Hantu Aek
Karya: Sudi Setiawan
DENGAN membawa dua belas joran pancing dari bilah bambu yang sudah diberi kail, cacing-cacing tanah yang sudah kusiap di dalam bekas minuman kemasan, aku bersama Mat Saleh hendak pergi ke lubuk; sebuah aliran sungai yang membendung.
Hari ini masih cukup terang, walaupun aku sedikit gusar karena langit agak gelap, tetapi tak mengurungkan niatku untuk pergi memancing dengannya.
Kami berdua hanya membawa bekal sebungkus rokok berasa pahit dan kopi dalam sebuah termos kecil yang sudah disiapkan oleh istriku-Dini-tadi pagi.
Ku sempatkan sarapan dengan tempe goreng yang disiram kuah sayur lodeh sisa semalam. Jadilah, setidaknya perutku ada isi dari pada tidak sama sekali. Aku juga sudah berpesan kepada Dini, bahwa aku mungkin akan pulang sore hari atau larut malam.
Bisa dibilang aku dan Mat Saleh berteman sejak kecil, dari zaman lampu petromaks masih jadi primadona rumah-rumah dusun sampai listrik-listrik yang mengaliri desa terpencil kami menjadi benderang. Ah, rasanya itu seperti baru kemarin, nyatanya kami sudah tumbuh dewasa.
Di sela-sela kami memancing, setelah beberapa joran bambu kupasang di sudut-sudut perairan yang kuanggap memiliki banyak ikan, aku dan Mat Saleh duduk di atas batang pohon Nyatoh yang sudah lama tumbang.
Merokok sembari berbincang-bincang menikmati aliran Sungai Olim berair kecokelatan yang tenang.
“Leh, ku dengar sekarang lagi musim buaya naik ke atas,” tanyaku kepada temanku yang bekerja sebagai penambang timah. Iya, pekerjaan yang dekat dengan air itu cukup membuatku sebagai temannya khawatir.
“Iya Den. Sekarang lagi musim buaya kawin. Dan agak waswas juga kalo lagi di dalam air lama-lama,” Jawab Mat Saleh menuang kopi hitam di dalam gelas plastik.
“Pantesan. Kata Bapak juga, timah lagi susah dicari.”
“Kalau itu sudah lumrah Den. Kalo buaya naik, pasti timah tiba-tiba hilang dari perut bumi.”
Asap rokok membumbung ke udara, ikut menemani obrolan kami berdua.
“Kok bisa ya?” memasang wajah penuh tanya.
“Bisa aja Den. Jangankan buaya, Kebuyut[1] aja ikut naik ke atas,” Mat Saleh menyeringai.
“Hush. Ngawur omonganmu Leh. Pamali,” Aku menoel bahunya, pertanda jangan membahasnya lagi.
Pria berkumis tipis hanya menyeringai kecil, entah itu puas akan bicaranya tadi atau dia sudah menganggap hal enteng akan perkataannya sendiri.
Jujur, walaupun usia kami sudah di atas tiga-puluhan, mitos keberadaan Hantu Aek seakan sudah menjadi legenda sendiri bagi masyarakat di desa Siar dan sepanjang pemukiman di Sungai Olim.
Ya, makhluk mitologi penunggu sungai itu bagaikan bencana ketika naik ke permukaan.
Kami kembali fokus pada joran bambu yang sedang kami pasang, sesekali mengecek apakah ada kail yang sudah dimakan oleh ikan-ikan dan melupakan percakapan kami berdua sebelumnya. Lagi-lagi, entah kenapa rasanya, aku tak puas dengan obrolan sebelumnya, aku malah membuka lebih dalam lagi.
“Leh, Kamu ingat si Hakim?” tanyaku lagi.
“Yang mati tenggelam itu?”
“Meninggal Leh.”
“Iya iya. Kenapa Den?” Mat Saleh tampak tertarik.
“Kamu yakin itu hanya tenggelam?”
Sebuah pertanyaan yang selama ini mendekam di benakku. Tentang peristiwa ganjil itu. Iya, mungkin kenangan buruk tentang air dan sesuatu yang ada di dalamnya.
“Kamu pasti sudah dengar dari dukun kampung soal kematian si Hakim. Masa kamu lupa.” Ia mengerutkan dahinya, pertanda ia sendiri tidak pernah lupa akan insiden mengerikan itu dan aku malah pura-pura tak ingat. “Kitakan sama-sama di tempat itu Den.”
Dan, luka lama itu tanpa sadar kami buka kembali.
*
Kami kelelahan. Setelah berlari ke sana ke sini-tertawa tanpa henti, akhirnya kami berempat memutuskan untuk mandi di kolong Aek[2] Mentas untuk meredam rasa lelah sekaligus menghilangkan keringat yang membasahi tubuh kami yang kecil.
Aming mengusulkan untuk bermain sampan-sampan di kolong Aek Mentas dengan batang pisang yang ada di pinggiran kolong yang masih terhubung dengan Sungai Olim. Kami sangat menyukai permainan ini.
Permainan yang hanya membutuhkan dari alam dan mudah didapatkan. Setelah merobohkan dua batang pisang berukuran sedang, kami lekas membawanya ke dalam air untuk segera dirakit.
“Den, ikat dengan kuat ya,” perintah Hakim sembari memberiku sebilah tali dari akar-akar rambat yang entah dari mana ia dapatkan.
“Kita ganti-gantian,” usul Mat Saleh.
