Karya: Sudi Setiawan

Sebagai nelayan, kiprahku berteman dengan lautan sudah mendarah daging sejak kecil. Laut yang tenang bak seperti sahabat baik yang menemani kapalku di setiap malam yang gelap di tengah samudra. Tetapi jika sedang pasang air naik bergejolak, laut bak menjelma menjadi neraka yang siap mengantarku kepada yang Maha Esa.

Ah, pekerjaan yang tak seberapa hasilnya ini bisa saja mengambil nyawaku kapan saja, tanpa aku minta sekalipun. Di atas perahu yang membelah lautan luas, kadang-kadang aku tak terlalu sadar telah meninggalkan daratan begitu jauh, pernah sampai ke pesisir barat pulau Belitung yang jauhnya berkilo-kilo meter.

Hingga suatu hari, Dara—anakku—lahir, aku mulai melaut dari jarak yang tak jauh dari daratan. Dan Pulau Ketawai, menjadi patokanku melaut.

Desa kecil di tepi muara sungai-Kurau namanya-tempat aku menetap, rumah panggung, bagan-bagan dan dermaga berdiri di sepanjang sisi sungai yang berwarna kecokelatan gelap.

Dengan perlahan, aku melabuhkan kapal ke dermaga yang dibangun dari kayu yang disusun menjorok ke tengah sungai. Aku tiba di daratan. Baru berapa menit lalu menyandarkan kapal ke dermaga. Semalam, mungkin menjadi salah satu hari yang membuatku terus teringat akan kematian.

Baca Juga  Anak-Anak Putus

Jujur saja. Bagaimana tidak, ombak tiba-tiba mengganas dengan brutal dan terus mencoba mengoyak-oyak perahuku tanpa ampun. Gila, Aku hampir mati semalam hingga bergidik ketakutan jika mengingatnya.

Aku sedikit kecewa. Hasil tangkapan semalam tak begitu banyak, hanya berisi ikan-ikan kecil dan sotong hanya berapa ekor saja.

Dengan susah payah aku mengangkat satu box berisi tangkapan semalam ke daratan tak semangat.

“Sedikit? Tak seperti biasanya?” Mat Joko–tengkulak ikan–mendatangiku yang sedang sibuk membersihkan ikan-ikan segar. Aku hanya mengangguk pelan, sambil mengingat aku dan kapalku hampir kandas digulung ombak ganas.

“Musim lagi tidak stabil, ombak besar dan ikan sulit didapat…,” jawabku teramat letih. Baju sudah basah, entah basah karena keringat atau air asin, aku sudah tidak tahu.

“Setidaknya, aku tidak mati ditelan ombak…”.

Baca Juga  Malaikat

*

“Indung…,” aku memanggilnya, istriku.

“Iyaa bang…,” datang dari arah dapur, yang tak tahu kedatanganku pagi ini. “Baru pulang?”

Aku hanya mengangguk pelan, tenagaku sudah habis selama perjalanan pulang dari laut, menyisakan nyawa. Belum sempat aku merebahkan rasa lelahku ini, suara berbunyi keras sudah memanggilku. Kwh. listrik sudah meminta suapan token pulsa.

“Kenapa token listrik belum dibeli? Dari kemarin terus berbunyi ndung,” tanyaku, meletakkan tas usang bekas anakku lalu berjalan ke arah dapur. Perutku perlu diisi sesuatu karena terasa perih.

“Duit belum Abang beri. Gimana indung membelinya bang,” jawab istriku yang terlihat lelah, wajahnya pucat pasi sambil meletakkan ikan goreng ke atas meja makan.

Senyum lesu tanpa perlu dijelaskan. Benar, aku bahkan belum memberinya uang hasil melaut beberapa hari ini, karena sudah kupakai untuk membeli solar, modal melaut.

Mendengar itu, hati ini terasa terpukul berkali-kali-terasa nyeri. Aku hanya menghela nafas panjang, sebelum akhirnya diriku menatapnya penuh iba.

“Indung…,” memanggil istriku pelan.

Baca Juga  Mimpi si Bungsu Melaut

“Iya bang…”, jawabnya pelan. Mata berbinar seperti rembulan setiap malam yang menemaniku di laut. Aku tersenyum, walaupun hatiku menangis.

“Setelah ini Abang akan pergi melaut. Doakan Abang bawa hasil tangkapan yang banyak…,” aku mengusap rambutnya pelan, seakan memohonnya untuk bersabar untuk ke sekian kalinya.

“Cuaca sedang buruk bang. Jangan memaksakan. Indung khawatir dengan Abang…,” melasnya, memintaku untuk tidak melaut setelah perjamuan pagi ini.

“… Abang tidak pernah terpaksa ndung,” meluruskan ucapannya, bibirku bergetar pelan, aku segera menghabiskan nasi di piring tanpa tersisa. “Dara perlu makan, listrik perlu diisi, kamu perlu beras, minyak, bumbu dapur…,” berusaha menenangkan rasa khawatirnya kepadaku. Setelah memberinya keyakinan, aku bergegas kembali lagi ke dermaga. Satu-satunya cara untuk memenuhi semua itu adalah dengan melaut, pekerjaan yang hanya bisa aku lakukan saat ini. Kembali bertaruh nyawa dengan ombak demi keberlangsungan hidup keluarga kecilku.

“Abang akan pulang sebelum petang… dan makan malam bersama Dara, dan juga istriku…”

*