Oleh: Yan Megawandi

Sekarang kita dengan mudah masih bisa menemukan gula aren yang asli dijual di pasar-pasar di Bangka Belitung. Dinyatakan asli karena memang gula tersebut terbuat dari bahan yang asli dari pohon kabung atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae). Walaupun saat ini tidak sedikit gula aren yang dijual di pasaran merupakan campuran berbagai bahan bukan aren. Yang paling umum biasanya terbuat dari gula pasir yang dimasak ulang dan dijadikan seolah-olah gula aren. Tetapi, ternyata ada pula gula aren yang dibuat dari campuran kecap manis yang sudah kadaluarsa yang dimasak ulang. Mengerikan!

Hal itu disampaikan oleh Dr. Slamet Wahyudi, ahli tentang aren yang juga merupakan widyaiswara Pemprov Bangka Belitung. Ia menyampaikan hal itu ketika melakukan Kegiatan studi tiru di Desa Kota Kapur Kabupaten Bangka belum lama ini. Acara itu diselenggarakan oleh Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI) Babel bersama Pemerintah Desa Kota Kapur. Menurut Slamet, aren merupakan salah satu potensi yang belum banyak digarap masyarakat. Padahal potensinya cukup lumayan.

Baca Juga  Babak Baru Pariwisata Bangka Belitung

Berdasarkan pemantauan di lapangan dan data tanaman aren yang ada di sekitar Pulau Bangka, kita harus khawatir dalam beberapa waktu ke depan kita akan kesulitan mencari bahan baku gula aren. Hal itu dimungkinkan terjadi karena saat ini saja beberapa lokasi pembuatan gula aren telah mulai mengalami kesulitan bahan baku. Misalnya saja yang terjadi di salah satu desa di Bangka Tengah.

Di desa itu mereka terpaksa harus menunggu beberapa hari agar dapat memproduksi gula aren. Artinya mereka tak mampu membuat gula setiap hari lagi seperti di masa lalu. Bahan baku air kabung atau air nira terpaksa diambil dari desa-desa lain di sekitar. Di desanya sendiri mereka tak bisa lagi menemukan pohon-pohon aren yang siap panen, sehingga salah satu solusinya adalah dengan mendatangi desa-desa lain yang pohon arennya masih tersisa.

Kondisi yang sama juga terjadi di desa penghasil gula aren lainnya di Kabupaten Bangka. Salah satu kondisi tersebut dialami pembuat gula aren di Desa Kota Kapur Kabupaten Bangka. Berdasarkan penjelasan salah seorang pembuat gula aren di Kota Kapur, ia mulai merasakan kesulitan yang sama. Menurutnya “Pohon kabung sudah berkurang dibanding dulu. Apalagi sekarang tak ada lagi orang yang sengaja menanam pohon kabung itu,” jelasnya.

Baca Juga  Ekonomi Umat Bangkit Bersama Tokoh Agama

Fenomena yang terjadi di Pulau Bangka agak sedikit berbeda kondisinya dengan yang terjadi di Pulau Belitung. Tanaman aren di pulau ini masih memikili populasi yang lumayan terjaga jumlahnya. Bahkan di beberapa lokasi, masyarakat melakukan penanaman skala kebun rakyat yang cukup luas. Dengan demikian pasokan bahan baku gula aren di Pulau Belitung masih cukup terjaga, bahkan bisa memasok ke Pulau Bangka.

Daerah selatan Pulau Belitung menjadi salah satu sentra gula aren, atau disebut orang Belitung dengan gula kirik. Kawasan-kawasan itu meliputi misalnya Desa Gunung Riting, Dusun Parang Buluh, dan Desa Membalong di Kecamatan Membalong, yang jaraknya sekitar satu setengah jam perjalanan mobil dari Kota Tanjungpandan.

Baca Juga  Lintasan Masa Seorang Guru Besar: Bangka, Bondowoso dan Bengkulu

Menurut Dr. Slamet Wahyudi di depan masyarakat Kota Kapur yang hadir di balai desa saat studi tiru itu, tanaman aren memiliki potensi ekonomi yang cukup menarik karena para penyadap bisa mendapatkan penghasilan setiap hari. Selain itu, tanaman aren berpotensi menjadi tanaman konservasi untuk mencegah erosi lahan.

Prospek Bisnis Tanaman Aren di Bangka Belitung

Provinsi Bangka Belitung memiliki potensi besar untuk pengembangan tanaman aren ini. Aren merupakan tanaman yang memiliki beragam produk dan turunannya yang bernilai ekonomi tinggi, seperti gula aren, gula semut, cuka, nira, dan serat ijuk, yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor. Mengingat tren hidup sehat dan peningkatan pariwisata di Indonesia, bisnis tanaman aren di Bangka Belitung memiliki peluang cerah, terutama jika dikaitkan dengan sektor pariwisata dan pemanfaatan lingkungan yang berkelanjutan.