Buku ‘Pembulak’: Kritik Sosial-Politik dalam Kemasan Sastra

Oleh: dr Faturrachman – Bangka Selatan

Cerpenis dan esais asal Toboali, Rusmin Sopian, kembali merilis buku kompilasi cerpen yang diberi judul “Pembulak”.

Buku tersebut berisi 16 cerpen yang pernah dimuat di berbagai media cetak dan media daring di level lokal hingga nasional. Cerpen-cerpen tersebut ditulis pada Januari 2024 – Juni 2025, dengan mengangkat tema politik dan sosial.

Dari perspektif politik, Pak Rusmin mengupas fenomena bobrok yang sering meresahkan masyarakat. Contohnya seperti oknum pemimpin pembohong yang mengabaikan transparansi dan tanggung jawab publik.

Budaya feodalisme dan politik patronase melalui mentalitas ABS (Asal Bos Senang) di kalangan birokrat. Praktik jual-beli kasus oleh mafia hukum dalam peradilan tipikor (tindak pidana korupsi). Demokrasi elektoral yang cacat dengan penyebaran berita hoaks, money politics, kampanye teror, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Obituari: Selamat Jalan Guru Kami Bu Kurniati

Tidak hanya mengkritisi perilaku kelompok elit dan institusi pemerintahan, penulis produktif dari Bangka Selatan ini juga mengangkat dinamika psikososial di kalangan rakyat jelata, seperti perbuatan main serong, prostitusi, sifat pelit, watak besar cakap, pelestarian alam, dan lain-lain.

Beraneka cerita bertopik berat tersebut disajikan dengan bahasa yang ringan dalam jumlah halaman yang relatif tipis (sekitar 154 halaman), sehingga mudah dipahami berbagai kalangan pembaca dalam sekali duduk.

Plot ceritanya sederhana dan familiar di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Buku ini dapat dibaca mulai dari bab berapapun, karena masing-masing bab merupakan cerpen yang berdiri sendiri dan sarat nilai yang bisa dijadikan bahan refleksi etik.

Baca Juga  Menelisik Eksepsi Unsur Gugatan Prematur

Beberapa cerpen bahkan mempunyai nuansa ganjil dan konflik yang absurd. Saya kasih sedikit spoiler cerpen ‘Penjual Kesedihan’. Di sebuah desa, para penduduk menderita kesedihan yang ditularkan dari seorang laki-laki.

Kesedihan itu menyebar cepat dari hati ke hati bak epidemi. Orang desa sudah melapor ke pak camat dan pak wali kota agar segera ditindaklanjuti, namun tiba-tiba kesedihan itu hilang dengan sendirinya. Ketika ia muncul kembali, penduduk malah cuek seolah sudah terbiasa dilanda kesedihan.

Bagaimana? Apakah cukup absurd?

Salah satu nilai lebih buku ini adalah penyisipan berbagai kosakata Bahasa Melayu Toboali yang bahkan mulai jarang diucapkan penutur asli, seperti ngasan, ngerahul, bebulak, ancok lilot, dan lain-lain.

Baca Juga  Model Pembelajaran Berbasis PjBL untuk Meningkatkan Kompetensi Berpikir Kritis Peserta Didik

Eksposur kosakata Melayu Toboali dalam cerpen ini setidaknya memberikan 2 manfaat. Pertama, upaya pelestarian bahasa daerah sebagai produk budaya dan kearifan lokal. Kedua, mempopulerkan eksistensi bahasa Melayu Toboali kepada kalangan pembaca skala nasional.

Oleh karena itu, saya cukup mengapresiasi Penerbit Galuh Patria yang bersedia menerbitkan naskah penulis dari daerah luar pulau Jawa seperti Pak Rusmin Sopian.