Sembahyang Kubur (Cheng Beng)
Begitu setianya pembesar ini hingga pernah memotong daging pahanya untuk sarapan sang pangeran. Sayangnya, ketika pangeran kembali menjadi Raja Jin Wengong, Jie Zitui pengikut setianya terlupakan.
Raja kemudian diingatkan oleh orang istana dan akhirnya mengerahkan rakyatnya untuk mencari Jie Zitui. Karena tidak berhasil, ia pun memerintahkan untuk membakar hutan agar pengikut setianya itu keluar. Tragisnya, orang yang dicari-cari itu ditemukan dalam keadaan terpanggang sambil memeluk ibunya yang sudah tua.
Raja sangat bersedih akhirnya memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api sehari sebelum Cheng Beng sebagai tanda duka. Karenaya Cheng Beng juga disebut Han Shi Jie atau hari raya makan sajian dingin.
Pada dinasti Tang, Cheng Beng ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat guna menghormati para leluhur yang telah meninggal.
Caranya, mereka harus membersihkan kuburan para leluhur, sembahyang, membakar nyun-ci (uang kertas akhirat berwarna perak), dan menggantung lembaran kertas di pohon liu.
Semua ritual ini tetap dilakukan sampai sekarang, kecuali tradisi menggantung lembaran kertaas di pohon liu yang diganti dengan menaruh lembaran kertas tersebut di atas kuburan.
Tradisi menggantung kertas ke pohon liu tersebut tadinya dihubungkan dengan Jie Zitui yang tewas terbakar di bawah pohon liu[2].
[1] Wahar Saxsono dan Gustari, Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda Di Kabupaten Bangka dalam Kapita Selekta Budaya Bangka, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka, 2016, hal. 290-291.
[2] Rika Theo dan Fennie Lie, Kisah, Kultur dan Tradisi Tionghoa Bangka, PT. Kompas Media Nusantara, 2014 hal. 111-112
Meilanto, Seorang penulis yang menetap di Bangka Tengah

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.