Oleh: Sudi Setiawan

Di pernikahan yang sakral, aku mengikrarkan janji. Bahwa aku akan sehidup semati, bahkan sesurga bersamanya. Ikrar janji suci bahwa aku akan tetap mencintai semua hal tentang dirinya, rupanya, senyumnya dan apa pun kekurangannya. Aku masih tak percaya, kisah bahtera pernikahan kami baru saja dimulai. Drama-drama rumah tangga yang akan kita mulai, kisah yang mungkin tiada hari tanpa kebersamaan.

Kopi hitam nan pahit masih hangat menguap ditemani pisang goreng sisa kemarin sore membuatku berleha-leha di hari liburku, tentunya dirinya menyibukkan diri melipat baju seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Aku mengunyah pisang goreng pelan, menatap seseorang yang kini selalu menemani malam-malamku yang sebelumnya sendiri. Ah, rasanya seperti ini rasanya hidup bersama orang tercinta. Bau Kembang Kembar Mayang tercium harum.

“Kenapa?” Menatapku; memicingkan kedua matanya, mengangkat sebelah alisnya dengan tangan yang sibuk merapikan baju-baju di ruang keluarga. Aneh, bagaimana bisa aku jatuh cinta dan juga menikahi wanita yang selama ini tak pernah aku pikirkan untuk hidup bersama. Apa aku kena pelet? Dengan gaya-gaya menjelma bapak-bapak kompleks perumahan, aku menaikkan kaki kiri ke atas kursi. “Istriku kok makin cantik ya….”, entah ini memuji atau terpesona, lebih mirip aku lagi seperti orang yang kesambet. Aku juga tidak tahu. “Kesambet setan dari mana?” Bukan terpesona akan ucapanku, malah seperti mencurigai suaminya sendiri.

Baca Juga  Puisi kepada Desember

Aku beranjak dari kursi, meninggalkan kopi hangat di atas meja sendirian. Berjalan perlahan, ikut lesehan bersamanya-istriku. Aku diam dulu, meratapi semua hal tentang dirinya. Matanya, hidungnya, alisnya, bahkan pipinya yang semakin menyembul. Dan, tanganku terlalu gemas untuk tidak menyentuh pipinya itu. Plak, tangan kananku menyentuh pipinya itu pelan-pelan; sebenarnya tidak benar-benar pelan.

Lagi-lagi, ia memicingkan kedua matanya. Pertanda dia tidak menyukai aksi nakal ku ini. “…. Ini tangan minta di soto kah?” Sahutnya penuh ancaman, cukup membuat bulu kuduk merinding ketakutan. Sudahlah, istrimu ini bukan tipe yang romantisme dalam bahtera rumah tangga seperti sinetron-sinetron ikan terbang.

Perlakuan manis hanya akan membuat sedikit aneh dan menaruh curiga. Dengan senyum yang ku paksa-datar menghela nafas pendek, aku berucap “istriku romantis dikit kenapa.”

*

Aku masih ingat, bahkan ini bakalan jadi ingatan yang ku bawa sampai mati. Ingatan termanis dalam hidupku. Dua puluh tujuh tahun ke belakang, setelah melepas masa lajang yang teramat panjang dan melelahkan. Pencarian jati diri dan pekerjaan. Hidup dengan penuh pertanyaan-pertanyaan lautan manusia dan tetangga  perihal status diriku yang sudah melajang sejak lahir. Sial. Aku tidak menyukai fakta ini.

Aku Sekala Purnomo. Kelahiran berdarah Jawa dari romo dan ibu. Sejak kecil tinggal di Solo Kota bersama orang tua, Kang Mas Wiryo dan Adimas Bhumi. Sejak kecil, aku selalu diajari tentang tata krama, sopan santun dan kejujuran. Memegang kuat tradisi Jawa sebagai pegangan hidup.

Baca Juga  Serial Keluarga Ummi: Lampu Ayam

Setelah Kangmas mempersunting istrinya yang bertempat tinggal di Jakarta, ibu selalu berpesan agar aku mempunyai istri yang berasal dari Solo. Ya alasannya sederhana, dekat dan tak perlu acara mudik atau pulang kampung tiap tahun karena berada di lingkungan yang dekat. Aku sendiri juga berpikir seperti itu dan sayangnya aku malah terpikat dengan paras cantik gadis polos Melayu yang sangat tak ku hindari.

Dia istriku, gadis Melayu yang terkenal keras dan ulet. Berbicara kasar; bukan dalam hal ucapan melainkan intonasi dan dialek, bergerak cepat dan percaya diri. Darah Sumatera terasa deras mengalir di setiap lekuk tubuhnya. Tentu ini yang ku sukai. Melati Larasti namanya, alumni UMS.

Awalnya kriteria jodohku adalah orang Solo aslinya. Wajib orang Solo dan berkediaman di Solo Kota. Sesuai dengan titah kanjeng ndoro Yatmiati yang meminta calon mantu orang Solo. Alhasil, tuhan punya rencana lain, jodohku malah lebih jauh dari Jakarta lantas menyeberangi lautan antar pulau, walaupun kota Solo adalah tempat pertemuan kami berdua.

Laras; panggilannya, sebelum menikah denganku. Seorang mahasiswa yang aktif kegiatan kampus, anak BEM dan gemar olah tubuh taekwondo. Ini sudah cukup jelas, jadi bisa dibilang aku ini penakut istri. Jujur saja. Tak perlu di bahas soal itu. Jika tuhan memberinya kesempurnaan, lalu mengapa juga menciptakan kekurangan? Itu adalah rahasia Ilahi. Laras juga manusia biasa, di situlah aku melengkapi semua kekurangannya.

Baca Juga  Aku Sang Pujangga dari Desa, Nona

Sebelum hubungan kami menjadi sepasang suami istri, dia secara terus terang dari lubuk hatinya membicarakan soal ini kepadaku. Awalnya, ku pikir ini hanya perihal soal bulanan, rumah atau bahkan kebutuhan pasca menikah. Nyatanya itu semua belum seberapa, ini benar-benar menjadi keputusan yang harus aku ambil.

“Aku tidak akan punya anak. Bukan karena aku tidak mau, Sekala. Dua tahun lalu, setelah aku lulus aku harus melakukan operasi angkat rahim. Dan kamu tahu itu…,” ungkapnya bernada getir menusuk hatiku.

“Laras…,” panggilku, perempuan itu sejenak menjadi lemah tak seperti sebelumnya.

“Aku takut. Aku tak bisa menjadi istri yang baik dan seharusnya melahirkan anak-anak dari suamiku nanti…,” suaranya semakin dalam, aku tahu ini bukan masalah kecil. Bagi dia dan hubungan kita nanti.

“Aku mencintaimu, aku tidak pernah berharap apa-apa darimu. Anak? Kita bisa membicarakan itu nanti…”

“Tapi Sekala-”

“Melati Larasati. Aku hanya ingin kamu menjadi istriku, hidup bersamaku. Aku bahkan tak pernah memikirkan hal buruk tentangmu, apa pun itu…. Percayalah”, aku menatapnya. Pipinya basah dengan air matanya, Laras bukan itu kemauanku.

“Tidak masalah, jika nanti aku tidak bisa memiliki anak denganmu. Tapi tenanglah, hidup menua bersamamu itu lebih dari cukup.”