Karya: Sudi Setiawan

CERPEN, Sekembalinya Tuan Syarah dari Negeri Wàngka[1], pedagang dari Arab itu lantas menyampai berita yang amat memilukan pada Sultan Johor yang berkediaman di Siak.

Berita nelangsa para masyarakat Wàngka yang di serang orang-orang Melukut[2]; orang-orang bebal pengikut Raja Tidung membuatnya merasa iba.

Hingga-sampai juga pada Sultan Minangkabau, diutuslah seorang Hulubalang yang mumpuni untuk menumpas para perompak itu dari negeri kecil di tepi selat itu.

Berita kedatangan awak rombongan utusan dari kedua kesultanan tampaknya telah terendus oleh penguasa atas sungai Menduk, tuan Patih Panjang Jongor namanya.

Hingga pada masanya, kedamaian yang telah mengakar sejak lama menjadi sebuah pintu neraka  yang mulai naik permukaan kembali.

*

Tuan Syarah memberi isyarat, bahwa di depan sana adalah Sungai Jeruk yang pada masa itu sebagai sungai perniagaan yang besar, penuh dengan lalu-lalang kapal-kapal dari Timur dan Barat namun kini semua seperti sebuah sungai yang layaknya tak pernah di sambangi satu kapal-pun.

Riak-riak air yang dibawa angin menyapa mereka yang bertengger di atas kapal yang agung.

“Tuan, ke mana para orang-orang di sana?” tanya sang pemimpin itu.

Tuan Hulubalang Alam Harimau Garang tertegun melihat kondisi pemukiman yang rata oleh tanah.

Wajahnya kelu, seperti memaknai sebuah pertanda buruk yang ada di depan sana.

“Tuan Hulubalang, setelah hamba tiba yang lalu. Hamba juga tercengang melihat rumah-rumah telah hangus serta rata oleh tanah-tanah. Sepertinya, orang-orang Melukut itu telah membinasakan kampung-kampung yang dekat dengan pantai dan merampok hingga tak tersisa,” jawabnya Tuan Syarah, wajahnya terlihat lebih muram ketika melihat tempatnya dulu berdagang seperti telah hilang dari kenangannya.

Baca Juga  Buku "Buk Geriul": Lokalitas, Politik, dan Religi dalam Cerita Pendek

“Lalu ke mana mereka pergi?” tanyanya sekali, entah kenapa ada keresahan merongrong di hatinya.

“Setelah Raja Tidung dan para perompaknya pergi, kudengar mereka semua lari ke dalam Kelakak[3]. Yang pasti, mencari tempat aman tuan.”

Hulubalang Alam Harimau Garang bergeming, sepertinya ia tahu.

Ketakutan para warga Wàngka telah memaksanya untuk lari sejauh-jauhnya dari manusia-manusia tak beradab itu.

Hulubalang itu memejamkan kedua matanya sejenak. Pikirannya terus saja berputar, apa yang mungkin dia bisa lakukan saat ini.

Baginya perlu adanya muslihat untuk membuat orang-orang pribumi keluar dari persembunyian, agar ia beserta para rombongan sultan dapat mengetahui akar masalahnya.

Setelah bermalam di atas kapal, datanglah sekoci dengan tiga orang di atasnya merapat ke sisi kapal berbendera itu. Kedatangan itu disambut hangat oleh Hulubalang, kemudian mereka saling berpelukan. Pertanda, mereka pada pihak yang sama.

Mereka adalah penguasa di sebelah utara Kuala Menduk, Patih Reksa Kuning berkisah; semenjak mereka tidak bekerja sama dengan penguasa dari Kapoer di selatan Kuala Menduk.

Orang-orang Melukut itu tiba-tiba menyerang kampung dan membawa hasil rampasan ke atas kapalnya. Tak lupa, membawa para gadis jelita dan membakar kampung tak tersisa.

Mendengar itu, Hulubalang naik pitam. Ia bersumpah akan menumpas para orang-orang bebal itu sampai ke liang lahat sekalipun.

Kemarahan itulah membuatnya segara menurunkan jangkar kapal ketika mereka telah memasuki sungai di selatan pulau Wàngka.

Baca Juga  Kau Segalanya, Ibuku

*

Kedatangan utusan kesultanan Johor dan Minangkabau seakan memberi momok menakutkan olehnya, penguasa atas Kapoer; Patih Panjang Jongor.

Orang-orang kampung tahu, pemimpin mereka bersikap congkak dan yang pasti; mereka memandangnya sebagai batu yang ingin terlihat seperti perunggu.

Ketika para pemimpin kampung meminta bantuan kepada Kapoer, Patih Panjang Jongor menolak mentah-mentah dan memperkuat penjagaan di setiap sudut kota agar para penyusup dan orang-orang Darat tidak bisa masuk ke kota ketika para orang-orang Melukut meratakan kampungnya.

“Dato’, tak perlukah kita membantu mereka? Bukan mereka perlu dibantu.”

Kali ini, anak perempuannya yang cantik bernama Dupang itu memberanikan diri untuk mengetuk sedikit hati sang ayah. Masih ada sedikit harapan di mata gadis Melayu itu pada ayahnya.

“Dupang, kau harus tahu. Manusia tidak akan paham ketika tidak pernah mengalami naas yang sama. Dimana mereka ketika kita terserang wabah? Ke mana orang-orang itu ketika kita mengetuk rumahnya ketika perut kita tak henti bersuara?”

Dupang merapatkan bibirnya, menundukkan matanya ke bawah. Enggan menatap sang pemimpin.

“Kau hanya perlu tahu. Kapoer tidak akan pernah berbaik hati kepada mereka-mereka,” tuan Panjang Jongor merapatkan tangannya. Mata yang tajam itu menatap sang anak,

“… berkubu dengan para Melukat bukanlah hal buruk. Dengan demikian, kita bisa menguasai jalur Selat Wàngka sepenuhnya…”

Gugur sudah harapan Dupang, kini ia makin tak tahu hendak ke mana ia nanti. Orang tuanya memilih jalan salah-yang mungkin-ia sendiri tak bisa menyadarkan kesalahan itu.

Baca Juga  Dua Senja dalam Filosofi Waktu

Bagaimanapun, Dupang akan tetap bersanding dengan sang ayah. Jalur Selat Wàngka sudah sejak dahulu ramai oleh orang-orang yang hendak ke Bhumi Jawa.

Selat sempit digunakan oleh orang-orang Kapoer untuk menawarkan keperluan perkapalan, air dan barter barang-barang dari perak maupun kronik-kronik dari tanah liat.

Dengan menguasai Selat Wàngka, Patih berpikir bahwa Kapoer berjaya layaknya peninggalan sesepuhnya dahulu.

Jalan gelap berkomplot dengan Melukut memaksa orang-orang bebal itu untuk melenyapkan kampung-kampung di tepi pantai agar hanya satu-satunya Kapoer yang berdiri kala rumah-rumah panggung itu telah menyatu dengan bumi.

*

Kabar bahwa kapal tuan Hulubalang membawa kemenangan telah tersebar di penjuru negeri, kemenangan melawan para perompak itu menjadi berita besar untuk semua penduduk Wàngka yang girang mendengarnya.

Tapi kabar baik itu membuat hati sang penguasa Kapoer bergelut marah dan tegang. Kehadiran para utusan kesultanan membuatnya iri sekaligus bertinggi hati.

“Biadab! Mereka membunuh semua pengikut Tidung!” Patih panjang Jongor layak seperti kebakaran jenggot mendengar itu. Tuah serapahnya terus saja terlontar tanpa henti.

“Benar Tuan,” jawab sang pengawal setianya.

“Perketat penjagaan kota di setiap sudut. Jangan biarkan orang-orang utusan itu menapakkan kaki di sini. Tak sudi kuterima langkah mereka mengotori kekuasaanku…”.

Dupang lantas termenung, lagi-lagi sikap sang ayah yang keras itu membuat harus bersedih hati.

Sebagai anak sulung yang nanti di peruntukkan sebagai pewaris, dia hanya bisa berserah. Peperangan di matanya sudah terlanjur mulai ketika amarah sang pemimpin telah memuncak.