sendiri.

Karena semakin banyak orang menulis sebuah karya sastra, semakin berkurang juga nilai dari karya-karya tersebut.

Yang mana tidak ada lagi penulis yang memikirkan secara mantang-matang konsepnya.

Orang menjadi asal-asalan dalam menuliskan sebuah karya itu. Ironisnya, sekarang sulit untuk menemukan mana yang bisa disebut sebagai sebuah karya sastra seperti halnya pada masa-masa sebelumnya.

Terlalu banyak sastra yang beredar, semakin mengurangi arti dari karya sastra itu sendiri.

Kehadiranya yang masih tergolong muda, kualitas dari karya sastrawan cyber ini masih dipertanyakan, dikarenakan tidak adanya seleksi yang ketat sebagaimana yang telah dilakukan  oleh para editor pada media cetak yang seolah-olah sastra cyber ini hanyalah “tong sampah” belaka.

Kekhawatiran akan penentangan sastra internet ini semakin menjamur karena karya dari yang paling sufi hingga yang vulgar sekalipun dapat berderar secara bebas.

Baca Juga  Anggaran untuk Perubahan: Peran Dana Bagi Hasil dalam Akselerasi Konvergensi Pariwisata dan Pertambangan

Menurut Muhammad Al- Fayyadi, kehadiran sastra cyber ini dianggap hanya sebagai mereduksi sastra sebatas hiburan dan entertain semata.

Ia juga menyebutkan bahwa para penulis sastra cyber ini hanya main-main dan menjadikan sastra cyber sebagai modus operasi karena sulitnya menembus tembok sastra koran atau penerbitan.

Bagi Sebagian masyarakat Indonesia, internet dan komputer sendiri masih tergolong sesuatu yang tidak semua orang punya dan bisa mengaksesnya, sehingga kondisi ini bisa berpengaruh juga terhadap perkembangan sastra cyber di Indonesia.

Sehingga dapat disimpulka, bahwa kemunculan sastra cyber di tengah perkembangan sastra yang memang membawa pendapat atau pandangan yang beragam akan sastra cyber.

Tetapi, tidak dapat dielak kan memang bahwa munculnya satra cyber ini memudahkan para penulis muda atau pemula  dan tentunya juga pembacanya untuk mengakses secara mudah dan cepat sebuah karya sastra yang mereka minati.

Dianindra Dewi Melani Putri mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.