Puisi Indah Karya Sapardi Djoko Damono yang Memiliki Pesan Luar Biasa
Kemudian kamu bermimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa menemukannya.
Aku mendekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum ganja, pelan-pelan meninggalkan kita.
Di Depan Sancho Panza
Di depan Sancho Panza yang lelah,
seorang perempuan bercerita tentang sajak
yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.
Tentu saja Sancho tidak mengerti
bagaimana sajak disisipkan
ke dalam hujan, tapi dia mengerti
cinta yang sungguh-sungguh. Dipegangnya tangan
perempuan itu dan berkata, ”Jangan cemas.”
Memang sebenarnya perempuan itu cemas:
Seseorang yang mencintainya dan dia tidak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tidak lazim. Atau logat yang asing.
Atau angan-angan yang memabukkan.
”Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar
seperti gerimis.
(Dilansir dari Zonatimes.com)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.